MINGGU, 7 AGUSTUS 2016

BREBES --- Terik matahari siang itu begitu menyengat. Namun, Turinah yang merupakan perajin batu bata merah di Desa Kaliwungu Kecamatan Bantarkawung Kabupaten Brebes seolah tidak menghiraukannya. Tangannya terus mengaduk dan membuat cetakan batu bata merah dari tanah liat.


Dalam melakukan aktivitas pekerjaannya Turinah bersama Tarjo, Dasem dan wasri saling berbagi tugas, Cetakan batu bata yang berbentuk persegi panjang itu disusun berjajar Sementara cetakan batu bata yang telah kering ditumpuk dengan rapi di tempat pembakaran.

“Kami saling berbagi tugas saja,ada yang menata batu bata untuk dikeringkan, mengaduk tanah, mencetak. Jumlah pekerja disini 8 orang, setiap harinya kita produksi menghasilkan 500 buah,”ujar Turinah terangnya, Minggu (7/8/2016).

Disebutkan, mereka sebatas pekerja saja, untuk penjualan secara mentahan, belum dibakar seharga Rp.150 -/Bijinya sedangkan untuk batu bata yang sudah jadi itu harganya Rp.650 - /Biji, sedangkan untuk upah per 1.000 Biji nya di hargai Rp.150.000. Sementara bahan baku tanah dibeli satu mobilnya Rp.70.000.

Allhamulillah dalam satu bulannya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga Rp.1.5 Juta, ya walaupun dengan panas panasan, semua itu harus disyukuri, Kalau sekedar hanya mengandalkan buruh tani sifatnya musiman, rata rata penduduk di wilayah desa Kaliwungu, Kecamatan Bantarkawung hampir kesemuanya produksi batu bata merah,“jelasnya.


Dasem (65) mengatakan, untuk melakukan proses pencetakan dan penjemuran batu bata liat membutuhkan waktu selama tiga hari, setelah kering kemudian cetakan batu bata tersebut dibakar diatas tungku perapian selama sehari semalam. Agar kulitasnya baik untuk proses pembakaran menggunakan kayu bakar sekam.

“Selain mudah mendapatkan bahan baku, proses penjemuran, pengeringan, dan pembakaran batu bata merah juga lebih cepat. Kemudian, produksi batu bata merah itu bisa disimpan sampai sepanjang musim,“pungkas Dasem.
[Yusfi Wawan Sepriyadi]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: