SELASA, 30 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Penyuluhan dan upaya Dinas Kesehatan melalui bagian Promosi Kesehatan (Promkes) ke sekolah sekolah membuat sebagian pemilik usaha kantin sekolah mulai lebih berhati-hati dalam menyiapkan hidangan jajanan bagi siswa sekolah. 


Salah satu pemilik usaha kantin sekolah yang selama tiga tahun berjualan di sekitar sekolah, Fina Damayanti (33) mengaku dirinya sengaja berjualan di lingkungan sekolah setelah prihatin dengan adanya berita soal jajanan tidak sehat yang dijual di sekolah sekolah dan membahayakan siswa sekolah. Ia bahkan mengungkapkan pernah dipanggil pihak sekolah untuk menginvetarisir jajanan sekolah yang dijualnya dengan himbauan dari pihak sekolah untuk menyediakan jajanan yang sehat dan bermutu.

Kepedulian menyediakan jajanan sehat yang dilakukan oleh Fina diakuinya berangkat dari dirinya yang memiliki seorang anak yang masih duduk di kelas 4 SD yang berada di desanya. Ia menuturkan saat anaknya kelas 1 SD pernah mengalami anaknya pulang mengalami mual-mual dan diare pasca membeli makanan yang dijajakan oleh pedagang keliling di sekolah. Setelah diperiksakan di dokter Puskesmas anaknya mengalami diare karena menyantap jajanan tidak sehat. Kebersihan jajanan yang tidak sehat tersebut diduga dari piring sang penjual yang dicuci menggunakan air kotor dalam ember yang dibawa tanpa diganti dengan air bersih.

"Sejak saat itu saya akhirnya memutuskan untuk berjualan jajanan di kantin sekolah sekaligus agar anak saya tidak jajan sembarangan di sekolah, jadi saat istirahat anak saya makan di kantin" ungkap Fina saat ditemui Cendana News di kantin sekolah yang dikelolanya, Selasa (30/8/2016).


Fina mengaku memiliki kantin cukup strategis diantara dua sekolah dasar diantaranya SDN 1 Klaten dan SDN 2 Klaten, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan bahkan dekat dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) sehingga kantin sederhana miliknya kerap dikunjungi oleh para siswa. Kantin yang dikelolanya diantaranya menjual makanan tradisional berupa nasi uduk, pecel, soto ayam, gorengan tempe, tahu, kerupuk singkong, berbagai minuman jus buah, es buah kelapa serta makanan jajanan sekolah yang terjangkau namun tidak mengkesampingkan nilai gizi dan kesehatan.

Selain niat untuk menjaga anaknya sambil bekerja, ia mengaku ikut kuatir jika anak anak usia sekolah terutama SD tidak diawasi oleh orangtua dan guru dalam hal membeli jajanan di sekolah. Ia juga tak segan segan meminta anak anak yang membeli jajanan di kantin miliknya untuk mencuci tangan di tempat cuci tangan yang sudah disediakan terutama sebelum makan.

"Anak anak kecil terutama saat jam istirahat biasanya langsung ke kantin dan dalam kondisi kotor, makanya saya minta mereka cuci tangan dengan sabun dan di tempat cuci tangan yang tersedia" ungkap Fina.

Selain menyiapkan tempat cuci tangan, seluruh jajanan sekolah yang dijualnya ditutup menggunakan wadah khusus sehingga tidak terkena debu atau kotoran lain. Fina juga memastikan jajanan yang dijualnya tidak menggunakan zat-zat yang berbahaya terutama bagi anak anak SD yang masih dalam masa pertumbuhan.


Penyediaan kantin sehat menurut salah satu guru di SDN 1 Klaten, Samsiah, saat ini sudah merupakan kewajiban bagi pengelola kantin yang berniat berjualan di sekitar sekolah. Pihak sekolah bahkan telah menyiapkan lokasi khusus yang bersih dan sehat. Selain itu menurut Samsiah bekerjasama dengan pihak Puskesmas terutama bagian Promosi Kesehatan (Promkes) pihak sekolah dalam kurun waktu tertentu menyelenggarakan sosialisasi dan penyuluhan kepada siswa dan penjual kantin mengenai jajanan sehat. Penyuluhan tersebut isinya antara lain menghimbau seluruh pengelola kantin sekolah menyediakan jajanan sehat bagi siswa.

"Pengawasan, penyuluhahan dan himbauan dimaksudkan untuk menghindari kejadian keracunan jajanan siswa atau siswi mengalami masalah kesehatan selama di sekolah akibat mengkonsumsi jajanan tidak sehat" ungkap Samsiah.

Salah satu upaya pengawasan jajanan sehat dilakukan dengan cara memeriksa kebersihan makanan yang dijual di kantin kantin sekolah atau warung. Pihak guru dan Promkes Puskesmas bahkan dapat melihat berbagai jenis makanan yang dijual, penggunaan bumbu, cara pengolahan jajanan, serta lama penyimpanan makanan, cara penyajian.

Pihak sekolah bahkan telah menyediakan tempat yang lengkap untuk jajanan sehingga siswa tidak perlu keluar dari area sekolah. Pengawasan terkait jajanan sehat dan bersih termasuk lingkungan warungnya juga dijaga oleh para siswa dan sekolah sebab jika sekolah hendak meningkatkan kualitas kantin maka harus disesuaikan dengan selera atau kebiasaan siswa.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: