SENIN, 8 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Menyadari pentingnya pengetahuan dan pemahaman sejarah bangsa sendiri, Keraton Yogyakarta dan Puro Pakualaman akan mempublikasikan berbagai naskah kuno berisi petuah kehidupan karya para pujangga masa silam. Beragam karya sastra masa lalu dipandang penting untuk diketahui umum, agar generasi sekarang mampu memahami sejarah bangsanya sendiri.


Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, setidaknya juga disebabkan oleh minimnya sumber literatur yang bisa diakses publik. Terlebih, literatur yang bersumber dari naskah-naskah sastra kuno milik keraton. Untuk itu, Keraton Yogyakarta dan Puro Pakualaman kini sedang melakukan upaya penerjemahan dan digitalisasi naskah kuno untuk kemudian dipublikasikan melalui website agar bisa diakses siapa pun.

Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DI Yogyakarta, Budi Wibowo mengatakan, saat ini ada sekitar 15.000 dari 21.000 koleksi buku dan naskah kuno milik Keraton Yogyakarta dan Puro Pakualaman. 

"Sebagian dari 15.000 naskah kuno tersebut telah didigitalisasikan,"sebut Budi Wibowo saat ditemui, Senin (8/8/2016).

Menurut Budi, naskah-naskah kuno yang beberapa di antaranya ada yang berasal dari koleksi Keraton Surakarta berisi beragam hasil karya sastrawan dan pujanga Jawa di masa lampau. Misalnya, Serat Centini yang berisi beragam hal mulai dari resep masakan hingga Kama Sutra, Serat Selo Roso dan banyak lagi.

Budi mengatakan, karya sastra masa lalu memiliki nilai budaya, sejarah dan seni yang tinggi sehingga patut untuk diketahui umum agar tak hilang ditelan zaman. Selain itu juga memiliki kedalaman sastra tersendiri. Bahkan untuk bisa memahami isinya, orang harus bisa merasakannya dulu baru bisa mengerti.

Namun demikian, lanjut Budi, begitu banyak naskah-naskah kuno tersebut masih berbahasa Jawa Kuno dan belum dialih-bahasakan sehingga masyarakat awam akan kesulitan membacanya. Bahkan selama dalam proses digitalisasii, pihaknya sering menemui kendala karena naskah kuno yang sudah rapuh dan sulit dibuka.

"Tapi, dengan teknologi alat scan kendala itu bisa teratasi dan skrip bisa tersimpan secara digital", ungkapnya.

Sementara itu, terkait rencana mempublikasikan sejumlah naskah kuno melalui website, Budi menargetkan akan segera bisa dilakukan pada Oktober 2016 mendatang. Hal ini, karena masih menunggu izin dari pihak Keraton Yogyakarta. 
[Koko Triarko] 
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: