SELASA, 30 AGUSTUS 2016

JAKARTA --- Sejarah terbentuknya Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 5 Oktober 1945 merupakan hasil jerih payah dari seluruh rakyat Indonesia yang berhasil diterjemahkan dengan baik oleh negara dalam perintisannya. Jenderal Anumerta Oerip Soemohardjo adalah salah satu tokoh dalam perjalanan mobilisasi, pengorganisasian, hingga bagaimana organisasi Tentara Nasional Indonesia hingga saat ini diawali dari sebuah pendidikan profesional terencana dari demi terbentuknya sebuah angkatan perang kebanggaan rakyat yang mampu menjaga keutuhan nusantara sekaligus keamanan rakyat itu sendiri.

Suasana ruangan khusus Letnan Jenderal TNI Oerip Soemohardjo di Museum Satria Mandala Jakarta
Oerip Soemohardjo lahir di Sindurejan, Purworejo, Jawa tengah pada 22 Februari 1893. Memulai karir militer di tahun 1910 dengan masuk Sekolah Perwira Militer Belanda (Inlandsche Officier) di Meester Cornelis, Batavia (sekarang daerah Jatinegara, Jakarta timur). Oerip Soemohardjo berhasil lulus dan menjadi perwira KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger) dengan pangkat Letnan dua (Letda).

Karakter Oerip Soemohardjo yang sejak kecil dikenal pemberani dan setia kawan membawanya tumbuh menjadi seorang perwira yang cukup vokal di KNIL, terlebih jika menyangkut sesama perwira maupun prajurit KNIL pribumi (orang indonesia). Ia kerap mencegah penghinaan yang sering dilakukan oleh tentara KNIL lainnya terhadap sesama rekan KNIL pribumi lainnya yang acapkali menerima perlakuan tidak adil dari atasannya.

Dalam sebuah insiden berupa protes keras dari Letnan dua Oerip Soemohardjo kepada Departemen Perang Belanda atas salah satu perlakuan tidak adil kepada seorang rekannya sesama perwira KNIL pribumi maka ia dipensiunkan dari dinas militer KNIL.

Ketika Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, maka secara otomatis terbentuklah sebuah negara lagi di dunia khususnya kawasan Asia tenggara. Sikap kritisnya kembali tereksploitasi kala melihat kenyataan sebuah negara muda seperti Republik Indonesia hanya membentuk sebuah Badan Keamanan Rakyat (BKR) untuk menjaga keamanan wilayah negara dan seisinya. Maka lahir sebuah ucapan wujud kepedulian diri seorang Oerip Soemohardjo, yaitu : " Aneh...satu negara zonder tentara " (aneh...satu negara tidak ada tentara).

Berangkat dari kritikan pribadi tersebut, ditambah dengan kebijakan pemerintah yang dianggap mulai menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam hal membentuk sebuah organisasi ketentaraan dengan dibentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945 maka Oerip Soemohardjo melakukan sebuah langkah besar dalam hidupnya.

Berdasarkan sebuah telegram dari wakil presiden Republik Indonesia, maka ia mengumpulkan beberapa rekan bekas perwira KNIL di Jakarta untuk kemudian mengeluarkan pernyataan bersama bahwa mereka semua tidak lagi terikat dengan sumpah KNIL. Oleh sebab itu, dalam sidang kabinet RI 15 Oktober 1945 ia diangkat menjadi Kepala Staf Oemoem (KSO) TKR dan dilantik pada 18 Desember 1945 dengan pangkat Letnan Jenderal. Bersama-sama dengan Panglima Besar Soedirman (Pak Dirman), ia berusaha untuk lebih menyempurnakan aparat pertahanan negara yang ada.

Selain penyempurnaan organisasi militer, Oerip Soemohardjo turut memahami bahwa untuk membentuk seorang prajurit tangguh profesional maka harus melewati sebuah pendidikan militer. Oleh karena itu, ia memprakarsai pendirian sebuah Akademi Militer di Yogyakarta yang kemudian berkembang menjadi Akademi Militer (AKMIL) hingga saat ini.

LetJend TNI Oerip Soemohardjo wafat pada 17 November 1948 dan jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Atas jasanya terhadap bangsa dan negara maka pemerintah RI menganugerahinya pangkat terakhir Jenderal Anumerta. Oerip Soemohardjo juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 314 Tahun 1964.

Lukisan diri Jenderal Oerip Soemohardjo
Satu hal yang diambil dari secarik kertas perjalanan hidup serta karir militer Jenderal Oerip Soemohardjo adalah bagaimana ia bisa menjadi seorang prajurit yang mempertahankan pendiriannya walau harus melewati berbagai persoalan pelik sekalipun. 

Tercatat saat Pak Oerip dan Pak Dirman bahu-membahu menengahi perbedaan faham antara para tentara mantan KNIL dan PETA demi mempertahankan kemerdekaan justru pemerintah menunjukkan sikap lunak hingga ditandatanganinya Perjanjian Renville dengan Belanda yang berimbas pada penarikan mundur kurang lebih 30.000 tentara Indonesia dari Jawa barat.

Pak Oerip menilai perjanjian Renville hanya mengulur-ulur waktu bagi Belanda untuk menyusun kekuatan. Oleh karena itulah maka Pak Oerip dan Pak Dirman memilih jalan perjuangan gerilya untuk mempertahankan kemerdekaan dengan Pak Dirman memimpin sendiri perang gerilya di lapangan. Di sisi lain, Perdana Menteri RI Amir Sjarifuddin yang dikenal berhaluan kiri atau Komunis semakin memperkeruh suasana dengan terus menggalang kekuatan di tubuh militer dengan merekrut tentara-tentara yang berhaluan kiri atau Komunis. 

Bagi Pak Oerip, perjanjian Renville dan keleluasaan Amir Sjarifuddin adalah wujud ketidakpercayaan pemerintah kepada militer Indonesia serta tidak tanggapnya pemerintah akan situasi dalam negeri. Muak dengan sikap pemerintah tersebut maka LetJend Oerip Sumohardjo mengundurkan diri dari posisinya sebagai Kepala Staf Oemoem namun ia tetap bertugas sebagai Penasihat Menteri Pertahanan.

Meninggalnya LetJend Oerip Soemohardjo meninggalkan sedikit ketegangan diantara para pemimpin militer RI dengan pemerintah. Pangsar Jenderal Soedirman sempat melontarkan ancaman pengunduran diri karena ia menganggap tidak konsistennya pemerintah dalam penanganan organisasi militer secara profesional adalah salah satu penyebab Pak Oerip mengalami serangan jantung mendadak. Saat itu dirinya juga sedang berjuang dengan penyakit Tuberculosis yang sudah diidapnya sejak memimpin laskar gerilya masuk keluar hutan. Dua tahun berselang, tepatnya tahun 1950 maka Pangsar Jenderal Soedirman akhirnya pergi untuk selamanya menyusul Jenderal Oerip Soemohardjo.

Salah satu pernyataan LetJend Oerip Soemohardjo yang sangat populer diabadikan di Museum Satria Mandala
Di Museum Satria Mandala Pusat Sejarah TNI Jakarta dapat disaksikan ruangan khusus yang berisi perjalanan hidup Jenderal Oerip Soemohardjo berikut benda-benda pribadi peninggalan beliau yang diabadikan serta terawat rapih oleh pengelola museum. Pengunjung dapat melihat dari dekat mulai dari meja kerja Pak Oerip, juga meja dan kursi tamu milik beliau, berikut surat pengangkatan dari pemerintah sebagai KSO (Kepala Staf Oemoem), sebuah kompas, arloji saku, buku peta pulau jawa, pesawat telephone, dan lampu minyak kelapa.

Tidak lupa juga beberapa tanda penghargaan dari pemerintah RI untuk beliau seperti Bintang Republik Indonesia, Bintang Maha Putera, Bintang Yudha Dharma, dan Bintang Kartika Eka Paksi.

Akhirnya, mempertahankan sikap akan sesuatu yang dianggap benar demi keutuhan bangsa dan negara adalah hikmah perjalanan hidup serta karir militer Jenderal Oerip Sumohardjo yang dapat diamini bersama. Tidak perduli harus melepaskan jabatan atau sejenisnya, maka ia akan terus mempertahankan pendiriannya, bahkan kalau perlu mengorbankan segalanya untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Dan sikap TNI saat ini merepresentasikan hal tersebut dengan tegas dan jelas yakni mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjadi Benteng Pancasila sesuai Sumpah Prajurit dan Sapta Marga. Tidak perdulu apa yang akan terjadi maka bagi TNI mulai dahulu hingga sekarang maka NKRI dan Pancasila adalah Harga Mati.
(Miechell Koagouw)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: