RABU, 31 AGUSTUS 2016

MAUMERE --- Penebangan belasan pohon Cemara, Mimba, Reo dan lainnya yang berusia puluhan tahun di Taman Kota Maumere yang sebelumnya merupakan Tugu Lambang Bola Dunia demi membangun monumen merupakan sebuah kekeliruan.

Pohon berusia puluhan tahun yang ditebang dan masih menumpuk di Taman Kota Maumere.
Penebangan pohon yang dilakukan Pemkab Sikka mengindikasi bahwa Pemkab Sikka tidak berpihak dan tidak peduli terhadap lingkungan. Pohon berusia puluhan tahun ini harusnya dirawat dan dibiarkan hidup bukan ditebang.

“Pemkab sikka seharusnya tahu bahwa Kota Maumere adalah kota yang cukup panas. Karena itu membutuhkan banyak pohon atau kawasan ruang terbuka hijau” ujar Hery Naif.

Papan proyek pengerjaan Taman Kota Maumere
Mantan direktur Walhi NTT kepada Cendana News Rabu (31/8/2016) mengatakan, alasan penataan hanyalah rasionalisasi pembenaran atas sebuah proses pembangunan yang tidak berpihak pada lingkungan.

Pemkab Sikka dinilai Hery, tidak partisipatif karena sebuah pembangunan harus berasas pada keterlibatan rakyat. Apakah pemkab Sikka telah memiliki kajian lingkungan hidup strategis yang mana akan menjadi panduan pembangunan yang memihak lingkungan?.

“Penataan Kota Maumere terkesan tidak berdasarkan pada sebuah perencanaan yang baik, malah berorientasi proyek” pungkas Kordintor program Wahana Tani Mandiri.

Data yang diperoleh Cendana News dari beberapa warga Kota Maumere menyebutkan, pohon-pohon tersebut sudah ditanam sejak tahun 70-an dan berumur di atas 40 tahun.

Gambar desain Taman Kota Maumere yang sedang dalam pengerjaan
Warga mengaku kecewa dengan langkah yang ditempuh pemda Sikka sebab Kota Maumere akan terlihat gersang dan semakin panas. Kecaman senada juga ramai dilakukan warga via media sosial.

Diksaksikan Cendana News di lokasi proyek, terlihat para pekerja sedang membelah batang pohon yang tumbang menjadi balok-balok kayu menggunakan mesin pemotong kayu.

Pada papan proyek yang ada di lokasi menjelaskan, proyek penataan ruang terbuka hijau ini dikerjakan PT. Gading Landscape Maumere memakai dana APBD sebesar 2,5 miliar rupiah.
(Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: