RABU, 10 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Kepolisian Resort Kulonprogo menggrebek sebuah pabrik mie basah di Dusun Karangnongko, Panggungharjo, Sewon, Bantul, yang disinyalir menggunakan boraks. Sebanyak seperempat ton mie basah berhasil disita sebagai barang bukti dalam penggrebekan yang berlangsung Rabu (10/8/2016).

Kapolres Kulonprogo AKBP Nanang Djunaedi menunjukkan BB
Selain seperempat ton mie basah yang diduga mengandung boraks, dalam penggrebekan itu petugas Polres Kulonprogo juga menyita sebanyak 25 Kilogram boraks dan berhasil menemukan gudang penyimpanan mie mengandung boraks siap edar.

Kepala Kepolisian Resort Kulonprogo, Ajun Komisaris Besar Polisi Nanang Djunaedi, dalam gelar perkara di lokasi pabrik mie tersebut menjelaskan, keberadaan pabrik mie mengandung boraks itu diketahui setelah adanya kecurigaan petugas Polres Kulonprogo terhadap seorang penjual bakso berinisial Jmy yang biasa berjualan di sekitar Mapolres Kulonprogo.

Petugas kemudian berinisiatif melakukan­ pemeriksaan terhadap­ bahan mie dan bakso ­yang dijualnya itu ­dengan membawanya ke ­laboratorium milik Ba­dan Pengawas Obat Dan­ Makanan (BPOM) DI Yogyakarta. Diketahui kemudian bahan mie dan bakso yang dijual Jmy terbukti positif mengandung boraks.

Barang bukti yang diamankan 
"Kami kemudian mengamankan Jmy dan setelah dilakukan pengembangan didapati informasi pembuat mie basah mengandung boraks itu di Bantul", jelasnya.

Pabrik mie basah mengandung boraks di Dusun Karangnongko berada di tengah pemukiman warga. Pabrik tersebut juga merupakan tempat tinggal pemiliknya, yang kini telah diamankan petugas bersama empat orang karyawannya. Pabrik tersebut mempekerjakan 12 orang karyawan dan telah beroperasi sejak tahun 2004. Dalam sehari, pabrik itu mampu memproduksi sekitar 400-500 Kilogram ­mie yang dipasarkan di wilayah DI Yogyakarta.

Kendati petugas meyakini mie basah tersebut mengandung boraks, namun guna penyidikan lebih lanjut petugas masih menunggu hasil uji laboratorium BPOM DIY untuk memastikan seberapa banyak kandungan boraks dan dampaknya bagi kesehatan. 

"Sementara itu, kita akan menjerat tersangka dengan Pasal 137 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan", pungaksnya. (koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: