KAMIS, 18 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Sebuah bangunan sederhana berukuran kecil di tepi Jalan Lintas Sumatera nyaris tak diperhatikan orang yang melintas, namun di dalam geudng berwarna hijau tersebut tersimpan sejarah dan tempat mempelajari segala hal tentang Gunung Krakatau. 


Gunung Krakatau merupakan sebuah gunung berapi di Selat Sunda penghubung Pulau Jawa dan Pulau Sumatera yang memiliki sejarah ledakan maha dahsyat pada tahun 1883. Meski menempati bangunan sederhana, namun bangunan di Desa Tajimalela, Kecamatan Kalianda tersebut menyimpan dokumen serta bukti-bukti sejarah terkait ledakan maha dahsyat gunung berapi di tengah laut tersebut.

Menurut A. Maulana selaku sekretaris Yayasan Krakatau (Krakatau foundation) Museum dan Research, bangunan yang masih sederhana tersebut sejatinya adalah museum yang merupakan embrio dari rencana pengembangan ke depan terkait segala hal tentang sejarah Krakatau serta dampak letusan yang bukti bukti sejarahnya masih banyak ditemukan di wilayah Lampung Selatan terutama di wilayah pesisir. Ia juga mengaku, meski secara historis museum Krakatau pernah "hijrah" di beberapa lokasi diantaranya di Provinsi Banten, di Kalianda namun saat ini museum yang ada merupakan rencana awal untuk menjadi museum yang representatif bagi penelitian serta segala hal terkait Gunung Krakatau.

Maulana mengaku di dalam museum tersebut pengunjung akan banyak mengetahui sejarah tentang Gunung Krakatau Purba yang sudah ada sejak masa kerajaan hingga masa penjajahan Belanda. Sejarah Gunung Krakatau tersebut diantaranya proses letusan yang terjadi sebelum tahun 1883 yang akhirnya membentuk gunung baru yang kini dikenal dengan Anak Gunung Krakatau dan dikelilingi oleh Pulau Sertung, Pulau Krakatau Purba dan Pulau Panjang. Sejarah tentang Gunung Krakatau tersebut dijelaskan secara tiga dimensi sehingga pengunjung bisa melihat proses terbentuknya gunung Krakatau seperti yang saat ini ada. Selain dalam bentuk miniatur, sejarah Gunung Krakatau dan dampaknya bisa dilihat dalam bentuk lukisan, foto, bukti tulisan surat kabar Belanda tentang peristiwa letusan Krakatau, buku buku, film serta benda benda peninggalan terkait Krakatau diantaranya fosil, artefak serta dampak sosio kultural bagi masyarakat di pesisir Rajabasa.

"Mempelajari Krakatau tidak bisa dilepaskan dengan sejarah awal terbentuknya gunung api aktif yang ada di tengah laut tersebut sebab selama ini orang hanya tahu Anak Gunung Krakatau yang sering dijadikan destinasi wisata oleh wisatawan mancanegara dan domestik,"ungkap A.Maulana yang juga sebagai pemandu bagi pengunjung untuk mengetahui sejarah Krakatau yang ada di museum tersebut saat ditemui media Cendana News, Kamis (18/8/2016).

Salah satu dampak letusan Gunung Krakatau diantaranya dampak dari peristiwa gelombang besar Tsunami yang dalam bahasa Lampung dikenal oleh masyarakat dengan "Klebu". Dampak dari tsunami maha dahsyat tersebut digambarkan secara visual di museum dalam bentuk lukisan, bukti bukti surat kabar yang terbit di Belanda, film film tentang dahsyatnya letusan Krakatau yang bahkan memusnahkan satu kawasan di Lampung Selatan yang pada zaman Belanda merupakan ibukota bernama Ketimbang. Sebanyak 4000 jiwa ditulis dalam sejarah meninggal akibat terkena tsunami dahysat dan paparan debu panas Krakatau yang hingga kini masih bisa dilihat bukti buktinya berupa kuburan massal, batu batu yang membeku yang berasal dari lava panas Gunung Krakatau yang terbawa ombak laut.


Saat ini kunjungan ke embrio museum Krakatau terang A.Maulana masih terbatas pada pengunjung yang tertarik secara khusus untuk melakukan penelitian terhadap Gunung Krakatau, mahasiswa, pelajar serta wisatawan dari luar negeri yang tertarik belajar Gunung Krakatau sebelum melakukan kunjungan langsung ke Gunung Krakatau. Beberapa foto, sisa-sisa fosil, artefak dari wilayah Keratuan Menangsi berupa pecahan pecahan keramik China yang menjadi bukti kedahsyatan Krakatau bahkan masih tersimpan secara utuh di museum tersebut. Beberapa fosil diantaranya merupakan binatang binatang laut yang terpapar oleh lava panas yang membeku di laut diantaranya binatang jenis gurita, kerang serta berbagai jenis binatang laut yang terdampak letusan Gunung Krakatau.

"Pengunjung biasanya hanya membaca sejarah Krakatau dari buku namun saat mengunjungi museum ini banyak yang akhirnya tahu betapa dahsyatnya dampak letusan Krakatau yang buktinya masih banyak disimpan di sini," ungkap A. Maulana.

Meski merupakan museum tematik berkaitan dengan Gunung Krakatau, namun berbagai ahli banyak melakukan kajian, riset serta penelitian khusus terkait Gunung Krakatau diantaranya dengan ditemukannya banyak dampak diantaranya sosio kultural masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut saat terjadinya letusan. Dampak sosio kutural tersebut diantaranya dengan terjadinya perpindahan masyarakat ke wilayah lain yang masih memiliki ikatan dengan wilayah pesisir yang rata rata merupakan masyarakat adat pesisir Saibatin. Berbagai dampak tersebut secara rapi tersusun dalam dokumen tulisan yang secara visual dapat dilihat di dalam museum.

Maulana mengungkapkan pembangunan museum tersebut merupakan koordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Bidang permuseuman serta Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO, sebuah organisasi PBB yang mengurusi soal pendidikan, keilmuan dan kebudayaan. Meski demikian saat ini museum tersebut madih menempati bangunan sederhana dan ke depan akan dikembangkan menjadi museum yang lebih besar lengkap dengan lokasi untuk pengunjung mempelajari tentang Gunung Krakatau melalui sarana audio visual di ruangan khusus. Selain itu bagi wisatawan yang akan berkunjung secara langsung ke Gunung Krakatau, museum Krakatau bisa menjadi titik pertama kunjungan agar wisatawan bisa mengetahui sejarah Krakatau dari berbagai literatur yang ada di museum diantaranya buku-buku serta bukti peninggalan letusan Krakatau.

Pranoto Hamidjoyo: Krakatau Tempat Belajar Berbagai Disiplin Ilmu

Penggagas museum Krakatau dan Riset, Ir. Pranoto Hamidjoyo dan Suherman yang ditemui Cendana News mengungkapkan Krakatau merupakan salah satu warisan dunia yang diakui oleh UNESCO karena menjadi tempat penelitian yang sangat penting. Gunung purba yang hingga saat ini masih menyimpan potensi letusan vulkanik dari Anak Gunung Krakatau telah menjadi lokasi penelitian berbagai ahli geologi, vulkanik serta biologi serta berbagai disiplin keilmuan yang terus melakukan penelitian tentang Krakatau hingga kini. Pranoto Hamidjoyo bahkan menegaskan berbeda dengan museum lainnya yang secara tematik menyajikan sebuah peninggalan sejarah masa lalu, museum Krakatau menyimpan juga berbagai penelitian diantaranya tentang penelitian geologi, penelitian bilogi, kelautan, sosio kultural. Salah satunya penelitian ilmu bilogi meneliti tentang suksesi ekosistem paska letusan setelah ratusan tahun berlalu. 


Penelitian tersebut diantaranya menemukan adanya flora dan fauna yang sebelumnya tak ditemukan di Gunung Krakatau diantaranya 122 jenis pohon, 42 jenis tanaman belukar, 71 spesies tanaman merambat, 173 jenis tanaman obat serta fauna diantaranya 40 spesises burung, 15 spesies kelelawar, 9 spesies reptil dan ratusan spesies invertebrata. Berbagai penelitian lain bahkan didokumentasikan dan menjadi salah satu isi museum yang bisa dipelajari oleh pengunjung.

"Krakatau menarik semua pihak yang ingin belajar dari berbagai disiplin ilmu dan ini terbukti dengan banyaknya peneliti luar negeri tidak hanya ingin meneliti soal geologi, kegempaan, namun juga ahli kelautan serta disiplin ilmu lain," ungkap Pranoto Hamidjoyo.

Ia juga menegaskan hingga saat ini Gunung Krakatau semakin dikenal di media sosial dengan semakin banyaknya open trip, wisata khusus serta kunjungan wisatawan yang tertarik berkunjung ke Gunung Krakatau untuk sekedar melihat bukti sejarah letusan dahsyat gunung berapi di Selat Sunda tersebut. Tingginya animo masyarakat dari wisatatawan domestik dan mancanegara tersebut menjadi salah satu faktor pentingnya museum tersebut terus dikembangkan untuk menyadarkan berbagai pihak tentang pentingnya menjaga warisan UNESCO tersebut. Bahkan Pranoto mengakui tak salah UNESCO mengakui Krakatau sebagai The World Heritage Site sejak tahun 1992 dengan nomor: Sc/ECO/8272-406.

Meski diakui dunia, perhatian dan bentuk dukungan pemerintah pusat dan daerah terhadap upaya penelitian serta berwujud museum Krakatau masih dirasa minim oleh Pranoto. Berbagai upaya diantaranya penelitian dan juga menulis buku tentang Krakatau diakui oleh Pranoto digarap oleh penggagas museum tersebut, Suherman, yang kini tengah menyelesaikan buku tentang Krakatau. Ia juga berharap Festival Krakatau yang akan digelar oleh Pemerintah Provinsi Lampung pada akhir Agustus ini bisa lebih memperkenalkan museum tersebut sebagai museum yang memiliki banyak peninggalan sejarah tentang Krakatau.

Pantauan Cendana News, beberapa dampak letusan Krakatau diletakkan di ruang displai khusus berupa batu batu apung, pasir, fosil serta foto foto situasi yang terjadi saat letusan dahsyat Krakatau yang banyak ditulis oleh pemerintah Belanda. Pengunjung bahkan akan mendapat penjelasan secara mendetail terkait sejarah Krakatau dilengkapi dengan penjelasan audio visual yang ada di museum tersebut. Berdasarkan data kunjungan museum yang dibangun sejak tahun 2015 di lokasi yang baru tersebut masih banyak dikunjungi oleh peneliti serta pengunjung minat khusus.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: