JUMAT, 19 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Upaya penyelundupan ratusan burung berkicau berbagai jenis dari daerah Tugumulyo Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan digagalkan oleh petugas Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas I Bandarlampung wilayah kerja Bakauheni. 


Ratusan ekor burung berkicau tersebut diamankan saat akan diseberangkan melalui Pelabuhan Bakauheni oleh oknum sopir bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) tersebut. Ratusan ekor burung diselundupkan dengan cara disembunyikan di ruang tidur sopir dan berusaha disembunyikan dengan cara ditutupi menggunakan selimut.

Menurut penyidik PPNS BKP wilayah kerja  Bakauheni, Buyung Hadiyanto, ratusan ekor burung berkicau berbagai jenis diantaranya colibri, perkutut, tekukur serta jenis lain diamankan karena tidak dilengkapi dokumen karantina. Dokumen yang tak disertakan diantaranya surat keterangan kesehatan (SKKH), izin pengepul dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (SKKH) yang dipersyaratkan.

“Kami terpaksa amankan karena pengiriman burung berkicau dengan bus sudah terjadi berkali kali dan tidak pernah ada efek jera pelaku bahkan kasus ini justru semakin banyak diselundupkan menggunkan bus penumpang,”terang Buyung Hadiyanto saat dikonfirmasi Cendana News, Jumat (19/8/2016).

Penyidik BKP Pertanian Bakauheni, Buyung Hadiyanto mendampingi Penanggung jawab kantor kepala karantina pertanian wilayah kerja Bakauheni, Drh. Azhar mengungkapkan, pengamanan dilakukan karena pengirim tidak bisa menunjukkan dokumen yang sah terkait pengiriman satwa tersebut. 

Rusli salah satu petugas karantina pertanian yang melakukan pengecekan ke dalam bus Putra Remaja bernomor polisi AB 7150 AS mengungkapkan ratusan burung dalam sangkar dan keranjang buah tersebut berusaha disembunyikan oleh sopir. Sopir mengaku ratusan ekor burung tersebut merupakan titipan milik seseorang asal Muntilan Jawa Tengah bernama Sunyoto.

“Sopir berusaha menyuap petugas dengan memberikan uang ratusan ribu namun petugas kami tetap mengamankan ratusan burung tersebut dan langsung dibawa ke kantor karantina dan langsung dilepasliarkan,”ungkap Buyung Hadiyanto.

Setelah diamankan ratusan ekor burung tersebut segera menjalani pemeriksaan petugas terkait kelengkapan dokumen. Untuk menghindari kematian burung dalam sangkar tersebut petugas BKP Bakauheni segera melakukan pelepasliaran di sekitar halaman kantor BKP.

Buyung mengungkapkan, burung burung tersebut terpaksa dilepasliarkan karena tidak disertai dokumen izin pengepul dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) tempat asal burung tersebut ditangkap, Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) serta dokumen yang dipersyaratkan oleh karantina.

Upaya pengamanan sekaligus pelepasliaran ratusan ekor burung tersebut mengacu pada Undang Undang No 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan. Selain menyalahi undang undang, tindakan pelepasliaran dilakukan untuk menghindari banyaknya burung yang mati selama dalam perjalanan akibat penanganan pengiriman yang tidak semestinya. Beberapa ekor burung bahkan dalam kondisi sudah mati sebelum beberapa ratus ekor diantaranya dilepasliarkan di alam terbuka di sekitar kantor BKP Bakauheni.

Pada awal Agustus BKP Bakauheni juga melakukan pelepasliaran burung jenis burung berkicau yang diamankan tersebut diantaranya jenis Ciblek, Pleci, Prenjak serta jenis burung lain yang tidak dilindungi. Berdasarkan data, sebanyak 6 keranjang buah berisi masing masing 100 ekor burung tersebut diperkirakan mencapai 600 ekor.


Penanggungjawab kepala kantor BKP Bakauheni, Drh.Azhar mengakui upaya pelalulintasan satwa tanpa dokumen terus dilakukan oleh pihak pihak yang tak bertanggungjawab. Namun pihak karantina terus melakukan pengawasan dengan menyiagakan petugas karantina di pos jalan lintas Timur Sumatera, Jalan Lintas Sumatera serta di pintu masuk Pelabuhan Bakauheni.

Pengiriman satwa tak dilindungi menurutnya harus disertai dengan dokumen karantina dan diletakkan dalam tempat khusus terutama jika dilalulintaskan menggunakan kendaraan penumpang. Pengiriman satwa jenis burung yang disatukan dengan penumpang dikuatirkan akan mengganggu pernapasan para penumpang terutama jika kondisi bus merupakan kendaraan AC.
[Henk Widi]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: