KAMIS, 25 AGUSTUS  2016

LAMPUNG --- Bangunan rumah ibadah keagamaan selama ini cenderung memiliki ciri khas indah, megah serta penuh dengan sentuhan arsitektur lengkap dengan ornamen yang unik. Pembuatan rumah ibadah dengan sentuhan arsitektur indah tersebut menjadi ungkapan syukur umat beriman untuk melakukan ibadah serta kegiatan lain yang bisa mendekatkan diri umat dengan pencipta. 


Kondisi tersebut agaknya belum bisa dicecap oleh umat Kristiani yang ada di pekon Way Haru Kecamatan Belimbing Bengkunat Kabupaten Pesisir Barat. Keterbatasan umat serta jumlah umat yang relatif sedikit membuat umat masih tetap beribadah di sebuah bangunan gereja yang sederhana meski terbuat dari dinding papan beratapkan asbes dengan beberapa bangku kayu untuk tempat duduk umat yang akan beribadah.

Beratapkan asbes, berdinding papan dengan mimbar dan tempat duduk dari kayu kelas biasa serta lantai tanah masih tetap dipertahankan sejak gereja tersebut berdiri beberapa tahun silam. Menurut pendeta Gereja Bethel Indonesia (GBI) Way Haru, Petrus Larosa, gereja yang awalnya masuk ke wilayah administratif Kabupaten Lampung Barat hingga saat ini mengalami pemekaran dan masuk Kabupaten Pesisir Barat masih dalam kondisi seperti saat dibangun.


"Sejak berdiri dengan adanya izin dari pemerintah kabupaten hingga izin dari masyarakat yang tinggal di sekitar sini bangunan gereja kami tetap seperti ini dan kami masih tetap menggunakan bangunan ini sebagai tempat ibadah bagi umat Kristiani yang saya layani" ungkap pendeta Petrus Larosa kepada media Cendana News, Kamis (25/8/2016).

Ia mengungkapkan saat ini meski menempati bangunan sederhana bahkan tak layak disebut sebagai gereja namun umat yang dilayaninya berjumlah tidak lebih dari 10 kepala keluarga (KK) terdiri dari orang dewasa serta beberapa anak laki-laki dan perempuan. Ibadah atau kebaktian dilakukan setiap hari Minggu dan kegiatan lain persekutuan dilakukan di gereja yang memiliki visi: Menjadi jemaat yang dewasa seperti Kristus tersebut.


Berada di dekat kawasan Taman Nasional Tampang Belimbing (Tambling), gereja Bethel Indonesia yang ada di dekat Samudera Hindia tersebut menurut Pendeta Petrus Larrosa yang berasal dari Pulau Nias, Sumatera Utara tersebut hingga kini jarang dikunjungi. Ia bahkan mengaku saat ini kunjungan rutin hanya dilakukan oleh hamba hamba Tuhan yang datang dari Jakarta diantaranya M.Supriyanto dan Hindar.S yang peduli dengan keberadaan gereja di pedalaman.

Lokasi yang sangat jauh dengan jarak tempuh mencapai lebih dari 40 kilometer dengan jalan harus melalui pesisir pantai, jembatan gantung serta medan yang berat membuat wilayah termasuk umat di gereja tersebut tak pernah mendapat sentuhan pembangunan atau kepedulian dalam hal rohani. Meski demikian Petrus Larossa mengaku tetap berkarya bagi umat yang dilayaninya dengan bekerja di tempat yang jauh dari kota Kecamatan yang harus ditempuh selama berjam jam menggunakan kendaraan gerobak sapi atau kendaraan roda dua.


Ia mengaku di kawasan yang jauh di pedalaman, umatnya sebagian besar merupakan petani penanam kakao, kelapa serta padi. Meski demikian ia mengaku toleransi umat di wilayah tersebut cukup terjaga dengan beragam suku diantaranya suku Nias, suku Jawa, Suku Lampung, Suku Bali yang hidup secara berdampingan dan tetap menjaga toleransi dalam kehidupan beragama.

"Kami hidup di pedalaman dan tetap hidup berdampingan dan pendirian gereja sederhana ini merupakan campur tangan Tuhan serta umat agama lain yang memperbolehkan kami mendirikan tempat ibadah di sekitar rumah kami" ungkap Patrus Larossa.

Beberapa bangunan gereja yang bocor atap, lantai tanah serta dinding papan yang sebagian dimakan rayap tak menyurutkan dan mengurangi kekhusyukan ibadah beberapa umat yang dilayani oleh pendeta berperawakan kecil tersebut. Ia tetap berharap pemerintah atau umat Kristiani yang peduli dengan keberadaan gereja tersebut tetap bisa mendoakan agar umat di GBI Way Haru juga memiliki gereja permanen yang bisa dijadikan tempat ibadah yang nyaman.
(Henk Widi) 
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: