SELASA, 9 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Petani di wilayah Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan mulai banyak melakukan budidaya jenis singkong atau ubi kayu di lahan tidur yang ada di wilayah mereka. Menurut salah satu warga di Kecamatan Kalianda, Dodi, singkong yang banyak dibudidayakan sebagian besar merupakan jenis varietas singkong Kasesa (UJ-5/Cassesart) yang ditanam pada lahan yang tidak dimanfaatkan oleh warga akibat pasokan air kurang.


Ia mengaku pada masa tanam kali ini menanam singkong seluas sekitar 3 hektar. Saat ini harga singkong di tingkat pabrik Rp830 dengan tingkat refraksi (potongan15%). Dodi mengungkapkan sebagian petani jenis Kasesa karena keunggulan singkong jenis ini adalah mampu berproduksi tinggi dan memilki kadar pati yang tinggi sehingga singkong jenis ini mampu lolos dari potongan rafaksi (Potongan timbangan) dipabrik singkong nantinya.

“Kami mulai membudidayakan singkong jenis kasesa karena secara ekonomis lebih menguntungkan sambil kami melakukan aktifitas lain tetap bisa membudidayakan singkong sekaligus sebagai investasi tahunan,”ungkap Dodi saat dikonfirmasi media Cendana News, Selasa (9/8/2016)

Selain cukup menguntungkan secara ekonomis Dodi mengakui budidaya yang tidak terlalu sulit dan cocok untuk menjadi bagian investasi tambah sekaligus rencana masa depan.


Penanaman jenis singkong kasesa menurut Dodi di wilayahnya sebagian dilakukan pada lahan sewa dari pemilik lahan lain dan pada panen tahun ini mengaku berhasil memanen singkong dengan hasil mencapai 40 ton per hektar. Hasil  tersebut belum terhitung secara keseluruhan sebab sebagian lahan masih memasuki proses panen. Upaya peningkatan dengan menggunakan pupuk kimia jenis urea dan NPK.

Selama proses penanaman ia mengakui faktor yang mempengaruhi hasil terutama kondisi tanah dan pengendalian gulma. Saat masa penanaman ia mengaku menggunakan jarak tanam 120x 80 cm. Sementara usia panen jenis singkong kasesa mencapai 9 bulan sementara jenis singkong thailand mencapai 7 bulan.

“Sebagian petani lebih memilih melakukan budidaya singkong Thaliand karena umur pendek dan dengan kondisi buah bagus namun singkong jenis thailand tahan banyak air” ungkapnya.

Ia sebagai anggota Babinsa di wilayah Koramil Kalianda mengaku misi menanam singkong dilakukan untuk memanfaatkan lahan tidur dengan sistem mitra dengan masyarakat yang bertugas merawat dan membantu dalam pengolahan tanah.

Penanaman singkong jenis kasesa dan Thailand menurutnya dari segi market banyak dimanfaatkan oleh pabrik untuk diolah menjadi tepung tapioka namun tetap menguntungkan bagi petani karena pabrik tepung tapioka menerima komoditas singkong dengan dengan kuota tidak terbatas.

“Kami memang tidak menanam jenis singkong konsumsi market terbatas sementara harga di pasaran cukup murah sementara untuk market pabrik keluhan petani singkong diantaranya harga masih dominan dikendalikan pabrik” ungkapnya.

Ia berharap Gapesi (gabungan petani singkong) melakukan upaya untuk meningkatkan harga jual singkong yang banyak dibudidayakan oleh petani. Lahan seluas tiga hektar yang ditanami singkong menurut Dodi merupakan lahan yang jauh dari lokasi saluran irigasi sehingga jarang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian sawah bahkan beberapa bulan sebelumnya justru dimanfaatkan sebagai lahan tanaman jagung. Ia mengaku sebelum melakukan penanaman bibit singkong, diperlu pengolahan tanah atau lahan agar remah dan gembur sehingga pertumbuhan akar dan umbi mampu tumbuh dengan baik.


Proses pengolahan tanah dapat dilakukan dengan tenaga mesin dengan Traktor bajak dan tenaga hewani (Sapi/kerbau).Pemilihan lokasi tanah untuk penanaman singkong usahakan tanah yang tidak datar dan tidak tergenang, hal ini memudahkan dalam proses mencegah busuknya umbi singkong pada saat proses budidaya berlangsung. 

Pembajakan bertujuan untuk membalik guludan tanah sehingga tanah remah, gembur, memiliki drainase (tata ruang air) yang baik dan membuat lajir (garis tanam).Sekaligus memudahkan pada saat penanaman bibit singkong jenis kasesa.

Komoditas singkong atau ubi kayu masih menjadi andalan petani di Kabupaten Lampung Selatan untuk meningkatkan perekonomian mereka, sehubungan lahan kering di daerah ini lebih luas dibandingkan lahan basah.

"Petani lebih memilih komoditas ini, karena pendapatan cukup tinggi dengan biaya perawatan lebih terjangkau," kata Dodi.

Selain Dodi petani lain di wilayah Kalianda pun mulai melakukan pemanfaatan lahan perladangan diantaranya dilakukan oleh Sukeri yang memanfaatkan lahan tersebut untuk budidaya singkong. Pemilihan tanaman singkong sebagian dilakukan oleh petani untuk meningkatkan pendapatan, mengingat cukup menguntungkan dibandingkan dengan komoditas lain yang memerlukan modal lebih besar.

"Saat ini banyak petani yang mulai menanam namun sebagian sudah ada yang sudah memasuki masa panen, karena curah hujan sudah cukup tinggi dalam beberapa pekan terakhir," kata Sukeri.

Ia mengaku, beberapa tahun belakangan ini mengandalkan singkong sebagai penghasilan utama, selain menanam padi di sawah setahun dua kali. Sukeri mengatakan, tanaman singkong menjadi andalan petani di sini sejak beberapa tahun terakhir.

Namun, harga singkong turun dari Rp1.500 per kilogram menjadi Rp830 per kilogram sejak beberapa bulan ini. Namun ia yakin harga akan naik lagi jika produksi singkong petani menurun, terutama saat musim hujan karena banyak yang beralih menanam padi untuk sementara waktu.

Ia mengharapkan, harga singkong kembali naik minimal harganya Rp1.600 per kilogram, sebanding dengan biaya perawatan yang dikeluarkan oleh petani setempat. Namun, pada musim hujan nanti biasanya petani akan kesulitan mengangkut singkong itu dari perladangan, sehingga memerlukan biaya tambahan untuk para pekerja pencabut singkong.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) kabupaten setempat produksi singkong atau ubi kayu di daerah tersebut mencapai 961.019 ton per tahun. Sementara produksi singkong mencapai luas 45.247 hektare, dengan produktivitas 241,47 kuintal atau 24,147 ton per hektare.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: