SABTU, 13 AGUSTUS 2016

MAUMERE --- Pemerintah kurang memberi perhatian pada adat dan budaya. Bagi pemerintah pembangunan itu cuma hanya bersifat fisik, materil tapi pembangunan budaya dan rohani pengetahuan pemerintah masih kurang.


Pemerintah juga belum mengerti betul apa yang orang katakan local wisdom, local genius, kearifan dan kebijakan lokal. Padahal dalam kearifan dan kebijakan lokal banyak terdapat ajaran-ajaran, nasehat-nasehat yang perlu diketahui generasi muda sekarang terutama karakter nilai, karakter budaya.

Demikian disampaikan Oscar Mandalangi Pareira kepada Cendana News Sabtu (13/8/2016). Dikatakan Oscar, saat ini banyak generasi muda yang suka mempelajari dan menghayati karakter budaya global.

Anak-anak muda lebih bangga bila meniru apa yang dilakukan orang asing baik pakaian,tata krama maupun adat budaya.

“Ini yang perlu ditanamkan saat di sekolah lewat pendidikan sebab jika tidak maka generasi muda akan lupa adat dan budaya negeri sendiri,” ujarnya.

Mantan guru antropologi, sejarah dan budaya di SMA St.Gabriel Maumere ini menyebutkan, ilmu pengetahuan sebenarnya semua ada di tanah kelahiran kita termasuk Flores.

Baginya, orang tidak perlu belajar sampai ke Tiongkok. Mau cari tahu filsafat, teologi, hukum semua ada di tanah kelahiran bahkan di Flores.

Tuhan Allah itu adil semua manusia diberi ilmu bukan saja orang Yunani, Romawi dan Tiongkok saja tapi orang Flores dan Indonesia juga memilikinya.Ini yang harus digali, jangan kita hanya sekolah ke luar negeri. 

“Sekarang banyak peneliti, dosen bahkan profesor dari mana-mana menyambangi rumah saya hampir tiap hari menanyakan tentang local wisdom. Saya bertanya dalam hati, ini profesor kok datang belajar ke saya,” ungkapnya.

Saat ditanyai apa yang harus dilakukan untuk melestarikan dan mewariskan adat dan budaya,Oscar katakan,harus banyak ditulis dan dibukukan. Dirinya pun banyak menulis tapi semua terkendala dana. Dana dari pemerintah susah didapat.

Sejak dulu mantan mahasiswa doktoral UGM Yogyakarta ini selalu berjuang mendapatkan dana dari pemerinyah untuk menulis buku tapi sampai sekarang belum dibantu.

Bukunya yang terakahir berjudul Jawa Hindu Dalam Bahasa dan Budaya Sikka Krowe ingin membuktikan bahwa hampir semua orang NTT berasal dari India dan Benggala

“Buku saya ini sudah dibedah di dua universitas di Kupang, Undana dan Unika serta sudah diperiksa juga oleh para ahli di STFK Ledalero,” terangnya.

Oscar sudah lulus dan tinggal melampirkan saja dengan atropolog fisik, perbandingan wajah, muka, skepal dari orang India, Benggala dengan orang  NTT guna membuktikan teorinya tersebut. Sekarang buku ini hendak dicetak namun masih menunggu ketersediaan dana.

Sosiolog dan budayawan Sikka ini berpesan agar generasi muda jangan lupa belajar bahasa daerah, bahasa ibu. Di dalam bahasa yang ada di Sikka contohnya, ada Teteng Latar, Daru Dua Moang, Bleka Hada Tana Ai, bahasa–bahasa tua yang di dalamnya kaya akan segala macam ilmu sosiologi, filsafat, etika, moral, hukum dan semuanya. 

“Tapi generasi sekarang tidak ada yang mengerti bahasa daerah, kelemahan kita disitu. Kalau kita mau tahu ilmu pengetahuan kita, maka harus mengerti bahasa daerah supaya kita bisa masuk lebih dalam lagi,” ungkapnya.

Oscar menceritakan, saat drinya masuk di setiap kantor di daerah Jawa hampir semua orang cuma berbicara dalam bahasa daerah mereka. Kita di Flores kritiknya, bila bicara dalam bahasa daerah orang bilang kampungan, padahal budaya dan bahasa itu satu.

“Kurikulum muatan lokal harus ada bahasa daerah sebab jika bahasa daerah hilang maka habis sudah identitas suatu suku bangsa,” pungkasnya mengingatkan.(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: