RABU, 3 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Jelang hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus berbagai kegiatan perlombaan kerap digelar salah satunya yang menjadi favorit adalah lomba panjat pinang. 


Ratusan pohon pinang ditebang untuk digunakan sebagai sarana lomba yang cukup unik tersebut sehingga hampir tiap tahun pohon pinang dari beberapa desa di lereng Gunung Rajabasa habis ditebang. Meski demikian beda halnya dengan Dusun Merambung Kecamatan Penengahan yang justru pantang menebang pohon pinang karena menjadi salah satu sumber penghasilan dengan omzet mencapai Rp 8 juta perton. Hasil yang lebih menjanjikan dan berkesinambungan dibandingkan keuntungan sesaat untuk panjat pinang membuat warga memilih mempertahankan pohon pohon pinang yang mereka miliki.

Salah satu warga Dusun Merambung Desa Padan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan,Masir,mengungkapkan kebutuhan akan buah pinang yang dipergunakan sebagai bahan baku pembuatan pewarna kain batik menjadi peluang petani disamping hasil utama sektor perkebunan di wilayah tersebut diantaranya kopi, cengkeh, tangkil serta buah buahan lain. Pemanfaatan buah pinang tersebut melibatkan kaum perempuan di desa yang bertugas melakukan proses paska panen setelah kaum laki laki melakukan proses panen. Proses pemanenan buah pinang dengan rata rata mencapai ketinggian 10-15 meter dilakukan dengan proses pemetikan menggunakan alat berupa galah bambu yang diberi pisau.

“Beberapa tahun silam banyak petani yang menjual pohon pinang untuk digunakan sebagai kebutuhan panjat pinang namun setelah harga buah pinang membaik warga memilih memelihara pohon pinang dibanding menjual pohonnya,” ungkap Masir saat ditemui Cendana News di Dusun Merambung ,Rabu (3/8/2016)


Masir mengungkapkan proses paska panen oleh kaum perempuan melibatkan sekitar belasan perempuan yang bertugas mengupas, menjemur, memotong buah pinang hingga diperoleh isi buah pinang yang akan dipergunakan sebagai bahan pembuatan pewarna batik. Proses pengupasan serta penjemuran oleh kaum perempuan tersebut bahkan bisa dilakukan sambil mengawasi anak anak bermain di sekitar rumah.

Sebagai pengepul, Masir mengirimkan buah pinang dalam kondisi sudah dikupas ke beberapa kota diantaranya ke wilayah Jakarta dan sekitarnya dengan harga Rp 10 ribu perkilogram. Sementara ia menerima dari petani buah pinang dengan harga Rp 8 ribu perkilogram. Harga di bulan Agustus menurutnya terbilang turun sebab sebelumnya harga buah pinang pernah mencapai masa kejayaan hingga Rp 15 ribu perkilogram.

Salah satu perempuan diantara beberapa pekerja pengupasan pinang, Sumini, mengaku pohon pinang bisa dipanen setahun selama dua kali dengan rata rata per pohon mampu menghasilkan buah pinang siap olah sebanyak 20-50 kilogram. Ia mengaku memiliki sebanyak 50 batang pohon pinang yang ditanam sebagai pagar sekaligus tanaman pembatas kepemilikan tanah warga. Tanaman sebanyak itu baginya merupakan tabungan sekaligus harapan saat tanaman lain belum memasuki masa panen.


“Kegiatan kaum ibu di sini setiap hari kalau sedang musim buah pinang mengupas buah pinang sementara saat musim buah tangkil kami ikut bekerja mengupas tangkil sebagai bahan baku pembuatan kerupuk emping” ungkap Sumini.

Sebagai daerah dengan ketinggian mencapai 800-900 meter di atas permukaan laut,perempuan perempuan di sekitar lereng Gunung Rajabasa tersebut nyaris setiap hari disibukkan dengan aktifitas pertanian dan perkebunan. Sumini bahkan mengaku dengan hanya bekerja upahan sebagai buruh kupas hasil pertanian diantaranya buah pinang dan tangkil dirinya dan sebagian perempuan di desa tersebut bisa mengantongi uang sebanyak Rp 100 ribu perminggu belum dari hasil pertanian yang lain.

Sumini mengakui khusus untuk mengupas pinang dirinya diupah sebesar Rp 1.000 perkilogram dan untuk mengupas tangkil dirinya diberi upah sebesar Rp 2.000. Hasil yang cukup lumayan tersebut membuat sebagian petani lebih memilih mempertahankan tanaman pinang yang akan memberi harapan berkesinambungan dengan hasil panen buah pinang cukup menjanjikan.

Sumber penghasilan hasil perkebunan mulai dari masa panen hingga paska panen diakui Sumini membuat sebagian perempuan di wilayah tersebut nyaris tak bisa berpangku tangan sebab banyak hal bisa dilakukan. Sumini bahkan mengaku bagi perempuan yang ligat dan mampu melihat peluang saat musim panen kopi kaum perempuan tetap bisa menjadi buruh petik kopi di kebun yang berada di bawah kaki hutan Register 2 Gunung Rajabasa.


“Di sini mah kalau mau usaha selalu ada jalan terutama kaum wanita yang tua tapi yang muda muda banyak yang merantau ke Jawa untuk bekerja sebagai buruh di pabrik,” ungkap Sumini.

Sumini yang memiliki rumah strategis di pinggir jalan penghubung kawasan dataran tinggi Rajabasa bahkan menjadi “markas” kaum ibu yang pada masa panen raya buah melinjo dan pinang bisa menjadi tempat berkumpul untuk melakukan proses upahan mengupas melinjo dan pinang.

Perempuan lain yang memanfaatkan hasil perkebunan lereng Gunung Rajabasa disela sela tanaman pinang, Suharti, terlihat sedang melakukan proses menyangrai buah melinjo yang selanjutnya diolah menjadi emping. Emping yang telah diolah dijualnya dalam kondisi kering dengan harga Rp 35 ribu perkilogram.

“Emping yang telah kami jemur dan siap digoreng biasa saya jual di pasar tapi ada yang sengaja datang ke rumah membeli langsung” pungkas Suharti.

Suharti dan kaum perempuan di desa tersebut mengaku lebih memanfaatkan berbagai hasil perkebunan sebagai penyokong ekonomi membantu kaum laki laki yang bekerja. Sembari menunggu anak anak di rumah aktifitas menghasilkan uang untuk membantu keluarga masih bisa dilakukan diantaranya dengan menjadi pengupas melinjo dan warga memilih mempertahankan tanaman pinang untuk dimanfaatkan buah yang menjadi sumber penghasilan setiap tahun. Selain itu penanaman pohon pinang di kebun yang ada di lereng gunung dilakukan warga sebagai penahan erosi saat musim penghujan.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: