JUMAT, 12 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Masa panen yang berbarengan dinilai berdampak terhadap penurunan harga buah jeruk manis hasil petani di wilayah Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan. Harga buah jeruk pada masa panen bersamaan mengakibatkan harga buah jeruk di tingkat petani turun dari kisaran Rp15.000 per kilogram menjadi Rp7.500 per kilogram. Padahal masa panen tahun sebelumnya petani bisa menjual buah jeruk dengan harga terendah mencapai Rp9.000 perkilogram.


Petani Jeruk di Desa Solo Kecamatan Palas,Matmunah (50) mengungkapkan tanaman jeruk miliknya seluas setengah hektar sebagian sudah dipanen dengan hasil mencapai 10 kuintal dan sebagian sudah dibeli oleh para penebas (orang yang membeli hasil bumi dengan sistem borongan). Sementara sebagian tanaman jeruk miliknya masih belum dipanen sambil menunggu buah matang di pohon.

“Saat ini memang sebagian sudah panen secara bersamaan namun ada juga yang belum panen karena sebagian menanam lebih belakangan di lahan yang sebelumnya ditanam jagung” ungkap Matmunah saat ditemui Cendana News di Palas, Jumat (12/8/2016).

Masa panen buah jeruk di wilayah Kecamatan Palas diantaranya di Desa Tanjungsari, Desa Solo, Desa Kalirejo serta beberapa desa yang mencapai ratusan hektar diperkirakan mencapai luas ratusan hektar. Masa panen diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir bulan September dengan jumlah panen mencapai puluhan ton yang sebagian dikirim ke luar daerah.


Salah seorang pedagang jeruk manis di pasar tradisional Kecamatan Palas,Pratama mengatakan, sangat khawatir dengan harga jeruk yang secara perlahan terus mengalami penurunan. Padahal musim panen jeruk kali ini yang terjadi menjelang peringatan HUT RI dan menjelang Hari Raya Idul Adha diharapkan menjadi waktu tepat untuk mendapatkan untung bagi para petani dan penebas.

Pratama mengungkapkan saat ini selain berjualan di pasar tradisional dirinya juga melakukan penjualan dengan sistem keliling ke kampung kampung. Ia menjual jeruk dengan sistem keliling menggunakan motor karena sistem tersebut bisa memberinya keuntungan bisa menjangkau hingga ke wilayah pedesaan dengan harga mulai Rp10.000 perkilogram hingga Rp15.000 perkilogram.

“Harga di pasaran terus merosot, padahal saya mengeluarkan dana yang cukup besar saat menebas jeruk kepada para petani. Dimana ongkos pengiriman jeruk juga ikut naik,” keluh Amri salah satu penebas jeruk di Palas.


Menurut Amri, merosotnya harga jeruk manis salah satunya karena sedang panen raya. Selain itu, panen kali ini berbarengan dengan panen diluar Lampung. Sebagian petani di wilayah Palas merupakan pembudidaya jeruk jenis keprok yang meski masih berkulit hijau namun sudah memiliki buah yang manis.

“Jeruk dari pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan juga masuk, jadi harga turun apalagi banyak penjual jeruk yang kini keliling di wilayah Lampung,” ungkapnya.

Penebas jeruk lainnya, Joko (33), warga Kecamatan Palas mengatakan, harga jeruk di pasaran malah sempat Rp6.000 per kilogram. Ia mengatakan saat ini harga jeruk sangat sulit naik, karena stok jeruk di Kecamatan Palas sangat banyak. Ia mengungkapkan di Kecamatan Palas beberapa desa  merupakan lumbung petani perladangan jeruk manis.

Sebelumnya, pertanian jeruk di Palas berpotensi untuk dikembangkan, dilihat dari hasil panen triwulan pertama mencapai 33 ton. Hanya saja, potensi ini belum mampu meningkatkan ekonomi masyarakat mengingat jeruk asal Palas hanya tembus di pasar lokal dan butuh pasar baru serta investor. Selain dikembangkan untuk peningkatan ekonomi warga pengembangan jeruk bisa dilakukan warga disamping budidaya tanaman lain.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: