JUMAT, 26 AGUSTUS 2016

SUMENEP --- Maraknya kekerasan seksual yang menimpa anak dibawah umur di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, akan dapat mengancam terhadap terciptanya perkembangan generasi penerus bangsa yang unggul. Pasalnya para korban yang masih dibawah umur itu akan mengalami tekanan psikologis yang memakan waktu lama untuk bisa dipulihkan seperti semula, sehingga sangat membutuhkan semua elemen untuk bersinergi dalam mencegah terjadi kasus kekerasan seksual tersebut.

Putu Elvina, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Republik Indonesia (RI)
Selama ini kasus-kasus yang mengancam terhadap perkembangan terciptanya genarasi penerus bangsa di daerah ujung timur Pulau Madura ini sudah sangat luar biasa, terutama kekerasan seksual yang mayoritas korbannya anak di bawah umur. Maka dari itu sudah selayaknya ada pencegahan nyata dari berbagai lintas sektor dari unsur pemerintah yang ada di daerah ini, sehingga kedepan kejadian serupa tidak kembali lagi terulang.

“Kasus di Sumenep ini sudah cukup luar biasa, karena ada sekitar 53 kasus yang tidak main-main. Mulai dari, pornography, narkoba, hubungan seksual dan asusila, maka program pencegahan yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah hasu maksimal. Jadi ini yang harus sama-sama di benahi, pemerintah daerah harus melakukan program-program pencegahan,” kata Putu Elvina, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Republik Indonesia (RI), Jumat (26/8/2016).

Disebutkan, bahwa selama ini kebanyakan program hanya fokus pada proses penegakan hukum saja, tetapi jika pencegahannya tetap saja tidak dilakukan, kemungkinan besar kasus kekerasan seksual tersebut akan terus terjadi. Maka dari itu dalam menjalankan program pencegahan itu membutuhkan keterlibatan semua lintas sektor, seperti, Dinas Sosial (Dinsos), Kementrian Agama (Kemenag), Dinas Pendidikan (Disdik) dan Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMP-KB).

“Jadi dinas lain juga ikut andil dalam program upaya pencegahan terhadap terjadinya kekerasan seksual di kalangan masyarakat daerah ini. Kasus sodomi salah satu indikasi masyarakat tidak peduli, tetapi kenyataannya masyarakat tidak tahu dan tidak mau tahu masalah kasus ini,” jelasnya.

Banyaknya kasus tersebut bisa saja lebih bertambah dari data resmi yang ada, sebab kebanyakan korban kekerasan seksual masih enggan melaporkan kasus yang dialaminya. Sehingga apabila masalah perlindungan anak tersebut tidak ditangani dengan baik, maka kedepan untuk memiliki generasi yang unggul sangat kesulitan. 
(M. Fahrul)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: