SENIN, 8 AGUSTUS 2016

MAUMERE --- Dalam meningkatkan pendapatan petani,kelompok tani Sinar Tani Detugau, desa Bhera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka menjadikan pisang sebagai salah satu produksi pertanian yang perlu dikembangkan. Kelompok yang beranggotakan 15 orang petani ini, mengolah pisang menjadi keripik.


Petani memiliki sumber daya ekonomi yang belum dikembangkan sehingga perlu diberdayakan.Selama ini komoditi pisang hanya dijual kepada pengumpul dengan harga murah untuk di jual lagi ke Surabaya dengan harga selangit.

Demikian disampaikan Hery Naif, Koordinator Advoakasi,Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Hasil Wahana Tani Mandiri saat ditemui Cendana News,Senin (8/8/2016).Dikatakan Hery,petani tetap miskin sebab pisang Kepok produksinya hanya dihargai 25 ribu rupiah satu tandannya.

“Petani tidak mendapat keuntungan besar,untuk itu petani didorong agar mandiri dengan mengolah hasil pertanian menjadi produk yang mempunyai nilai ekonomis,” ujarnya.

Dijelaskannya,para petani didorong memanfaatkan potensi wilayahnya sebagai sumber daya yang dapat mendukung pengelolaan pertanian di wilayahnya.Selain itu WTM sebutnya teru mendorong keterlibatan berbagai pihak terutama pemerintah desa untuk melihat petani sebagai salah satu kelompok yang harus mendapatkan akses anggaran dalam APBDes. 

Lebih dari itu, kata Hery,para petani perlu meningkatkan kapasitas diri untuk mengelola hasil pertanian yang dihasilkan agar mampu bersaing di pasar.Bila tidak,para petani sebatas menjadi penjaga kebunnya para pihak yang memiliki uang. 

Karena itu,sambungnya,WTM secara kelembagaan dalam kerja sama WTM dengan Miserior Jerman dalam program “Peningkatan Kapasitas Masyarakat Tani dalam Adaptasi Perubahan Iklim lewat Pendekatan" Usaha Tani Berbasis Konservasi, salah satu aktifitasnya adalah mendorong pengolahan hasil petani agar masuk dalam pasar-pasar lokal.


Lebih lanjut Martinus Maju fasilitator lapangan WTM untuk wilayah kecamatan Mego kepada Cendana News di tempat yang sama mengatakan bahwa dirinya yang selalu berada di lapangan bersama petani,akan terus memotivasi petani agar secara teknis mendampingi petani. 

Malah petani ungkapnya,harus dimotifasi agar menjadikan segala sumber daya yang dimiliki menjadi modal dalam peningkatan pendapatan demi sebuah dampak baik sosial, ekonomi dan politik demi mencapai sebuah perubahan sosial dalam mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

Selain produksi pangan untuk pemenuhan kebutuhan keluarga, para petani juga sambung Hery,memiliki tanaman komoditi seperti kakao dan saat ini kelompok tani ini memiliki kebun contoh pengembangan tanaman holtikultura seperti sayur mayur.

Dalam areal satu hektar, para anggota kelompok tani Sinar Tani menanam berbagai tanaman sayur seperti : sawi, terong, lombok dan berbagai tanaman hortikultura lain yang dianalisa bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan selebihnya dipasok ke pasar.

“Model pertanian yang dibangun adalah sistem pertanian organik. Karena itu, para anggota yang memiliki ternak itu diminta menampung kotorannya agar kemudian dipasok ke kebun anggota,” ungkapnya.

Disaksikan Cendana News, acara pengolahan hasil yang dikembangkan WTM bersama kelompok tani dihadiri oleh Kosmas Wara ketua kelompok Sinar Tani dan Ernesita Dua Sina staf keuangan WTM.Kegiatan diselemggarakan di sekretariat Gapoktan Sinar Tani Detugau.
Kosmas ketua kelompok mengakui pihaknya sudah lama didampingi WTM dan sekarang dengan pola baru,petani dimotifasi untuk mengembangkan sebuah pola pertanian secara mandiri.(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: