MINGGU, 7 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Kudapan renyah berupa kerupuk dari melinjo yang dijadikan teman makan soto, sop serta jadi makanan ringan. Salah satu hasil pertanian di wilayah lereng Gunung Rajabasa Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan, Lampung tersebut yang diolah menjadi emping dan keceprek rata rata dilakukan oleh kaum wanita. 


Sebagai salah satu wanita ibu rumah tangga, Suharti (40) merupakan satu dari sekian wanita yang memanfaatkan waktu luang dengan potensi buah melinjo yang ada di lereng Gunung Rajabasa untuk pembuatan emping dan keceprek.

Suharti menekuni usaha pembuatan emping sejak tahun 2000 dengan tekhnik yang sederhana menggunakan alat pemukul khusus yang telah disiapkan. Emping sebetulnya hanya merupakan salah satu hasil dari pohon melinjo atau dikenal dengan tangkil di Desa Way Kalam dan Dusun Merambung, dua wilayah di lereng Gunung Rajabasa yang masih menjaga keasrian kawasan hutan Rajabasa dengan wilayah hutan lindungnya.

Saat melinjo masih muda, daun serta bakal melinjo yang dikenal sebagai kroto merupakan bahan sayur yang diperjualbelikan di pasar tradisional. Menginjak masa tua melinjo yang sudah matang berwarna kuning hingga merah dimanfaatkan sebagai sayur pada bagian kulit dan bagian isi digunakan sebagai bahan baku emping atau keceprek. Setelah pohon cukup tua dan mulai tidak produktif batang melinjo masih dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan parut, alat rumah tangga dan jika tak terpakai masih bisa dijual sebagai bahan kayu bakar pembuatan bata merah.

“Sejak ratusan tahun lalu turun temurun kami diajari cara memanfaatkan tanaman hasil kebun kami dan melinjo merupakan salah satu hasil perkebunan yang sangat banyak manfaatnya bisa dijadikan salah satu sumber penghasilan,”ungkap Suharti saat ditemui Cendana News di dapurnya saat sedang mengolah melinjo menjadi emping, Minggu (7/8/2016).

Ia mengaku sebagian wanita di desa tersebut masih menggunakan teknik tradisional dalam pembuatan emping melinjo. Hingga kini bahkan hanya tercatat satu juragan penampung emping melinjo yang sudah jadi sekaligus bahan baku melinjo kering yang telah dijemur dengan mempekerjakan beberapa wanita.

Proses pengerjaan pun terbilang sederhana, buah melinjo yang dipanen di lereng Gunung Rajabasa selanjutnya dikumpulkan dan dijemur selama beberapa hari. Setelah kering cangkang cukup keras akan disangrai menggunakan pasir yang digoreng dalam wajan terbuat dari tanah. Setelah cukup masak yang ditandai dengan pecah dan mengelupasnya kulit keras, akan didinginkan selanjutnya digeprek atau dipukul dengan alat khusus menyerupai palu.

Proses membuat pipih buah melinjo menjadi emping tersebut terlihat sederhana namun membutuhkan ketelatenan dan kesabaran. Satu biji melinjo yang dipipihkan akan disatukan dengan dua atau tiga melinjo bahan emping untuk dibuat menjadi kerupuk dengan diameter bisa mencapai 3 centimeter. Dengan alat sederhana Suharti dan kaum wanita lain membuat kudapan tersebut.

Alat penumbuk terbuat dari besi yang dilapisi dengan plastik dan karet sementara alas untuk menumbuk terbuat dari batu alam yang banyak terdapat di lereng Gunung Rajabasa. Proses menyangrai menggunakan pasir dalam wajan dipanaskan dengan bahan bakar kayu sehingga Suharti tetap harus menahan napas terpapar asap yang membakar kayu untuk proses pematangan.

“Melinjo yang disangrai harus sering dibolak balik agar tidak gosong dan bisa dipipihkan menjadi emping”ungkapnya.

Setelah biji melinjo dipipihkan proses selanjutnya melinjo dijemur dalam karung karung dengan cara diasapkan agar menciptakan sensasi renyah dan dalam kondisi cuaca panas emping dijemur di halaman atau di atas genteng.

Setelah kering, proses pembuatan emping selesai menjadi bahan baku untuk disetor ke pengepul atau dikenal sebagai bos. Oleh bos pengepul satu kilogram melinjo yang telah menjadi emping dibeli dengan harga Rp25ribu sementara emping yang dijual di pasar oleh pengepul bisa mencapai Rp30ribu perkilogram.

Selain Suharti, Suminah merupakan pengrajin emping yang melakukan pengolahan emping setengah jadi menjadi emping dengan aneka rasa diantaranya original, pedas serta rasa gurih. Setelah memperoleh bahan baku emping matang diantaranya dari Suharti, Suminah melakukan penampuran bumbu terbuat dari garam, penyedap rasa, dan bumbu pedas agar cita rasa emping lebih nikmat. Bumbu pedas menurut Suminah berasal dari campuran bawang putih, bawang merah, cabai serta gula.

Meski dilakukan dengan skala kecil dan cara tradisional namun pembuatan emping matang oleh Suminah banyak diminati oleh beberapa warung soto yang ada di pasar tradisional Pasuruan serta warung makanan. Emping yang telah dibuat biasanya dijual dalam kondisi siap goreng sementara keceprek merupakan emping siap santap menjadi kudapan dengan berbagai rasa.


Sebagai kudapan renyah keceprek dijual dengan harga Rp30ribu satu kilogramnya karena dijual dalam kondisi siap santap. Sementara harga emping siap goreng yang lebih awet bisa dijual dengan harga Rp35ribu-Rp40ribu perkilogram.

Ia mengaku bersama dengan kaum wanita lainnya ia berhasil membuat emping dan keceprek sebanyak 100 kilogram hingga 200 kilogram per bulan. Sebagai sentra penghasil buah melinjo, sebagian kaum wanita memanfaatkan peluang buah tersebut sebagai sumber penghasilan tambahan.

Suminah mengaku selama ini masih menggunakan alat tradisional untuk proses pembuatan keceprek dan emping. Ia dan kaum perempuan yang sebagian membentuk kelompok pemberdayaan makanan tradisonal hasil pertanian berharap mendapat bantuan pemerintah berupa alat pengupas, alat masak serta alat pengemas emping yang telah diolah.

“Kalau harapan kami dapat bantuan alat yang bisa dipergunakan untuk pengemasan serta pengolahan agar produk kami bisa dikenal luas sebagai makanan tradisional asli dari Lampung”ungkap Suminah.

Ia mengaku meski sumber daya alam yang dimiliki sebagian besar dari hasil perkebunan, sebagian besar kaum wanita di desa tersebut mampu mengolah berbagai hasil perkebunan menjadi makanan olahan yang lebih bernilai ekonomis tinggi. Sebagai lokasi penghasil melinjo tak mengherankan kawasan desa di lereng Gunung Rajabasa tersebut dikenal sebagai sentra pembuatan emping dan keceprek, kudapan renyah yang digunakan sebagai teman makan nasi maupun soto daging.
[Henk Widi]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: