MINGGU, 14 AGUSTUS 2016

JAKARTA --- Diawali pada tahun 1970 ketika Sukirman atau akrab disapa Bang Ntong masih menjadi sosok muda memulai petualangan di dunia kesenian Betawi di Jakarta. Berbekal pengetahuan seni dari sang ayah (Alm) H. Kisam Dji'un serta darah seni yang begitu kental mengalir didalam setiap ruas arteri dan nadi tubuhnya, ia mulai menekuni Kesenian Topeng Betawi untuk kemudian berkembang menjadi Kesenian Gambang Kromong melanjutkan kiprah sang ayah.

Sukirman atau akrab disapa Bang Ntong, Seniman Betawi, 
Pahit getir panggung blantika seni budaya Betawi sudah banyak diambil hikmah olehnya. Dari situ Bang Ntong semakin bertumbuh menjadi sosok pemerhati kesenian Betawi, Koreografer, dan pencipta tari tradisional Betawi.

"Saya banyak mengawali sekaligus mendapat inspirasi dengan mengikuti serta mengamati setiap kali ayah saya pentas atau istilah kami saat itu ngamen," kenang Bang Ntong.

Dari perjalanan panjang yang dilaluinya, dipertengahan tahun 2000 ia pun melahirkan sebuah karya tari tradisi kreasi modern khas Betawi Nandak Ganjen. Dua tahun setelah itu tepatnya tahun 2002, kembali ia terinspirasi dengan kisah nyata sosok wanita Betawi dari jaman kolonial di Batavia (Jakarta) abad 18 atau sekitar tahun 1800-an yakni Nyai Dasima seorang gadis dusun kuripan, Cise'eng, Parung Bogor.

Sinopsisnya, Dasima seorang gadis cantik mempesona asal Kuripan Cise'eng dipersunting (tanpa dinikahi) bangsawan Belanda di Batavia bernama Edward William. Status Dasima hanya menjadi istri tidak sah, atau dijaman tersebut dikenal dengan istilah gundik. Oleh karena itu, oleh masyarakat Betawi di sekitar daerah Pejambon tempat tinggal Edward William disematkan panggilan 'Nyai' di depan nama Dasima.

"Perempuan yang dijadikan gundik tanpa dinikahi memang kami sebut dengan istilah Nyai," tambah Bang Ntong.

melanjutkan sinopsis, setelah tinggal di Batavia bersama seorang bangsawan sohor dari Belanda, maka Dasima atau Nyai Dasima menjelma menjadi seorang wanita cantik mempesona yang kaya raya. Setiap laki-laki lokal yang melihat dirinya akan takjub dan turut menaruh hati. Akhirnya hadir sosok Samiun seorang tukang dokar yang dengan berbagai macam cara ingin mendapatkan Nyai Dasima (termasuk lewat ilmu hitam atau guna-guna).

Alhasil, akibat guna-guna dari Samiun maka Nyai Dasima menerima cinta Samiun dan rela di madu menjadi madu berikutnya dari Samiun atau istri mudanya. Karena paras dan kekayaan yang dimiliki Nyai Dasima ia pun dibenci oleh Ibu mertua dan istri pertama Samiun. singkat cerita, Ibu mertua dan istri pertama Samiun berencana menyingkirkan Nyai Dasima. Samiun terprovokasi untuk kemudian menyewa seorang pembunuh bayaran dari daerah Kwitang (asal nama ini dari Kwee Tang, seorang pendekar Tiongkok terkenal di Batavia kala itu) demi menghabisi Nyai Dasima.

Di malam naas Nyai Dasima, ia sengaja diajak Samiun menyaksikan pertunjukkan rakyat Gang Ketapang (sekarang didepan Sawah Besar, Jakarta). Nyai Dasima berdandan sangat cantik sambil mengenakan busana terbaiknya demi membahagiakan Samiun, namun ditengah perjalanan Nyai Dasima dihabisi oleh pembunuh bayaran sewaan Samiun yang bernama Bang Puase. Mayat Dasima dibuang ke kali Ciliwung dan tertambat tepat didepan rumah Edward William. Adalah Edward William yang akhirnya mengakui kembali Nyai Dasima sebagai istrinya agar kasus pembunuhan tersebut dapat ditindaklanjuti oleh polisi Hindia-Belanda kala itu.

Busana yang digunakan dalam Tari Lenggang Nyai
"Sinopsis atau stablo atau kilas balik diatas sebenarnya bukanlah inti dari inspirasi saya, akan tetapi Nyai Dasima disaat ia tinggal bersama Samiun (serta diperas hartanya sampai habis) sebenarnya menyimpan kesedihan mendalam karena ia dianggap menjadi beban keluarga besar Samiun (setelah Nyai Dasima jatuh miskin). Namun begitu Nyai Dasima sudah kepalang tanggung, ia sudah mencintai Samiun, lalu di malam naas nya itu Nyai Dasima merasa sangat bahagia diajak Samiun jalan berdua, itulah mengapa ia bersolek secantik mungkin untuk Samiun. Akan tetapi maksud hati dan keinginan Nyai Dasima dikhianati Samiun dengan membunuhnya secara keji," jelas Bang Ntong.

Jelasnya lebih lanjut, Ada perasaan cinta, kebahagiaan, kesedihan karena penolakan atas dirinya dari keluarga besar Samiun justru disaat ia sudah jatuh miskin, ditambah bingungnya ia sesaat sebelum menemui ajalnya menyaksikan Samiun justru hanya berdiri menyaksikan nyawanya dihabisi orang lain. Dan semua itu berkecamuk didalam hati Nyai Dasima tanpa sempat ia bercerita kepada siapapun. Itulah yang menjadi inspirasi saya, ungkapan hati seorang wanita diambil dari sosok Nyai Dasima tersebut,

Dalam menggarap Tari Lenggang Nyai, Bang Ntong tidaklah sendirian. Ia berkolaborasi dengan seorang seniman wanita Betawi (Alm) Pipit. Bang Ntong menggarap musik pengiring sedangkan Pipit menggarap gerak tariannya. Setiap gerak tari Lenggang Nyai mencerminkan bagaimana kehidupan sehari-hari dan kepribadiannya, atau dengan kata lain coba divisualisasikan dalam bentuk gerak.

Setiap gerak tari Lenggang Nyai dibuat untuk menyiratkan gejolak hati seorang seorang sosok Nyai Dasima dengan menonjolkan kedinamisan gerak dan lagu. Namun menurut Bang Ntong sekali lagi Tari Lenggang Nyai bukan berbicara tentang ketokohan seseorang, melainkan apa yang dirasakannya didalam hati.

"Untuk membuat tarian ini saya harus menyelami bagaimana perasaan seorang wanita. Bisakah anda bayangkan jika anda ditolak kehadirannya setelah semua milik anda dinikmati orang lain, lalu yang lebih tragis adalah anda tidak menyangka ketulusan anda berujung maut justru oleh orang yang anda cintai dengan tulus itu. Jadi memang cukup berat proses terciptanya tarian ini," jelas Bang Ntong mengenai penciptaan tari Lenggang Nyai.

Perjuangan Bang Ntong bersama (Alm) Pipit akhirnya terbayar lunas. Dua tahun setelah meluncurkan karyanya tersebut, sekitar tahun 2004 maka Tari Lenggang Nyai sudah sohor di Jakarta. Bahkan saat itu Tari Lenggang Nyai sampai didaulat untuk acara Pembukaan Ligina (Liga Bola Indonesia) oleh Pemprov DKI Jakarta. Akan tetapi karena keterbatasan dana, maka Tari Lenggang Nyai yang awalnya menggunakan format tambahan alat musik modern maka dibuat menjadi full Gambang Kromong.

"Tapi ternyata dengan full musik Gambang Kromong tarian ini seakan menemukan roh-nya, atau kalau orang musik bilang ketemu 'soul' nya. Penjiwaan penarinya semakin terbentuk dengan nuansa Betawi tempo dulu yang kental. Padahal ini tari tradisi kreasi modern," lanjutnya lagi.

Busana yang dikenakan dalam Tari Lenggang Nyai disebut Baju Kurung. Sejak awal terciptanya formatnya adalah baju kurung berwarna putih, namun karena tuntutan dunia hiburan maka dikembangkan menjadi beberapa permainan warna dengan warna hijau sebagai warna dasar.

Dari bagian-bagian busana yang dikenakan, ada kemiripan dengan busana dalam tarian Nandak Ganjen, yaitu juga menggunakan toka-toka atau penutup dada namun dengan pola menyilang, Andong, Ampreng, selendang, serta aksesoris kepala berbentuk sumpit-sumpit kecil warna keemasan yang terinspirasi dari akulturasi budaya Betawi dan Tionghoa.

Aksi Sabila Dzakia Mizpah, Apriliana Dwi Harwanti, dan Errica Fatimatuzzahra dalam membawakan Tari Lenggang Nyai di Anjungan Provinsi DKI Jakarta (13/08/2016).
Tari Lenggang Nyai akan lebih menarik disaksikan jika dibawakan oleh seorang penari dewasa. Disana akan muncul permainan karakter dibalut penjiwaan mendalam disetiap gerak tarinya.

Akhirnya, sebagai seorang seniman asli tanah Betawi, Bang Ntong berharap kedepannya Tari Lenggang Nyai dapat semakin bisa menjadi hiburan positif bagi semua pencinta sekaligus penikmat seni tanah air. Apalagi dengan iringan musik Gambang Kromong pimpinan anaknya sendiri yaitu Ray, ia berharap Tari Lenggang Nyai bisa semakin mendapat tempat di hati lintas generasi, khususnya generasi muda.

Fokus Bang Ntong pada generasi muda adalah dengan harapan Tari Lenggang Nyai bisa membuka jalan untuk kesenian Topeng Betawi kembali digandrungi kawula muda Ibukota. Kebutuhan mendesak akan regenerasi dalam kesenian Topeng Betawi adalah salah satu dasar pemikiran Bang Ntong.

Secara menyeluruh, Bang Ntong berharap kedepannya generasi muda belajar cinta akan budayanya, karena dengan mencintai budaya maka ia memiliki kepribadian bangsa ini atau kepribadian sebagai Bangsa Indonesia. Artinya ia memiliki satu tanggung jawab dimana ia harus turut serta melestarikan budaya bangsanya sendiri.

"Gantungkanlah cita-cita setinggi langit, lalu raihlah itu semua. Akan tetapi nantinya jika menjadi seorang Dokter maka jadilah Dokter yang bisa menari, jika menjadi Tentara maka jadilah Tentara yang bisa menari pula, begitu seterusnya. Ini adalah harapan pribadi saya sebagai seorang seniman tari. Dalam pengembangannya secara umum, jadilah orang muda berprofesi yang turut melestarikan budaya bangsa sendiri," pungkasnya.

Harapan dan penutup pernyataan Bang Ntong sangat luar biasa. Jika setiap anak bangsa ini (apapun profesinya) giat pula dalam pelestarian budaya bangsa, maka selamanya seni dan kebudayaan bangsa Indonesia akan lestari serta tidak terputus proses regenerasinya.(Miechell Koagouw)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: