JUMAT, 26 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Potensi bisnis ikan air tawar, khususnya ikan nila, di Sleman yang terus meningkat setiap tahunnya belum bisa dimanfaatkan maksimal oleh para pembudi daya ikan. Keterbatasan lahan dan sumber daya manusia, menjadi kendala bagi upaya peningkatan produksi, sehingga untuk memenuhi permintaan pasar terpaksa masih harus mendatangkan suplai ikan dari daerah lain.


Hal demikian diungkapkan pengelola Pasar Ikan Tradisional Mina Nogotirto di Dusun Kwarasan, Nogotirto, Gamping, Sleman, Parijo, saat menerima kedatangan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Hediati Soeharto, Jumat (26/8/2016), dalam rangka kunjungan kerja dan penyerahan 6 Paket bantuan sarana prasarana perikanan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan kepada sebanyak 6 Kelompok Pembudidaya Ikan dari berbagai desa di Kabupaten Sleman. 

Parijo mengatakan, dari sebanyak 7 Kwintal permintaan ikan setiap harinya, Pasar Ikan Mina Nogotirto hanya mampu menyediakan sebanyak 2-3 Kwintal. Sedangkan sisanya harus didatangkan dari beberapa daerah di Jawa Tengah, seperti Klaten, Kedungombo, dan Wonogiri. Bahkan dalam kondisi tertentu ketika terjadi lonjakan permintaan, Mina Nogotirto juga terpaksa mendatangkan suplai ikan dari Jember, Jawa Timur dan Jatiluhur serta Ciamis di Jawa Barat.


Mina Nogotirto mulai berdiri sejak 2013, dikelola oleh 12 Kelompok Pembudidaya Ikan yang terdiri dari sekitar 200 petani ikan, dengan total luas lahan kolam 3,6 Hektar. Produktifitas ikan perpetani dalam setiap 3 bulan mencapai 3 Kwintal, atau 3 Ton pertahun perorang, dengan pemilikan lahan masing-masing satu hingga dua bidang lahan kolam.

Produksi ikan sebesar itu, menurut Parijo, dinilai sudah sangat maksimal. Karenanya, salah satu upaya guna meningkatkan jumlah produksi ikan hanya perluasan lahan yang menjadi kendalanya. Namun, diakui Parijo pula, dari 3,6 Hektar kolam Mina Nogotirto, sebanyak 50 Persennya kurang produktif. Hal ini karena kurangnya sumber daya manusia yang mampu mengelola ikan secara lebih profesional. Karenanya, di samping kendala lahan, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi kendala lain dari upaya peningkatan produksi ikan di Sleman.


Perihal besarnya potensi pasar ikan di Sleman, juga diamini oleh Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sleman, Suparmono, yang turut hadir dalam acara penyerahan bantuan sarana dan prasarana perikanan tersebut bersama sejumlah muspika setempat. Ia mengatakan, sejak 5 tahun ini produksi ikan di Sleman terus meningkat hingga 20 Persen, dengan total produksi ikan mencapai 40.000 Ton Per Tahun. Namun, kata Suparmono, berapa pun produksi ikan di Sleman selalu kurang untuk memenuhi permintaan pasar.

"Padahal, produktifitas ikan di Sleman sudah tinggi. Peningkatan produktifitas ikan di Sleman sebesar 20 Persen per tahun itu jauh lebih tinggi dari produktifitas ikan di Yogyakarta yang hanya 10 Persen", ungkapnya.

Besarnya potensi bisnis ikan, terutama jenis ikan nila konsumsi di Sleman, tentu menjadi bukti besarnya potensi kemandirian pangan dalam rangka mewujudkan kedaulatan pangan. Karena itu, Titiek Soeharto mengimbau agar petani ikan terus meningkatkan produktifitas ikannya. Keterbatasan lahan, kata Titiek, bisa diatasi dengan penerapan pola tanam mina padi. Sedangkan, minimnya sumber daya manusia bisa diupayakan dengan lebih memperkenalkan potensi bisnis perikanan kepada generasi muda.


Dengan hasil keuntungan hingga Rp. 52 Juta dari lahan mina padi seluas 1 Hektar, kata Titiek, bisa menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk mau bergelut di bidang pertanian dan perikanan. Terlebih dengan pola mina padi, lanjutnya, bisa menjadi kawasan wisata edukasi.

"Saya kira pelibatan generasi muda harus dilakukan lebih dini, dengan mengajak anak-anak sekolah untuk study tour ke kawasan mina padi ketika sedang panen. Dengan melihat hasil, pasti generasi muda kemudian bisa tertarik" pungkas Titiek. 
(koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: