KAMIS, 18 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Sekolah Dasar Tumbuh 2 Yogyakarta menerapkan pola pembelajaran yang berbeda. Sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Edukasi Anak Nusantara itu tak mewajibkan anak-anak membawa buku, bahkan tak ada Pekerjaan Rumah (PR) bagi para siswanya.

Karya siswa SD Tumbuh 2 Yogyakart dipajang di dinding sekolah
Sekolah Dasar Tumbuh 2 Yogyakarta menerapkan model pembelajaran eksploratif. Para siswa diberi pembelajaran dengan cara yang menyenangkan, bersifat praktikum, dan seminim mungkin tak diberi beban akademis. Bahkan, para siswa pun tak membawa buku tulis seperti siswa di sekolah pada umumnya. Juga tak ada Pekerjaan Rumah (PR) bagi siswa, karena hal itu dinilai membebani siswa di rumah.

Kepala Sekolah SD Tumbuh 2 Yogyakarta, Jamilludin, ditemui Kamis (18/8/2016), menjelaskan, metode ekplorarif diterapkan agar siswa dalam proses pembelajaran bisa langsung menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai mata pelajaran sesuai kurikulum, diterapkan melalui kegiatan alam sehingga lebih menyenangkan dan tidak membebani siswa.

Dicontohkan Jamilludin, pelajaran matematika bisa dilakukan dengan menyuruh anak didiknya belanja seekonomis mungkin di sebuah mini market dan dilombakan. Siswa diharuskan memilih harga suatu barang yang sama dengan harga yang paling murah, dengan uang yang disediakan sebesar Rp. 5.000. Siswa yang mendapatkan uang kembalian paling banyak menjadi pemenangnya.

Dengan cara itu, kata Jamilludin, siswa tentu saja harus pandai berhitung. Dan, dengan pola pembelajaran demikian, katanya, siswa didik tidak hanya mendapatkan pelajaran matematika, namun juga mendapatkan pembelajaran lain seperti sosial dan cara hidup hemat.

Jamilludin menunjukkan lembar kerja siswa
Inti dari metode pembelajaran ekploratif adalah menghindari beban akademis yang terlalu berat bagi siswa. Dengan diberi kebebasan seluas-luasnya, siswa yang di sekolah lain dianggap bodoh atau kurang menguasai bidang akademis dengan ukuran nilai, bisa terasah bakat terpendamnya melalui metode eksploratif. Karenanya, kata Jamilludin, di sekolahnya ada siswa yang sebelumnya ditolak di sekolah negeri. Bahkan, juga ada siswa yang semula menjadi korban bully atau cemooh di sekolah lain. 

Kemampuan akademis, kata Jamilludin, bukan harga mati. Pasalnya, setiap anak memiliki potensi bakat sendiri-sendiri sesuai kadar dan keinginannya. Dengan semangat tak ingin membenani siswa, pun SD Tumbuh 2 tak mengharuskan siswanya membawa buku. Semua materi pelajaran sudah disiapkan oleh para guru dalam bentuk lembar kerja. Selain meringankan dan memudahkan bagi siswa untuk belajar, cara tersebut juga menjadi solusi bagi siswa yang seringkali harus membeli buku pelajaran yang setiap tahun atau bahkan setiap semester sering berganti.

"Kami juga tidak memberikan pekerjaan rumah bagi siswa, karena menurut kami hal itu membebani siswa. Juga tidak ada siswa yang tinggal kelas. Semua naik kelas, meski ada tambahan jam belajar di kelas berikutnya bagi siswa yang sebenarnya tinggal kelas" ujarnya.

Salah satu kegiatan di SD Tumbuh 2 Yogyakarta
Menurut Jamilludin, kebijakan menaikkan siswa yang sebenarnya tidak naik kelas dilakukan agar siswa tidak mengalami beban psikologis. Juga tidak ada sistem rangking atau peringkat bagi siswa, karena hal itu juga akan memberi dampak psikologis dan sosial bagi siswa.

Jamilludin mengatakan, dengan metode pembelajaran ekploratif, anak-anak bisa lebih berkreasi secara lebih maksimal. Pihak sekolah pun memberi ruang agar karya para siswa bisa dipajang di dinding sekolah dan bisa dinikmati bersama. Hal demikian dikemas dalam sebuah konsep Galeri Museum Sekolah.

Selain tidak membebani siswa, pola pembelajaran ekploratif juga memudahkan bagi orangtua siswa. Jika siswa sakit dan tak bisa berangkat sekolah, orangtua siswa bisa meminta pelajaran yang tertinggal melalui email atau grup whatsapp. 

"Dengan model pembelajaran itu juga tidak mengurangi prestasi siswa. Sebaliknya, siswa menjadi lebih mandiri dan berkarakter serta berani mengkritik" pungkas Jamilludin.(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: