JUMAT, 5 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Sejak membudidayakan Kambing Peranakan Etawa (PE) untuk diambil susunya, pendapatan warga Dusun Gunung Butak, Patuk, Gunungkidul mengalami peningkatan. Apalagi, limbah Kambing PE juga bisa diolah menjadi pupuk organik yang selain digunakan sendiri juga dijual.

Kambing PE
Sejak setahun lalu, warga Dusun Gunung Butak yang tergabung dalam Kelompok Peternak Ngudi Makmur 2 mulai membudidayakan Kambing PE. Selain untuk diambil susunya, warga juga memanfaatkan kotoran dan urin Kambing PE untuk diolah menjadi pupuk organik.

Dalam sehari, dari satu ekor indukan Kambing PE bisa diperoleh sebanyak 1-2 liter susu dengan harga jual Rp. 20.000 Per Liternya. Sementara, saat ini ada sebanyak 8 ekor Kambing PE yang bisa diperah setiap harinya. Selain dijual kepada warga sekitar, susu Kambing PE hasil perahan Kelompok Ngudi Makmur 2 juga disetorkan ke Taman Teknologi Pertanian Nglanggeran (TTPN) Gunungkidul untuk diolah menjadi susu bubuk dan jenang dodol.

Ketua Kelompok Ngudi Makmur 2, Rubiyo, ditemui Jumat (5/8/2016), mengatakan, awal mula beternak Kambing PE bermula dari adanya bantuan hibah Kambing PE dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta, sebanyak 20 ekor terdiri dari 16 indukan betina dan 4 pejantan yang diperuntukkan sebagai proyek percontohan dan perbaikan ekonomi warga setempat. Kambing-kambing tersebut kemudian dikelola bersama-sama dalam sebuah kelompok yang beranggotakan 18 orang sejak September 2015. 

Proses memerah susu
Dari 20 ekor kambing itu, kini telah berkembang menjadi 46 ekor. Dengan berkembangnya kambing hasil dari bantuan itu, Rubiyo mengaku sangat terbantu dan perekenomian warga mengalami peningkatan. Bahkan, katanya, dengan komoditas susu kambing itu para ibu yang sebelumnya tak memiliki pekerjaan menjadi bisa bekerja menambah penghasilannya.

Beternak Kambing PE, lanjut Rubiyo, relatif tak ada kendala berarti. Hanya butuh kesabaran dan rajin membersihkan kandang, agar kambing selalu dalam keadaan bersih dan sehat. Kambing PE mulai bisa diperah susunya setelah melahirkan anakan, yaitu pada usia 1,5-2 tahun.

"Saat ini ada 8 ekor kambing yang bisa diperah. Dari 8 ekor kambing itu bisa menghasilkan sekitar 160 liter susu, dan tiap tiga hari sekali kami bisa menyetornya sebanyak 30-35 liter ke TTP Nglanggeran", pungkasnya. (koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: