RABU, 10 AGUSTUS 2016

JAKARTA --- Salah satu Anggota Majelis Hakim dalam persidangan kasus perkara "kopi racun sianida" yang bernama Binsar Gultom S.H., sempat mempertanyakan validitas atau keaslian bukti rekaman CCTV milik Kafe Olivier kepada AKBP M. Nuh Al Azhar, seorang saksi ahli Digital Forensik Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri sebelum memulai persidangan di PN Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu siang (10/8/2016).

Majelis Hakim yang memimpin persidangan Jessica di PN Jakarta Pusat.
Menurut Binsar Gultom, keaslian atau validitas bukti rekaman CCTV di Kafe Olivier tersebut sangat mutlak dan  penting dalam persidangan kasus perkara "kopi racun sianida" seperti ini, karena menyangkut nama baik seseorang terutama saudara terdakwa Jessica Kumala Wongso. Jangan sampai kemudian di belakang hari ternyata hasil bukti rekaman tersebut diragukan keasliannya atau tidak valid alias pernah di edit videonya atau bahkan direkayasa.

Karena barang bukti rekaman kejadian di Kafe Olivier yang sempat terekam oleh CCTV tersebut selanjutnya akan dapat dijadikan sebagai dasar atau pijakan daripada  Majelis Hakim dalam mempertimbangkan sesuatu keputusan sebelum memutuskan vonis terhadap terdakwa yang bersangkutan dalam sebuah kasus perkara yang terjadi dalam persidangan di pengadilan.

Saksi ahli AKBP M. Nuh Al Azhar disumpah sebelum memberikan kesaksian
Anggota Majelis Hakim Binsar Gultom mengatakan "bagaimana dengan validitas atau keaslian alat bukti hasil rekaman CCTV yang selama ini diperlihatkan di televisi dalam persidangan Jessica Kumala Wongso dan apakah saksi ahli juga memiliki bukti tertulis pada saat hasil rekaman CCTV tersebut diserahkan oleh pihak Kafe Olivier kepada pihak kepolisian demi alasan untuk kepentingan penyelidikan" saat bertanya kepada saksi ahli dalam persidangan di PN Jakarta Pusat, Rabu siang (10/8/2016).

Kemudian saksi ahli Digital Forensik Pusalabfor Mabes Polri yaitu AKBP M. Nuh menjelaskan kepada Majelis Hakim bahwa dirinya sama sekali tidak pernah menerima gambar hasil rekaman CCTV tersebut dari pihak Kafe Olivier, itu merupakan kewenangan sepenuhnya pihak penyidik dari kepolisian. Kemudian dirinya juga menjelaskan bahwa gambar hasil rekaman CCTV tersebut  sama sekali belum pernah diedit, sehingga hasil rekaman CCTV tersebut masih valid atau asli.(Eko Sulestyono)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: