MINGGU, 28 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Meski hanya terbuat dari bahan-bahan yang umum digunakan dalam pembuatan kue seperti tepung terigu, susu dan telur, namun kue yang disebut kue kembang waru asal Kotagede, menjadi unik karena sejarahnya. Kue tersebut sudah ada sejak zaman pendudukan Belanda di zaman Kerajaan Mataram Hadiningrat.

Ari Wastu Jatmiko Koordinator Festival

Kue Kembang Waru, merupakan salah satu jenis jajanan pasar tradisional asal Kotagede yang lama terlupakan. Keberadaannya tersisih oleh beragam makanan ringan atau jajanan pasar lainnya yang terkesan modern. Karenanya, masyarakat di Desa Prenggan, Kotagede, kemudian menggelar Festival Kue Kembang Waru, sebagai upaya mengenalkan kembali kue yang diyakini sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Koordinator festival, Ari Wastu Jatmiko, ditemui di sela acara tersebut pada Miinggu (28/8/2016) mengatakan, kue itu disebut kue kembang waru karena bentuknya seperti kembang pohon waru yang hingga kini pohonnya masih banyak ditemui di Kotagede. Kue itu, katanya, sudah ada sejak zaman pendudukan Belanda di zaman Kerajaan Mataram Hadiningrat.

Proses mencetak adonan kue kembang waru
"Kue Kembang Warung itu pada zamannya menjadi hidangan favorit bagi para noni-noni Belanda dan bangsawan di waktu sore hari sembari minum teh", ujarnya. 

Kue Kembang Waru yang berasa manis dan empuk, lanjut Ari, memang cocok dijadikan hidangan ringan di waktu santai. Bahan membuatnya sederhana, hanya dari tepung terigu, telur, mentega, gula dan lainnya. Bahan-bahan itu dibuat adonan, kemudian dicetak dan dipanggang dengan oven tradisional berbahan bakar arang.

Warga menikmati kue kembang waru
Seiring perkembangannya, beberapa pengrajin kue kembang waru juga ada yang telah menggunakan oven modern. Namun demikian, kata Ari, kue kembang waru yang dibuat secara tradisional dengan bahan bakar arang kayu dirasa lebih legit. 

Festival Kue Kembang Waru yang baru pertama kali digelar itu, banyak menarik wisatawan domestik dan luar negeri. Pihak panitia pun sengaja mengundang beberapa wisatawan dari Jepang dan Perancis. Dalam perhelatan itu, pihak panitia menyediakan sebanyak 2016 kue kembang waru yang bisa dinikmati gratis oleh para pengunjung.

"Harapannya dengan festival ini, masyarakat kembali mengenal kue kembang waru sebagai salah satu jenis makanan asli dari Kotagede yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu", pungkas Ari. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: