KAMIS, 11 AGUSTUS 2016

SUMENEP --- Isak tangis sejumlah pedagang korban relokasi di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur warnai pertemuan antara pedagang dan pihak pemerintah daerah setempat. Mereka mengaku pasca dilakukan relokasi pendapatan yang diperoleh menurun drastis, sehingga mulai merasa kebingungan untuk membayar cicilan modal yang dipinjam dari bank.

Para pedagang saat sedang mengadukan nasibnya ke Pemkab Sumenep.
Para pedagang yang diperbolehkan masuk menemui pihak pemerintah bercerita sambil meneteskan air mata bahwa selama berada di tempat baru bukanlah semakin nyaman, tetapi kondisinya semakin terpuruk dari pada di tempat berjualan sebelumnya. Sehingga mayoritas pedagang dari hari ke hari terus mengeluh, karena barang dagangan yang mereka jual tidak laku dan membuat omsetnya terus merosot.

“Tolong perhatikan nasib para pedagang yang direlokasi, karena sejak berada ditempat baru penghasilan yang diperoleh sangat tidak menjanjikan. Kami ini sudah tidak punya suami dan punya anak tiga, kalau pendapatan seperti ini anak kami mau makan apa, itu yang perlu diperhatikan oleh pemerintah,” kata Tina, salah seorang pedagang yang menjadi korban relokasi, Kamis (11/8/2016).

Disebutkan, bahwa berjualan baginya merupakan satu-satunya mata pencaharian untuk bisa mencari rezeki dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama keluarganya. Namun dengan adanya kebijakan relokasi tersebut sepertinya membawa malpetaka bagi para pedagang, sebab penghasilan yang diperoleh timpang jauh dari berada ditempat sebelumnya.

Suasana pertemuan pedagang dengan pihak pemerintah daerah setempat
“Kalau di Taman Bunga ramai, karena disana banyak pengunjung wisata yang membeli dagangan kami, tetapi ditempat yang baru ini sepi. Saya tadi malam hanya dapat uang Rp. 35.000, jadi buat apa, saya punya anak kuliah,” jelasnya sambil meneteskan air mata.

Mereka berharap pemerintah segera mengembalikan pedagang ke tempat semula, yaitu Taman Adipura atau yang dikenal Taman Bunga, karena disana tempatnya lebih prospek untuk tempat berjualan. Sehingga pendapatan yang biasa mereka peroleh sangat menjanjikan dan mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Meskipun keberadaan tempat baru bagi pedagang sering dikeluhkan, pihak terkait sepertinya masih belum bisa mengeluarkan kebijakan untuk mengembalikan pedagang ke tempat semula. Sebab pemerintah masih akan melakukan evaluasi dan pengkajian dengan waktu yang lumayan lama. (M. Fahrul)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: