MINGGU, 14 AGUSTUS 2016

CATATAN JURNALIS --- Memahami tokoh besar, dibutuhkan hati dan jiwa yang besar. Tanpa kebesaran hati dan jiwa, seorang tokoh sebesar dan sebaik apa pun pasti hanya akan dicelanya. Sifat inilah yang harus dimiliki generasi sekarang, agar bisa melihat perjalanan sejarah bangsa ini dengan jernih.


Selama dalam kepemimpinan Pak Harto, begitu banyak tokoh politik negeri ini dipenjarakan. Namun, dari sekian tokoh politik yang pernah dipenjarakan di zaman Orde Baru, tak semua hanya menyisakan dendam kesumat. Sebaliknya, banyak kisah dari para mantan tahanan politik di zaman Pak Harto di kemudian hari justru mengungkap betapa besarnya kenegarawanan Pak Harto.

Kisah yang disampaikan Andi Mappataheng (A.M) Fatwa dalam Buku PAK HARTO, THE UNTOLD STORIES, begitu menyentuh dan seharusnya mampu membuka mata batin segenap elemen bangsa ini. Bukan untuk menafikkan sebuah kesalahan atau keburukan, melainkan agar lebih arif dalam memahami semua hal tentang Pak Harto sebagai sebuah sejarah bangsa, bukan sekedar sebagai sosok tunggal seorang manusia bernama Pak Harto. Dan, sebagai sejarah suatu bangsa, baik buruknya ditentukan oleh segenap elemen bangsanya pada waktu itu.

A.M. Fatwa pernah divonis 18 tahun penjara karena perlawanan politiknya terhadap Orde Baru, menuliskan dalam buku itu, bahwa meski Pak Harto pada waktu itu menjadi penanggung-jawab politik secara nasional, namun Fatwa menyadari jika yang dialaminya pada hakikatnya bukan kehendak pribadi Pak Harto. Namun, merupakan tanggung-jawab dari kehendak bersama sebuah rezim. Karenanya, Fatwa mengaku tak menaruh dendam kepada intelijen di lapangan, maupun kepada pucuk pimpinan tertinggi politik termasuk Pak Harto.

Sikap Fatwa pun kemudian dikecam oleh kawan-kawan seperjuangannya sewaktu melakukan perlawanan politik terhadap Orde Baru. Bahkan disebutkan Ali Sadikin marah, ketika Fatwa menyatakan harapannya kepada media massa, agar semoga Pak Harto khusnul khatimah dalam mengakhiri masa pemerintahannya.

Fatwa bukan tokoh karbitan yang besar ketika terjadi geger reformasi. Fatwa bahkan pernah dipenjarakan pula karena perlawanan politiknya terhadap rezim Orde Lama di zaman Bung Karno. Namun dengan tegas Fatwa menyatakan, tak pernah menaruh dendam pribadi kepada kedua tokoh besar Orla dan Orba, Bung Karno dan Pak Harto.

Bahkan dalam buku itu pula, Fatwa menuliskan pesan dari Mr. Syafruddin Prawiranegara yang disampaikan kepadanya ketika masih berada di penjara. Pesan itu mengatakan, agar dalam berhadapan dengan lawan politik sebaiknya kita berasumsi bahwa lawan politik kita itu tidak mungkin sepenuhnya salah, sebaliknya tidak mungkin pula pihak kita sepenuhnya benar.

Tak mudah memang melakukan hal serupa yang dilakukan Fatwa. Namun dalam buku itu pula Fatwa mengatakan, jika hal tersebut bisa dilakukannya karena telah memiliki banyak bekal, yaitu teladan sopan santun dalam pergaulan politik. 

Sekarang, sudahkah bangsa ini memiliki cukup bekal dalam menghadapi pergaulan politik?

Fatwa hanya salah satu saja dari sekian tokoh yang mengungkap sosok Pak Harto dalam bingkai kejujuran. Betapa Fatwa secara reflek mencium kening Pak Harto, ketika membesuknya saat masih terbaring sakit di Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta tahun 2007. 

"Itu saya lakukan karena saya menangkap penerimaan yang tulus dari pancaran wajah Pak Harto atas kedatangan saya", tulis Fatwa di buku itu.

Tentu saja, peristiwa tersebut membuat semua kerabat Pak Harto yang melihatnya tercengang. Dan, Fatwa pun merasa maklum, karena selama ini tak pernah ada orang selain keluarga dan kerabat yang berani menyentuh wajah Pak Harto yang sangat disegani. Terlebih bagi kita, kala menyadari yang mencium kening Pak Harto adalah Fatwa, lawan politik Orba yang pernah dipenjarakan oleh rezim Orba. (koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: