SELASA, 30 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Pengembangan sektor peternakan terus dilakukan di Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung. Melalui Dinas Peternakan, pemerintah terus berupaya dan bertekad untuk meningkatkan populasi ternak sapi jenis PO dalam rangka menjadikan daerah itu sebagai salah satu lumbung ternak sapi di Indonesia.


Menurut Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lampung Selatan, Cecep Khaerudin, Lampung Selatan juga telah menjadi daerah percontohan pusat pembibitan sapi PO oleh Kementerian Pertanian. Salah satu hasil ternak yang ada di Lampung Selatan berupa jenis sapi PO yang cocok untuk warga yang berprofesi sebagai petani sekaligus peternak. Disamping itu masyarakat juga lebih menyukai sapi yang dikawinkan dengan bangsa yang sejenis.

“Beberapa wilayah di Lampung Selatan terutama di Kecamatan Tanjungsari merupakan pusat pengembangan sapi PO yang cocok dengan daerah Lampung dan bahkan menjadi salah satu daerah sentra ternak sapi di Lampung Selatan,”ungkap Cecep Khaerudin, Selasa (30/8/2016)

Pengembangan sapi PO menurutnya dikarenakan sapi jenis tersebut memiliki keunggulan yang lebih dibandingkan sapi jenis lain. Diantaranya; memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan (pakan, iklim) yang kurang baik;  memiliki resistensi (daya tahan) yang baik terhadap penyakit;  memiliki daya reproduksi yang baik; pertumbuhan relative cepat; sapi tipe dwiguna (penghasil daging dan ternak pekerja); sudah terbiasa dibudidayakan oleh para peternak pada umumnya; presentase karkas (45,26 persen) dan kualitas daging baik; dan 7) mudah perawatannya dan mempunyai nilai ekonomi tinggi.

Menurut Cecep yang sebelumnya pernah menjabat Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten setempat, jenis sapi PO telah ditetapkan sebagai salah satu rumpun sapi lokal Indonesia dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2841/Kpts/LB.430/8/2012 tentang Penetapan Rumpun Sapi Peranakan Ongole. Untuk mendukung usaha pembibitan sapi PO, juga telah dibuat standar bibit sapi PO dengan nomor SNI 7356:2008. Standar ini ditetapkan sebagai acuan bagi peternak dalam upaya mengembangkan sapi PO baik kualitas maupun kuantitasnya, karena keberhasilan pengembangan sapi PO dipengaruhi oleh kualitas ternak bibitnya.

Sapi Peranakan Ongole (PO) sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sapi PO yang dikenal oleh masyarakat sebagai “sapi putih” merupakan hasil persilangan antara sapi betina berwarna putih asal Jawa dengan sapi jantan jenis Sumba Ongole (SO) asal Sumba-Nusa Tenggara Timur. Saat ini sapi murni mulai sulit ditemukan, karena telah banyak disilangkan dengan sapi eksotik, sehingga sapi PO diartikan sebagai sapi lokal berwarna putih (keabu- abuan), berkelasa dan bergelambir. 

Sapi PO dikenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan, memiliki tenaga yang kuat dan aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah beranak, dan jantannya memiliki kualitas semen yang baik.


Kabupaten Gunung Kidul Studi Banding Peternakan Sapi PO

Potensi sapi PO yang ada di Lampung Selatan bahkan menjadikan daerah tersebut sebagai tujuan studi banding dari masyarakat Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi DI Yogyakarta.  Anggota DPRD Kabupaten Gunung Kidul datang berkunjung di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) untuk belajar ilmu peternakan. Menurut Ketua DPRD Gunung Kidul, Suharno, Kabupaten Lamsel merupakan salah satu yang memiliki program unggulan peternakan sapi PO di Sumatera.

Menurutnya Lampung Selatan juga ditunjuk sebagai salah satu daerah potensi peternakan sapi PO oleh pemerintah pusat sehingga studi banding yang dilakukan oleh anggota DPRD Gunung Kidul dilakukan untuk mengetahui lebih jauh seperti cara pengelolaan peternakan sapi PO.

“Apa yang kami dapat dari sini, akan kami kembangkan di daerah kami nantinya terutama sapi juga cocok dikembangkan di wilayah kami,”ungkapnya .

Salah satu program yang akan diadopsi, adalah mengenai pendaftaran hewan ternak sapi yang ada di Lampung Selatan. Sehingga, kepemilikan sapi masyarakat bisa diketahui oleh pemerintah pusat.

“Lampung Selatan sebagai pilot project kartu ternak, tentunya kami ingin mengetahui lebih jauh bagaimana mekanismenya. Seperti apa peraturan daerahnya harus dibuat.

Sementara itu Kepala Dinas Peternakan Lampung Selatan Cecep Khairudin, kabupaten Lamsel ditetapkan Menteri Pertanian sebagai daerah pembibitan dan pelestarian kawasan sapi PO. Dan saat ini satu-satunya kabupaten di wilayah Sumatera sudah memiliki kartu ternak yang dibagikan kepada para pemilik sapi.

"Kartu tersebut dapat digunakan untuk kegiatan pelayanan kesehatan sebagai kartu ternak agar sapi sapi yang dipelihara peternak terpantau kesehatannya,"ungkap Cecep.

Cecep menambahkan, kartu ternak berguna sebagai keabsahan siapa pemilik sapi dan sebagai pelayanan pemerintah kepada para peternak sapi. Pemberian kartu ternak dilakukan tersebut guna meminimalisir kasus pencurian sapi yang hendak dibawa ke luar wilayah Lampung Selatan dan memudahkan pendataan peternak sapi yang ada di Lampung Selatan.

Selain pengembangan peternakan sapi PO Dinas Peternakan setempat bahkan menyusun kebijakan bagi pemilik ternak untuk tidak menjual sapi betina produktif terutama menjelang Idul Adha dimana permintaan sapi meningkat. Pelarangan penjualan sapi produktif tersebut merupakan langkah menjaga populasi sapi di wilayah Lampung Selatan yang merupakan sentra sapi PO.
[Henk Widi]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: