MINGGU, 28 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA -- Di era 1940-an, seni kolase atau paste up yang dibuat dengan cara menempelkan gambar-gambar dan atau tulisan pada sebuah sketsa wajah, menjadi media seni sekaligus alat peraga menyampaikan kritik. Karenanya, karya paste up pada waktu itu dianggap sebagai salah satu bentuk vandalisme, lantaran sering ditempelkan secara liar di jalanan.

Bayu Widodo pemateri Workshop
Namun sebagai sebuah hasil kreasi, karya paste up yang dibuat dengan menempelkan potongan-potongan gambar atau tulisan dari majalah atau koran bekas itu kini dianggap sebagai sebuah karya seni yang menarik. Fungsinya sebagai alat propaganda atau menyampaikan kritik atau pesan publik, pun masih diakomodasi dalam setiap karya paste up tersebut. Pasalnya, kritik dan pesan publik itulah sebenarnya yang membuat karya paste up itu menjadi hidup dan mampu berbicara kepada khalayak.

Di tahun 1980-an, seni paste up masih sering dilakukan oleh anak-anak muda sebagai pengisi waktu luang. Paste up waktu itu juga digunakan sebagai media mencurahkan kegelisahan pembuatnya. Namun, bertahun-tahun kemudian seni paste up itu tak lagi dibuat. Perkembangan zaman telah membuatnya tersisih dari ruang-ruang kreatif generasi muda zaman sekarang. Apalagi di zaman teknologi informasi dan komunikasi seperti saat ini, berbagai kritik dan bahkan sekedar curahan hati pun lebih banyak disampaikan melalui media sosial seperti facebook, twitter, dan sebagainya.

Karya Paste Up
Namun dalam Festival Kesenian Yogyakarta 2016 yang digelar Selasa-Jumat (23/8-9/9/2016), sebuah komunitas anak muda kreatif yang menamakan diri Komunitas Survive, mencoba memperkenalkan kembali paste up sebagai salah satu karya seni. Melalui sebuah workshop gratis, Komunitas Survive mengajarkan kepada pengunjung cara membuat paste up yang ternyata dirasa menyenangkan dan menarik bagi anak-anak muda sekarang.

Pemateri workhsop paste up, Bayu Widodo menjelaskan, paste up dibuat dengan menggabungkan teknik kolase dan mewarnai. Setiap peserta diberikan sketsa wajah mereka, yang kemudian harus dikreasikan dengan kolase, yaitu dengan menempelkan gambar atau tulisan yang diambil dari majalah dan koran bekas. Agar lebih menarik, kata Bayu, peserta diberi­kebebasan untuk memberikan sentuhan warna pada kreasi paste up-nya.

Pengunjung antusias membuat paste up
"Dalam kegiatan ini, kami mengangkat isu-isu lokal tentang Yogyakarta", ujarnya. 

Dengan kegiatan tersebut, Bayu mengatakan jika pihaknya ingin memberikan pemahaman, bahwa paste up bukan hanya sebagai bentuk vandalisme atau sekedar propaganda seperti yang ditempel-tempel di­dinding-dinding pinggir jalan. Melainkan juga sebagai media kebebasan berimajinasi dan menuangkan kreatifitas yang bermakna. Apalagi dengan pilihan tema tentang Kota Yogyakarta, Bayu berharap, masyarakat bisa semakin peduli terhadap perkembangam kotanya sendiri. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: