SENIN, 8 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Masyarakat Desa Legundi Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan mengharapkan penanganan serius pemerintah terkait kondisi abrasi pantai di daerah tersebut yang sudah terjadi selama bertahun tahun. Abrasi di sepanjang pinggiran pantai bahkan kini telah mencapai pemukiman penduduk yang berada di sepanjang bibir pantai dengan pengikisan mencapai 20-30 meter. Beberapa penduduk yang bermukim di pinggir pantai bahkan terpaksa membangun bangunan lebih mundur dari titik semula karena khawatir rumah tersebut akan ambruk.


Salah satu tokoh masyarakat Legundi, Mahmud, mengatakan kondisi abrasi di daerah itu semakin mengkhawatirkan warga, mengingat di wilayah ini sebagian besar pemukiman warga yang berprofesi sebagai nelayan, para pembudidaya rumput laut.

“Sebelum abrasi terjadi beberapa pohon yang ada di bibir pantai dengan jarak puluhan meter kini sudah ada di pinggir laut padahal beberapa tahun lalu masih dekat dengan rumah warga,” ungkap Mahmud saat dikonfirmasi media Cendana News, di Desa Legundi Kecamatan Ketapang, Senin (8/8/2016)

Dampak dari abrasi di wilayah tersebut menurut Mahmud berakibat ratusan pohon kelapa dan pohon cemara serta pepohonan lain yang ada di wilayah tersebut tumbang dengan kondisi akar tercerabut. Kondisi bibir pantai yang terkena abrasi mengakibatkan jalan masyarakat yang selama ini bisa diakses menggunakan kendaraan roda dua harus menunggu kondisi surut sehingga bisa dilintasi sementara saat air laut pasang warga terpaksa berjalan memutar melalui jalur lain akibat tidak bisa melewati sepanjang pantai.


Kesulitan lain dari dampak abrasi menurut warga lain, Sodikin, proses penanaman rumput laut menjadi lebih jauh dari titik semula akibat kondisi bibir pantai yang semakin terkikis oleh terjangan gelombang. Menurut warga abrasi semakin parah akibat lahan di sepanjang pantai Timur Lampung Selatan mulai banyak dibangun tambak udang yang mengakibatkan pohon pohon bakau sebagai penahan alami gelombang dirusak untuk dijadikan tambak.

Sodikin berharap pemerintah setempat bisa segera melakukan langkah penanganan dengan membuat tanggul pemecah ombak (TPO) yang berguna untuk melindungi perumahan warga dari terjangan gelombang. Selama ini menurut warga pembangunan tanggul pemecah ombak masih terfokus di wilayah Desa Ketapang diantaranya di area dermaga pelelangan ikan serta wilayah pantai Batu Putih.

Ia berharap proses pembuatan tanggul penahan gelombang bisa diteruskan di wilayah tersebut agar pemukiman warga yang terkena abrasi tidak semakin banyak. Beberapa rumah warga yang sudah terkena abrasi juga terjadi di Dusun Sumur Induk Desa Sumur dengan kondisi pondasi rumah sudah terkikis air laut.

Gelombang pasang yang menghantam pesisir pantai Timur Lampung Selatan mengakibatkan beberapa bagian rumah warga tergerus di Dusun Sumur Induk, karena letaknya berada di pesisir pantai keadaan tersebut mengakibatkan pondasi pondasi rumah serta bagian pagar serta bagian rumah lainnya terus tergerus ombak. Keadaan tersebut bahkan membuat beberapa warga meninggalkan rumahnya dan menempati rumah baru jauh dari bibir pantai.


Akibat hempasan ombak tersebut bahkan jembatan yang dibuat oleh warga sekitar beberapa tahun silam kini hanya tersisa tiang pancangnya, sementara pondasi pagar warga sudah terangkat dan menggantung di bibir pantai. Meskipun demikian hingga kini pemerintah serta instansi terkait belum melakukan pembuatan turap atau bronjong untuk mengurangi pengaruh abrasi tersebut.

Saat ditemui di rumahnya, salah seorang warga Buyung(50) mengaku sejak tahun 2012 ia mengakui abrasi dan tergerusnya tanah di sekitar lahan rumahnya sudah terjadi. Situasi tersebut bahkan pernah dibicarakan oleh instansi terkait dan ada wacana pembuatan penghalang ombak namun hingga kini wacana tersebut belum terealisasi.

"Saya masih ingat beberapa tahun lalu tanah yang menjorok ke laut ada sekitar sepuluh meter lebih tapi kini sudah semakin habis tergerus gelombang, malah bagian dapur saya kemasukan air saaat gelombang pasang," ungkap Buyung bersama istrinya Inadiah.

Melihat kondisi yang menimpa rumah miliknya ia menambahkan kondisi tersebut juga menimpa beberapa rumah milik tetangganya yang kini bahkan tak ditempati. Buyung bahkan mengungkapkan pemilik rumah yang ada di dekatnya sudah pindah akibat tak tahan dengan kondisi saat air laut sering masuk ke rumahnya.

"Kalau kami mau pindah ke mana, tak punya lahan sebab lahan yang kami miliki sejak dulu hanya di tepi pantai ini," ungkapnya.

Ia bahkan mengaku berusaha menahan terjangan dan abrasi dengan menanam pohon kelapa namun terjangan ombak masih bisa merusak bibir pantai di sekitar rumahnya. 

Dari pantauan Cendana News di sekitar pantai tersebut beberapa bagian masih berpasir sementara di bagian lain sudah diberikan batu batu penghalang ombak yang masih belum dibronjong.

Kekhawatiran senada terkait abrasi pantai yang makin parah dikemukakan olah Sandi (45) lelaki yang menempati rumah tak jauh dari rumah Buyung, ia mengisahkan rumah milik penguasaha yang sebelumnya mengolah rumput laut  menjadi agar agar pun ditinggalkan pemilik beberapa tahun lalu.

Sementara itu untuk rumahnya ia mengaku mengumpulkan batu batu sebagai penghalang serta pagar untuk mencegah ombak makin merusak lahan miliknya. Kondisi abrasi tersebut akan semakin diperparah jika terjadi air pasang atau rob. Ketika air laut pasang datang sampai ke daratan beberapa rumah warga kerap terendam dan mengakibatkan warga takut jika air akan merobohkan bangunan yang ada.

"Gerusan air laut semakin tak terkendala beberapa tahun ini, bahkan dari tahun ke tahun kondisinya semakin memburuk. Abrasi bukan cuma disebabkan ekspoloitasi akibat pengalihfungsian pantai menjadi tambak yang menggunakan zat zat kimia sehingga banyak mangrove mati," pungkasnya.

Ia mengingat sekitar belasan tahun lalu tanaman mangrove masih banyak di pesisir pantai tersebut tapi semakin lama semakin habis dan tergerus abrasi. Di sepanjang jalur pantai bahkan kini berganti menjadi lahan tambak dan juga dermaga jetti untuk dermaga kapal tongkang pengangkut pasir dan batu.

Buyung, Sandi dan warga lainnya berharap kondisi tersebut segera mendapat penanganan dengan membuat penahan gelombang permanen dari bronjong ataupun tanggul penahan gelombang. Sebab ia mengaku khawatir bangunan rumah warga lainnya yang berada di sepanjang pesisir pantai kampungnya diterjang abrasi.(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: