RABU, 31 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Ratusan nelayan yang melakukan aktifitas di perairan pesisir Kalianda Lampung Selatan dan perairan pesisir Timur Lampung Timur mendambakan keberadaan stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) terapung yang digunakan oleh nelayan untuk mendapat pasokan bahan bakar jenis solar sebagai bahan bakar untuk melaut.


Salah satu pengurus himpunan nelayan seluruh Indonesia Kecamatan Labuhan Maringgai Lampung Timur, Somad mengungkapkan saat ini kebutuhan nelayan akan bahan bakar solar masih dilakukan dengan membeli dari stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di wilayah tersebut.

Somad meminta kepada pemerintah agar mewujudkan stasiun pengisian bahan bakar nelayan untuk melayani kebutuhan nelayan yang ada di pesisir Timur Lampung.

Ratusan kapal nelayan yang ada di pusat pendaratan ikan Labuhan Maringgai Lampung Timur selama ini harus mencari kebutuhan solar di lokasi yang jauh dalam menutupi kebutuhan bahan bakar mereka setiap harinya.

"Harapan kami dengan dibangunnya SPBN terapung di wilayah ini nantinya akan memberikan kemudahan bagi para nelayan dalam menutupi kebutuhan bahan bakar minyak bagi kapal-kapal nelayan sebab meski ada spbn di darat namun kami kerap tidak kebagian terutama saat berlayar di perairan,” ungkap Somad saat ditemui Cendana News di Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur, Rabu (31/8/2016).

Menurutnya, perairan pesisir Lampung Timur  menjadi lokasi tepat  dibangunnya SPBN terapung tersebut terutama banyaknya nelayan yang berada di wilayah perairan tersebut. Selama ini kata Somad, salah satu keluhan nelayan dalam melaksanakan operasional mereka setiap harinya adalah persoalan BBM yang kadang tersendat pasokannya dan kehabisan stok.

"Jika pemerintah mewujudkan pembangunan tersebut berarti kuota BBM untuk nelayan nantinya bisa didrop ke sana terutama dengan sering habisnya pasokan bahan bakar minyak di wilayah kami," ujar Somad lagi.


Berbeda dengan harapan nelayan Labuhanratu yang berharap adanya SPBN terapung, keberadaan stasiun pengisian bahan bakar khusus nelayan di dermaga pendaratan ikan Boom Kalianda Lampung Selatan justru belum beroperasi meski sudah selesai dibangun. Padahal sebelumnya Pemkab Lampung Selatan melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Lampung Selatan telah menargetkan tengah tahun 2016 SPBN bisa beroperasi dan melayani para nelayan di wilayah pesisir Lampung Selatan.

Berdasarkan Informasi yang dihimpun Cendana News belum beroperasinya SPBN yang dibangun untuk kepentingan nelayan itu dikarenakan pihak pengurus Koperasi Mina Dermaga tengah mengurus surat izin operasional yang dikeluarkan oleh pihak Pertamina Palembang, Sumatera Selatan.

Tetapi menurut beberapa  nelayan yang biasa mendarat di dermaga Boom Kalianda menyebutkan, belum beroperasinya SPBN yang ada di lokasi pusat pendaratan ikan di dermaga Bom Kalianda itu bukan disebabkan belum terbitnya surat izin operasional. Namun terganjal dengan modal untuk membeli bahan bakar minyak (BBM).

“Kalau surat izinnya sih sudah lengkap semua mas, hanya pihak koperasi belum punya modal untuk mengisi BBM nya. Kalau tetap dibiarkan saja dan tidak cepat dioperasikan lama-kelamaan SPBN tersebut akan jadi aset terbengkalai,” ujarnya.

Ia berharap Dinas Kelautan dan Perikanan untuk segera bertindak dan mengambil alih untuk menunjuk pengelola baru yang memiliki modal untuk mengoperasikan SPBN Dermaga Bom Kalianda.

Beberapa nelayan mengaku seharusnya pihak Dinas Kelautan dan Perikanan jangan diam saja dan bisa segera mengambil langkah cepat  dengan mencarikan pihak lain untuk mengoperasikan SPBN tersebut.

“Sebab hampir setahun SPBN ini dibangun tetapi belum juga ada aktivitas untuk penjualan bahan bakar sebab sangat mubazir sudah banyak dana yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk membangun SPBN tersebut,”ujarnya.

Belum beroperasinya SPBN di tempat pendaratan ikan dermaga Bom Kalianda membuat sebagian besar nelayan membeli bahan bakar minyak ke sejumlah SPBU di Jati, SPBU Sebayak dan beberapa SPBU di wilayah tersebut dengan menggunakan wadah derigen.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: