SELASA, 23 AGUSTUS 2016

MALANG --- Banyaknya persepsi buruk yang beredar di tengah-tengah masyarakat mengenai mie instan, membuat sebuah keluarga di Kota Malang memutuskan untuk memproduksi mie sehat 'Noodle ku' dengan cara menambahkan sari buah dan sayuran serta mengurangi penggunaan zat aditif pada mie.


Bertempat tinggal di jalan Babatan No.62, Adito Budiono (30) warga kelurahan Arjowinangun kecamatan Kedungkandang Kota Malang mulai memproduksi dan menjual mie 'Noodle ku' sejak bulan November 2015.

"Semula saya melihat di pasaran, produk mie instan banyak disukai masyarakat. Kemudian saya dan keluarga berfikir untuk menciptakan suatu produk yang serupa namun dengan meminimalisir kandungan zat aditifnya," jelasnya kepada Cendana News, Selasa (23/8/2016).

Terlepas dari benar atau tidaknya persepsi yang berkembang di masyarakat bahwa mie instan tidak baik untuk kesehatan karena mengandung bahan penyedap berupa Monosodium glutamat (MSG) dan juga pengawet, ia mencoba memproduksi mie sehat tanpa MSG dan dengan menambahkan sari buah dan sayuran ke dalam mie.

Dari situ kemudian Adito mulai bereksperimen membuat mie sehat dari bulan Agustus hingga September 2015. Namun sayang, hasil eksperimennya ternyata gagal karena mie yang ia buat mudah patah.

"Setelah gagal, kemudian saya putuskan untuk mengikuti kursus pembuatan mie di daerah Surabaya selama beberapa waktu. Dan Alhamdulillah usai kursus di tempat tersebut, kemudian ilmunya saya praktekkan di Malang akhirnya berhasil juga," ungkap alumni Politeknik Negeri Malang tahun 2008 ini.

Untuk membuat mie 'Noodle ku' bapak dari dua orang anak ini mengaku hanya sedikit menggunakan zat aditif sebagai konsistensi kekenyalan mienya saja namun tanpa bahan pengawet. Selain itu ia juga menambahkan sari Bayam hijau, sari Wortel dan sari buah Bit.


"Dari bentuk mentah tersebut, selanjutnya mie di kukus untuk kemudian di keringkan menggunakan oven. Setelah itu didiamkan beberapa menit baru kemudian di masukkan ke dalam kemasan bersama dengan kemasan bumbunya," terangnya.

Sedangkan untuk bumbunya, Adito mendatangkannya dari Tangerang. Menurutnya, bumbu yang ia datangkan dari Tangerang tersebut tidak mengandung MSG serta sudah berlabel Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

"Awalnya saya hanya menggunakan bumbu rasa Jamur saja. Tetapi ternyata respon masyarakat cukup bagus dan akhirnya kita tambah dua varian rasa lagi yaitu rasa Sapi dan Ayam yang kesemuanya bisa di nikmati dalam bentuk mie goreng maupun mie kuah,"ujarnya. 

Selain mie, kita juga membuat sendiri bubuk cabe yang digunakan untuk memberikan rasa pedas pada mie yang kita produksi, tandasnya.

Lebih lanjut Adito menjelaskan, untuk memproduksi mie 'Noodle ku' ia di bantu istri dan seorang karyawan. Dalam sehari, ia dapat memproduksi sekitar 90-100 keping mie.

Pada awal berjualan mie, Adito memasarkannya secara online, namun sekarang ia juga memasarkannya dalam bentuk keagenan dan distributor. Kini mie produksinya tersebut sudah beredar di area Jawa Timur, Bandung, Kalimantan Selatan dan Sumbawa.


Untuk harga, Adito menjual mienya tersebut dengan harga eceran yakni Rp. 4.500,- per bungkus. "Harga mie 'Noodle ku' ini memang sedikit lebih mahal dibandingkan dengan mie pada umumnya yang hanya berkisar Rp. 2.600,-" ucapnya. Sedangkan untuk agen maupun distributor harganya berbeda, imbuhnya.

Dengan usaha produksi mie 'Noodle ku', kini Adito bisa memperoleh omset sebesar Rp. 11 juta setiap bulannya. Ia juga telah mendapatkan ijin usaha dan masih dalam proses mendapatkan label Halal dari MUI Jawa Timur.

"Kedepannya saya juga akan membuat mie dengan kemasan cup sehingga lebih mudah untuk dinikmati," pungkasnya.

Sementara itu, sebelum menjadi pengusaha mie, Adito juga sempat menjadi seorang karyawan di suatu perusahaan dan juga sempat menjadi pedagang dengan menjual produk orang lain.
(Agus Nurchaliq)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: