MINGGU, 21 AGUSTUS 2016

JAKARTA, TMII --- Festival Merah Putih " Toedjoeh Poeloeh Satoe " Pekan Agustus 13-21 Agustus 2016 yang diadakan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dengan acara puncak pada tanggal 20 Agustus 2016 berupa Pameran seni dan Parade Tarian Nusantara tingkat nasional yang diikuti oleh 32 Provinsi nusantara menyisakan banyak cerita. Dari beberapa kontingen yang turut ambil bagian dalam parade tari nusantara, salah satu yang cukup menarik jika dilihat dari persiapan tim adalah dari kontingan Jawa Timur.


Tim kesenian Jawa timur dalam hal ini diwakili penanggungjawab rombongan Lilis Sukartini, Kepala Seksi Bidang Kesenian Disbudpar Jawa Timur menceritakan usaha para pejuang seni, baik dari pelaku seni hingga jajaran pemerintah provinsi untuk terus menjaga eksistensi kesenian berikut konsistensi pembinaan khususnya seni dan budaya khas Jawa Timur di bumi nusantara.

Inti dari semuanya adalah para pelaku seni, dalam hal ini adalah secara umum tanpa membedakan usia atau istilahnya lintas usia. Tanpa mereka maka sebuah kesenian tidak akan dapat ditampilkan apalagi dapat dilestarikan. Setelah ada pelaku seni maka harus diikuti dengan regenerasi, karena tanpa regenerasi maka seni dan budaya suatu bangsa atau suatu daerah nantinya akan mudah terkikis habis secara perlahan lalu punah.

Oleh karena itu perlu adanya campur tangan pemerintah secara total dalam menangani seni dan budaya. Khususnya seni dan budaya Jawa timur, penanganan yang dilakukan selama ini adalah dengan melakukan edukasi dan pendampingan dalam hal pematangan materi. Keduanya dilakukan secara bersamaan dengan satu tujuan yaitu sebuah regenerasi.

"Untuk festival di Taman mini ini saja kami sudah dari bulan April 2016 mengadakan persiapan. Dan persiapan kami melibatkan proses pemilihan dari seluruh pelaku seni yang ada di 38 kabupaten kota seluruh Jawa timur," ungkap Lilis kepada Cendana News.


Masih menurut Lilis, Pemprov Jawa timur dalam hal ini Dinas kebudayaan dan Pariwisata sampai harus menggelar festival internal khusus untuk para pelaku seni yang ingin terpilih tampil di Taman mini. Para pelaku seni yang terlibat atau ikut berpartisipasi adalah dari lintas usia baik dari penari, penata tari, penata lagu, sampai grup musik.

Setelah terpilihnya tim seni Lumajang untuk mewakili Jawa timur dalam Festival Parade tari nusantara 20 Agustus 2016 di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta membawakan " Tari Mahameru ", maka inti selanjutnya dari pelestarian seni dan budaya bangsa ini baru saja dimulai. Maksudnya adalah pelestarian seni dan budaya bangsa ini bukan sekedar dari mengikuti festival nasional, akan tetapi apa yang akan dilakukan selanjutnya setelah festival tersebut.

Pembinaan Tim Disbudpar Jawa timur khususnya dari Seksi Kesenian bukan hanya bertujuan mempersiapkan sebuah tarian tradisional untuk pementasan saja, melainkan setelah pementasan maka generasi-generasi baru yang muncul saat itu harus bisa pula mendapat tempat di tengah masyarakat dalam kapasitas mereka sebagai seorang pelaku seni.

"Intinya begini, setelah festival Taman mini ini, mereka kami berdayakan sebagai duta-duta seni dan budaya Jawa timur ke seluruh wilayah nusantara hingga mancanegara dengan membuka sekaligus memberi kesempatan mengikuti event-event tertentu. Sambil potensi mereka terus kami karyakan, maka dalam keseharian mereka sebagai bagian dari masyarakatpun mereka terus kami berikan pembekalan sehingga kedepannya sangat diharapkan bahwa pengalaman-pengalaman yang didapat bersama kami baik itu dari perjalanan pentas kesenian maupun pembinaan internal secara materi maka mereka bisa menjelma menjadi instruktur seni di daerahnya masing-masing," urai Lilis kepada Cendana News.

"Satu perspektif berbeda akan terbentuk dengan sendirinya dari para pelaku seni ini, bahwa menjadi pelaku seni itu bisa menjadi pilihan karir. Bahwa menjadi pelaku seni bukanlah berbicara kosong tentang hidup susah dan bermacam kenegatifan lainnya. Menjadi pelaku seni adalah bahagia dan bisa menjadi sandaran hidup pula," imbuhnya.

Oleh karena itu lanjut Lilis, disinilah peran nyata pemerintah harus terlihat, yaitu dalam bentuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada pelaku-pelaku seni mengekspresikan diri. Diawali memilih yang terbaik dari yang ada, lalu membina mereka secara profesional, mendampingi mereka sampai mereka siap dengan semua materi yang ada, setelah itu saat mereka memutuskan kembali ke masyarakat sebagai seorang pelaku seni maka mereka akan menjadi pelaku seni yang secara tidak langsung akan melakukan regenerasi dilingkungannya masing-masing.

"Jadi ini berbicara tentang siklus alami yang difasilitasi. Anda ingat grup musik Klanting bukan? mereka dari pengamen jalanan, lalu mereka daftar ikut ajang pencarian bakat indonesia, lolos, dan menang. Sejak lolos dan menangnya mereka, maka mereka mengenal pembinaan profesional dari pelaku dunia entertainment tanah air. Akhirnya selepas mereka dari sana, mereka melanjutkan menjadi duta-duta seni didaerah masing-masing yang profesional secara mandiri. Lihat sekarang, di Surabaya banyak lahir Klanting-Klanting baru dengan ide-ide baru yang seringkali lebih kreatif dari pendahulunya. Itulah contoh kejadian nyata dari siklus serta regenerasi yang saya maksudkan," pungkasnya.

Memberi kesempatan kepada seniman lintas usia untuk berkembang dalam karya serta mendapatkan kesejahteraan bukan perkara mudah. Butuh totalitas pemerintah dalam wujud konsistensi pembinaan. Dengan begitu, dalam pengembangannya hal ini dapat meyakinkan benak para generasi muda bahwa seniman itu dapat menjadi sebuah profesi. Bukan sekedar profesi yang sembarangan, akan tetapi sebuah profesi yang profesional di tanah air.
[Miechell Koagouw]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: