MINGGU, 7 AGUSTUS 2016

MALANG --- Jika pada umumnya mainan kuda-kudaan terbuat dari bahan baku kayu, namun di tangan kreatif Eko Srilaksono (55) bahan kayu tersebut justru digantinya dengan menggunakan kardus. Bahan ini dipilih karena selain harganya yang murah dan banyak tersedia, masih sedikit masyarakat yang memanfaatkan sebagai bahan untuk kerajinan terutama dalam pembuatan mainan.


"Awalnya saya hanya ingin membuat mainan yang unik dari bahan sederhana tapi belum tahu mainan apa yang akan saya buat. Tapi setelah melakukan survei pasar selama tahun 2010, baru terpikir untuk membuat mainan kuda-kudaan dari bahan kardus. Dan pada tahun 2011 baru kami mulai produksi kuda-kudaan berbahan kardus dengan merk dagang 'Si Kambi'," jelasnya saat di temui Cendana News di kediamannya Jalan Mertojoyo Blok B No.1.

Di awal usaha produksi Si Kambi, Eko mengaku usahanya tidak selancar seperti yang diharapkan, banyak produknya yang tidak laku dijual bahkan mendapat penolakan dari konsumen. Dengan harga waktu itu Rp.70.000,- kebanyakan konsumen justru berfikir bahwa harga tersebut terlalu mahal untuk mainan kuda-kudaannya yang pada saat itu penampilannya masih polosan.

Dari situ kemudian Eko berfikir mulai menambahkan gambar-gambar lucu dengan menggunaan sablon untuk menutupi permukaan kardus. Dan ternyata benar, respon masyarakat terhadap produknya mulai membaik. Satu per satu produk Si Kambi mulai diminati konsumen meski harganya lebih mahal daripada sebelumnya yakni Rp.125.000,-.

"Ketika orang bilang produk saya mahal, kita tidak menurunkan tapi justru kita naikkan harganya,"ungkapnya.

Memasuki tahun 2013, Eko kembali melakukan inovasi dengan produknya dengan menambahkan spons dan kain untuk menutupi rangka kardusnya. Langkah tersebut rupanya di sambut positif oleh masyarakat, terbukti dari semakin banyaknya konsumen yang memesan dengan disain yang lebih rumit seperti bentuk Gajah, Kuda, Anjing dan kapal.

"Semakin kesini, permintaan konsumen semakin rumit dan terpaksa harga juga kita naikkan. Harga si Kambi sekarang berkisar Rp.650-750 ribu tergantung model. Jika modelnya lebih rumit lagi, harga bisa mencapai satu juta,"ucapnya.

Tidak hanya mampu membuat mainan kudaan-kudaan dari kardus, Eko juga dapat memproduksi meja dan kursi dari bahan kardus. Menurutnya, meskipun terbuat dari kardus, namun produk-produknya mampu menahan beban hingga 200 kg.

"Kardus ini sama seperti sapu lidi, jika disatukan akan menjadi kuat bahkan dapat menahan beban hingga 200 kg,"urainya.

Selain produknya yang terbukti mampu menahan bebat yang cukup berat, Eko bahkan berani memberikan garansi konstruksinya selama tiga tahun. 

"Kalau sampai ada konstruksi ada yang rusak atau patah, langsung akan kita ganti dengan yang baru,"ujar bapak dengan satu anak ini.

Setelah Si Kambi laris di pasaran, Eko kini kembali meluncurkan sebuah lebel baru yaitu 'Weedo' yang sengaja ia siapkan untuk pasar Internasional. Berbeda dengan Si Kambi yang dominan berukuran besar, produk Weedo lebih di tekankan kepada mainan anak dengan ukuran kecil yang ia kembangkan dari mainan-mainan tradisional Indonesia.

"Awal bulan September ini, produk Weedo sudah akan masuk di salah satu supermarket besar di Indonesia,"ucapnya.


Lebih lanjut Eko menuturkan bahwa sebenarnya produk mainan yang di produksinya tersebut lebih ia tekankan kepada keluarga muda. Menurutnya, kebanyakan keluarga muda hanya memiliki sedikit waktu untuk bermain bersama anak-anaknya. Oleh karena itu, dengan adanya permainan Si Kambi maupun Weedo, Eko berharap keluarga muda tersebut bisa lebih banyak menghabiskan waktu bermain dengan anak mereka di dalam rumah daripada mengajak anak-anaknya bermain di mall.

Dengan dibantu dua orang tenaga kerja serta meberdayakan beberapa masyrakat yang ada di kampung, setiap bulannya Eko mampu mendapatkan omset sebesar 20-24 juta Rupiah per bulan. Ia memperoleh bahan-bahan kardus tersebut dari pengepul kardus di daerah Purwosari.


Sementara itu, sebelum menekuni spesialis kerajinan berbahan kardus, Eko yang merupakan alumni jurusan teknik industri Institut Teknologi Bandung (ITB) ini sempat bekerja menjadi konsultan pengembangan produk di beberapa perusahaan. Dalam membuat kerajinan kardusnya tersebut, Eko mengaku tidak pernah mengikuti kursus. Ia hanya belajar sendiri dan coba-coba membuat kerajinan kardus.

"Prinsip saya, setiap materian itu bisa didisain atau dibentuk apapun asalkan kita mengenal betul karakter bahannya tersebut. Ketika kita menggunakan kardus, berarti kita harus tahu dan belajar apapun mengenai kardus terutama karakternya,"pungkasnya.
[Agus Nurchaliq]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: