JUMAT, 12 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Personil Kodim 0421 Lampung Selatan (Lamsel) terus melakukan pengawasan terhadap distribusi pupuk yang akan digunakan oleh para petani di wilayah Kabupaten Lampung Selatan. Upaya pengawasan tersebut dilakukan berkoordinasi dengan pihak Dinas Pertanian, masyarakat serta pihak yang berhubungan dengan pendistribusian pupuk yang digunakan untuk nutrisi tanaman tersebut.


Upaya tersebut dilakukan setelah Kodim 0421/LS setelah dua kali melakukan berhasil menggagalkan pendistribusian pupuk selama kurun dua bulan diantaranya penggrebekan di wilayah Kecamatan Ketibung dan Kecamatan Rajabasa. Berdasarkan catatan Kodim 0421/LS menggagalkan pengiriman pupuk palsu seberat 4 ton dan pupuk oplosan sebanyak 3,5 ton.

“Berdasarkan catatan kita selama beberapa bulan sudah berhasil mengamankan pendistribusian pupuk palsu dan pupuk oplosan dari subsidi menjadi non subsidi” ungkap Pasi Intel Kodim 0421/LS saat menunjukkan barang bukti pupuk oplosan yang disimpan di Makodim, Jumat (12/8/2016)

Ia mengaku personil Kodim 0421/LS  melakukan penggerebekan terhadap sebuah kios di Dusun 2, Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa, karena diduga menjadi tempat pengoplosan pupuk. Dari penggerebekan itu, petugas mengamankan dua orang dan menyita sebanyak 70 sak atau sebanyak 3,5 ton pupuk oplosan SP 36 bersubsidi yang diganti menjadi non subsidi.

Dandim 0421 Lamsel, Letkol Art Untoro Hariyanto melalui Pasi Intel Kapten Inf Yudi Ardi, mengatakan penggerebekan itu dilakukan berdasarkan laporan dari masyarakat yang curiga Kios Berkah Tani di Kecamatan Rajabasa digunakan untuk mengolah pupuk bersubsidi menjadi pupuk non subsidi.

Ia mengungkapkan informasi itu diterima pada anggota unit Intel kemudian melakukan koordinasi dengan Wadanramil Kalianda untuk menyelidiki dan setelah dilakukan hasilnya personil Kodim langsung melakukan penggrebekan.

Ia menjelaskan, dari penggerebekan kios milik HRD (35), berhasil diamankan sebanyak 70 karung pupuk yang telah dioplos. Bersama dua orang tersebut juga berhasil diamankan untuk dimintai keterangannya, yakni pemilik kios dan Ronal.


Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, kata dia, pengoplosan pupuk subsidi jenis SP 36 dicampur dengan pupuk organik menghasilkan pupuk jenis TSP non subsidi.  Berdasarkan pengakuan kedua orang itu, mereka disuruh oleh Agus. Saat ini, barang bukti ada di Makodim dan nantinya akan kita serahkan ke pihak kepolisian.

Sementara itu, dari informasi yang didapat, kegiatan pengoplosan itu meliputi pupuk ZA Petrokimia Gresik diwarnai dan diganti karung menjadi Sasco TSP. Selain itu, pupuk SP 36 subsidi dioplos dan ganti karung menjadi KCL Mahkota.

Selain pupuk tersebut pihak Kodim 0421/LS juga melakukan pengembangan terhadap pengoplosan pupuk yang sudah didistribusikan ke wilayah lain di Provinsi Lampung Sebanyak 8 ton bahkan telah didistribusikan di sebuah toko yang akan dijual ke petani.

Berdasarkan keterangan pelaku,pupuk tersebut sengaja akan dijual untuk dijadikan pupuk non subsidi dengan merk KCL, mahkota dan TSP Sasco untuk dipasarkan ke luar wilayah dengan harga variatif antara Rp150.000,- hingga Rp225.000,- perkilogram.

Kios tani milik AM (35)  bernama Berkah Tani merupakan penampung pupuk subsidi untuk wilayah tiga desa diantaranya Desa Kunjir, Desa Way Muli dan Desa Batu Balak.

Selain melakukan pengamanan pupuk oplosan sebelumnyaa Kodim 0421/Lampung Selatan juga berhasil menggagalkan pengiriman pupuk palsu seberat empat ton dari Katibung, Lampung Selatan, menuju Kabupaten Lampung Utara. Pengiriman pupuk palsu tersebut, digagalkan oleh anggota Unit Intel Kodim 0421 Lampung Selatan, Sabtu (4/6) sekitar pukul 01.00 WIB di daerah Kecamatan Katibung.

"Pupuk tersebut diamankan hanya bungkusnya saja yang pupuk, tapi isinya bukan pupuk melainkan sejenis pasir yang bahkan saat direndam di air tidak larut" ungkap Komandan Kodim 0421 Letkol Armed Untoro Hariyanto melalui Pasi Intel Kapten Inf Yudi Ardhi.

Dia menjelaskan, penangkapan pupuk palsu tersebut, bermula dari pengintaian anggota. Yudi mengatakan, anggotanya mendapat informasi ada kendaraan mobil Colt Diesel BG 8470 JA membawa pupuk jenis SP sebanyak 36 karung.

"Anggota kami melakukan pengintaian dan penyelidikan, ternyata isi dalam karung itu bukan aslinya dan benang jahitnya sudah diganti. Pupuk itu dari wilayah Lampung Selatan dan akan dipasarkan di daerah Lampung Utara," jelasnya.


Berdasarkan pengamatan adanya praktek praktek nakal pengoplosan pupuk tercatat dilakukan oleh kios kios pupuk besar karena sistem penjualan pupuk berdasarkan jumlah gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang ada di wilayah tersebut. Padahal faktanya kebutuhan akan pupuk harus berdasarkan adanya catatan Rencana Dasar Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) pupuk bersubsidi.

Tindakan pengoplosan bahkan pemalsuan pupuk membuat petani dihimbau agar lebih berhati hati dalam membeli pupuk dari kios petani untuk pemenuhan kebutuhan pupuk bagi lahan pertanian.

“Sebaiknya memang petani harus mewaspadai karena ada kemungkinan kios nakal lainnya juga melakukan aksi serupa meski belum terungkap dan akan terus diselidiki,” ungkap Yudhi.

Sementara itu terkait kasus pendistribusian pupuk oplosan dan pupuk palsu dengan kondisi fisik karung pupuk telah dijahit dengan cukup rapi menyerupai pupuk dari pabrikan beberapa gabungan kelompok tani (Gapoktan). Amir, salah satu petani mengaku kuatir jika ada kios lain yang melakukan pengoplosan pupuk tersebut. Terutama pengawasan pupuk tersebut merupakan tugas dari Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) Kabupaten Lampung Selatan.

Kepala Desa Kunjir,Abdul Rohim,mengakui justru mengetahui ada aktifitas warganya setelah pihak Kodim 0421/LS mengamankan kios penjual pupuk tersebut. Ia berharap kejadian tersebut tidak merugikan petani di wilayah desa tersebut karena ditemukan kios tersebut dijual di wilayah lain.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: