JUMAT, 5 AGUSTUS 2016

KENDARI --- Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) didemo puluhan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi Lingkar Studi Mahasiswa Indonesia Pengurus Sulawesi Tenggara (Lisuma Sultra) di Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara, Kamis (4/8/2016).


Masa aksi menuntut Kejati Sultra untuk segera memeriksa Rektor UHO terkait dugaan adanya penyalagunaan anggaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan Beasiswa Pendidikan Mahasiswa Miskin (Bidik Missi).

Idaman Bonea, kordinator lapangan aksi mengatakan, sistem pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) mulai diberlakukan sejak tahun akademik 2013/2014 di semua Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Kebijakan ini merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2013 tentang Biaya Kuliah Tunggal (BKT) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT) pada Perguruan Tinggi Negeri di Lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan prinsip dasar subsidi silang yang disesuaikan pendapatan orang tua mahasiswa.

Namun, penerapan pembayaran UKT UHO tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2013, sebab setahun sebelumnya (Tahun ajaran 2012/2013) sudah memberlakukan, bahkan dalam proses penerapanya tidak menggunakan sistem subsidi silang yang disesuaikan dengan pendapatan orang tua mahasiswa.

"Hal itu kami temukan setiap mahasiswa dalam satu program studi untuk pembayaran UKT diratakan,"sebutnya.

Bahkan setiap mahasiswa selalu dikenakan biaya pungutan seperti pembuatan kartu perpustakaan, uang praktek dan lainnya. 

"Padahal itu semua sudah masuk dalam pengalokasian dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dan Uang Kuliah Tunggal yang selama ini kami bayarkan untuk kampus,"ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Pengurus Daerah Lisuma Sultra, Sukur. Disebutkan penerapan UKT selama ini sangat merugikan mahasiswa terutama angkatan tahun 2016/2017, sebab banyak mahasiswa dan orang tua yang merasa keberatan dengan UKT mahasiswa baru. Seharusnya pembayaran UKT mahasiswa baru tahun ini disesuaikan dengan penghasilan orang tua.

"Kok ada mahasiswa orang tuanya bekerja sebagai nelayan dengan pendapatan 1.800.000 per bulan, dikenakan UKT sebesar 2.200.000 per semester,"sebutnya.


|Hal ini tidak dialami satu orang saja, tapi masi banyak mahasiswa baru yang UKT nya tidak sesuai dengan pendapatan orang tuanya,"sambungnya.

Selain itu, massa juga melanjutkan aksinya di kantor OMBUSMAN Sulawesi Tenggara meminta menyelidiki terkait pemalsuan Jurnal Nasional dan Internasional yang sudah ditandatangani Dirjen Dikti sebagai sarat menjadi Guru Besar di Universitas Halu Oleo yang dilakukan salah satu calon Rektor UHO.
[Siddiq Muharram]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: