KAMIS, 25 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Masyarakat di wilayah Kabupaten Lampung Barat Provinsi Lampung masih mempertahankan rumah-rumah tradisional berupa rumah panggung yaitu rumah yang terbuat dari kayu berkualitas bagus untuk pembangunan rumah berasitektur tradisional tersebut. Sebagian bahkan masih mempertahankan rumah tradisional terbuat dari kayu berkualitas tinggi diantaranya kayu jati meski sebagian besar masyarakat telah membangun rumah permanen dengan sistem bangunan modern.


Sebagian masyarakat Lampung Barat masih mempertahankan rumah kayu tradisional terbuat dari kayu kelas yang di bagian bawahnya sengaja dikosongkan sebagai tempat menyimpan ternak dan hasil panen. Berdasarkan data yang dihimpun Cendana News sebagian besar rumah-rumah tradisional tersebut telah berumur puluhan tahun bahkan ratusan tahun.

“Kalau di wilayah pedalaman banyak yang mempertahankan rumah tradisional dengan bahan kayu dan atap ijuk terbuat dari pohon aren dan sebagian semi permanen menggunakan atap seng”ungkap Abdulah (50)salah satu warga di pekon Way Tenong Kabupaten Lampung Barat saat berbincang kepada media Cendana News,Kamis (25/8/2016)

Ia mengakui sebagai warga asli Way Tenong dirinya merupakan generasi kesekian yang masih menempati rumah panggung terbuat dari kayu. Beberapa bagian menurutnya telah mendapat perbaikan terutama di bagian atap,lantai kayu,papan pemisah kamar,namun sebagian besar kayu penyangga masih asli seperti bangunan pertama saat dibangun. Selain sebagai warisan para orangtua secara turun temurun ia mengaku bangga masih mempunyai rumah tradisional dari kayu yang masih ada meski zaman sudah modern.


Meski sebagian masyarakat masih mempertahankan rumah panggung tradisional tersebut namun ada masyarakat yang mulai melakukan modifikasi dengan bangunan permanen. Faktor ketersediaan kayu berkualitas bagus diduga menjadi penyebab masyarakat akhirnya memodifikasi bangunan lama dengan bangunan menggunakan semen dan besi terutama pada bagian bawah bangunan.

Masyarakat yang masih mempertahankan bangunan tradisional terbuat dari kayu terbuat dari panggung tersebut hingga kini masih bisa ditemui di perkampungan-perkampungan di Kecamatan Belalau (Hujung, Kenali, Turgak, Luas), di Kecamatan Belalau (Kotabesi, Canggu, Pekon Balak, Negeri Ratu, Sukabumi) dan di Kecamatan Balik Bukit (Kota Agung, Empulau Ulu).

Sebagaimana di daerah lain, di Lampung rumah-rumah tradisional ini mempunyai beberapa bentuk yang disesuaikan dengan kedudukan dan status si pemilik, seperti Gedung Dalom sebutan Keraton/Istana bagi seorang Suttan/Sultan/Raja/Saibatin, Saibatin adalah pemilik Adat dan Masyarakat Adatnya, pemilik wilayah dan hak ulayatnya.

Di Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Brak Lampung, yang secara administratif masuk dalam wilayah Pemerintahan Kabupaten Lampung Barat, setiap rumah Pimpinan Jukku, Kebu, Sumbai, setiap rumah nya mempunyai nama yang diberikan langsung oleh Saibatin Raja Adat.


Selain itu di wilayah lain di Kabupaten Lampung Barat terutama di sekitar perbukitan Suoh yang mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai pekebun kopi masih mempertahankan rumah tradisional kayu panggung.

Sebagian masyarakat lain meski masih mempertahankan bentuk asli bangunan namun sebagian besar melakukan proses pembangunan dengan tetap mempertahankan ciri khas rumah asli Lampung nya, diantaranya di wilayah yang terletak di Pekon Canggu Kepaksian Pernong Sekala Brak Lampung Barat.

Pemandangan rumah rumah panggung di sepanjang jalan lintas Barat dari wilayah Provinsi Lampung menuju Provinsi Bengkulu juga menjadi pemandangan unik bagi pendatang yang melintas di wilayah tersebut. Salah satu warga, Umi, generasi kelima yang merawat rumah panggung di Way Tenong mengaku banyak pengendara yang menyempatkan mampir sejenak untuk mengabadikan keunikan rumah adat khas Lampung tersebut.

“Sebagian mampir untuk ambil foto rumah dan ada yang menggunakan untuk berselfie ria karena jarang melihat rumah panggung jenis ini” ungkap Umi.

Seringnya wisatawan atau masyarakat pengguna kendaraan yang berkunjung ke rumah panggung miliknya ia bahkan menjual hasil bumi yang diperoleh dari kebun diantaranya kopi,jagung rebus serta makanan tradisional lain. Kopi dari perkebunan rakyat dan diolah dengan cara tradisional dijual sebagai oleh oleh pengendara yang mampir.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: