SABTU, 13 AGUSTUS 2016

CATATAN JURNALIS --- Sebuah fakta, bahwa generasi tua yang masih hidup di zaman modern ini masih mengagumi dan merindukan Pak Harto. Bahkan juga generasi muda yang kini telah mau membuka hati dan mempelajari sejarah tanpa tendensi apa-apa. Namun di lain pihak, tentu saja juga masih ada yang menghujatnya.


Demikianlah realitas seorang tokoh besar dari golongan manusia biasa. Selalu ada pro dan kontra yang melingkupinya. Justru jika tanpa ada pro dan kontra itu bukan tokoh besar namanya. Melainkan, tokoh yang besar hanya karena dibuat-buat saja.

Pak Harto memimpin negara besar ini selama 32 tahun. Tak perlu banyak disampaikan dan sudah lumrah sekiranya, jika banyak prestasi yang dibuatnya semasa memimpin negeri ini. Hal yang tidak lumrah justru jika setelah kepemimpinan Pak Harto, situasi politik, ekonomi, sosial, budaya, tak lebih baik dari zaman Pak Harto.

Pada ranah itulah sekiranya dalam momentum peringatan kemerdekaan negara ini, generasi sekarang perlu melihat ke belakang. Bukan untuk sekedar membanding-bandingkan zaman ini atau zaman itu, melainkan lebih kepada upaya intropeksi diri demi perbaikan di masa kini dan mendatang.

Keyakinan atau adat masyarakat Jawa menyebut, tidak elok membicarakan keburukan orang yang telah tiada. Bahkan, seburuk apa pun orang itu, jika setelah meninggal dunia terasa yang teringat hanya kebaikannya saja. Inilah kearifan bangsa ini yang ternyata juga menjadi falsafah hidup Pak Harto yang dikenal dengan Mikul Dhuwur Mendem Jero.

Pepatah yang berarti memanggul, mengangkat atau menjunjung tinggi-tinggi dan memendam sedalam-dalamnya itu bermakna agar senantiasa generasi penerus menjunjung tinggi jasa-jasa leluhur, dan mengubur atau melupakan keburukan leluhurnya. Tetapi, demikiankah yang dialami Pak Harto? Celakanya, tidak.

Begitu melepas kedudukannya sebagai Presiden, hujatan demi hujatan dan bahkan fitnah keji justru diterimanya. Bahkan hingga di detik terakhir di masa hidupnya. Saat itu, bangsa ini seperti menjadi 'orang lain' sehingga tega menghujat Pak Harto, sang pejuang kemerdekaan yang perannya di kala itu sangatlah besar.

Bahkan hingga kini, sedikit saja orang yang telah mau menjernihkan nuraninya, untuk melihat sisi lain yang sebenarnya dari diri Pak Harto dan peristiwa-peristiwa sesungguhnya terjadi di masa akhir kepemimpinannya. Kebenaran seperti sengaja ditutupi, agar masyarakat tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan dialami Pak Harto dan bangsa ini.


Namun, jika masyarakat kini mau sejenak saja membuka dan membaca sebuah buku berjudul 'PAK HARTO, THE UNTOLD STORIES' akan ada banyak fakta tutur yang selama ini tak diketahui masyarakat tentang jati diri sebenarnya Pak Harto dan peristiwa sebenarnya yang dialami Pak Harto, sehingga dengan rela dan ikhlas mau menanggalkan jabatannya sebagai presiden.

Masyarakat lupa, jika pada saat itu Pak Harto adalah juga Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI/TNI). Jika hanya ingin mempertahankan kekuasaan, Pak Harto saat itu bisa saja mengerahkan ABRI untuk membantai siapa saja yang berusaha melengserkannya. 

Dan, karena itu, Fadli Zon yang menjadi Wakil Ketua DPR RI mengatakan, jika lengsernya Pak Harto bukan karena gerakan reformasi. Melainkan, keiklasan dan rasa cinta Pak Harto kepada rakyatnya, sehingga Pak Harto tak mau ada pertumpahan darah. 

Kesaksian yang sama dalam buku itu juga disampaikan oleh Teguh Juwarno. Bahkan, Teguh Juwarno menuliskannya dengan gamblang, bahwa Pak Harto tidak mau ada lagi darah mahasiswa yang tertumpah. Dan, karena kecintaannya kepada rakyat, Pak Harto memilih mundur dari kursi kepresidenan dan menjadi seorang negarawan.

Dalam buku yang sama pula, Fadli Zon menyatakan, banyak orang salah persepsi terhadap turunnya Pak Harto dari kursi kepresidenan dengan menganggapnya karena krisis moneter yang diakibatkan oleh banyaknya praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Melainkan, karena krisis moneter yang berubah menjadi krisis ekonomi dan meningkat menjadi krisis sosial politik, yang semua itu disebabkan oleh adanya perpindahan modal raksasa (global capital movement). Krisis itu bermula dari Thailand yang menular ke Indonesia, Korea Selatan dan banyak lagi. 

"Ini adalah krisis kapitalisme", tegas Fadli Zon, dalam buku tersebut. (koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: