KAMIS, 11 AGUSTUS 2016

CATATAN JURNALIS ---‎ Setiap hari, Made Suyanti harus pergi ke kebun untuk mencari kayu bakar. Kayu bakar itu digunakan perempuan 38 tahun itu untuk memasak berbagai keperluan di rumahnya, di ‎Banjar Bukian, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung.


Namun itu cerita dulu, ketika program biogas yang digagas oleh PT Tirta Investama belum menjamah desanya. Kini, Suyanti tak perlu repot-repot lagi mencari kayu bakar ke kebun. Dengan mengandalkan enam ekor babi miliknya, ia sudah bisa mendapatkan aliran gas yang dipasok melalui selang pipa.

Ia menceritakan, dibutuhkan sekitar ‎30 kilogram kotoran babi untuk menghasilkan energi biogas yang bisa digunakan seharian penuh. Kotoran babi itu awalnya akan dimasukkan ke dalam reaktor gas atau gester yang terletak di belakang rumah Suyanti. Gester berbentuk kubah beton itu berukuran sekira 1 meter kubik. Di sanalah kotoran babi itu diolah menjadi energi gas.

Setelah diolah, kotoran hewan tersebut dialirkan melalui pipa ke dapur rumah tempat tinggal Suyanti. Pipa itu terhubung dengan saluran gas yang mengaliri ke kompor gas milik Suyanti. Alhasil, ia bisa memasak kapanpun tanpa memikirkan persediaan kayu bakar seperti dahulu kala.

"Apinya biasa normal. Tidak ada baunya kalau sudah diolah menjadi gas seperti ini. Cara penggunaannya juga seperti kompor gas pada umumnya, tinggal tekan panel untuk menyalakan kompor saja," kata Suyanti kepada Cendana News, Kamis 11 Agustus 2016.

Setelah diambil gasnya, kotoran babi tersebut akan dialiri ke tempat lain untuk diolah menjadi pupuk.‎ Pupuk organik itu yang biasa ia gunakan untuk menyuburkan tanaman miliknya di kebun.(Bobby Andalan)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: