SABTU, 6 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Pengenalan upaya konservasi alam terus dikenalkan kepada masyarakat terutama pelajar dengan pola pengenalan langsung di lokasi yang menjadi tempat pendidikan sekaligus berwisata. Salah satu Konsep wisata edukasi yang menyasar pelajar, mahasiswa mulai dikembangkan di Wisata Tanah Timbul Mangrove. Lokasi wisata tersebut berada di Desa Purworejo, Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur.


Menurut Idi Bantara, salah satu pendamping masyarakat dalam bidang kehutanan di Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Sekampung Way Seputih (BPDAS WSS) lokasi tersebut memiliki jarak tempuh dari ibu kota Kabupaten Lampung Timur, Sukadana, sekitar 70 km (2jam perjalanan), dari pelabuhan Bakauheni sekitar 25 Km (45 menit jalur darat) dan berjarak kurang lebih sekitar 80 km dari ibu kota Propinsi Lampung (2.5 jam jalur darat).

“Berbagai fasilitas termasuk pemberdayaan masyarakat terus dikembangkan agar wisatawan yang datang bisa lebih nyaman diantaranya penyediaan sarana transportasi air, rumah singgah serta penyediaan bibit mangrove untuk ditanam oleh wisatawan yang ingin menanam mangrove di lokasi tanah timbul,”ungkap Idi Bantara saat menerangkan tentang lokasi tersebut, Sabtu (6/8/2016).

Ia mengungkapkan WTT Mangrove, merupakan Kawasan Pantai (coastal zone) yang selama ini merupakan zona transisi yang berhubungan langsung antara ekosistem laut dan darat, sedangkan tanah timbulnya merupakan hasil pergerakan sedimen (sediment cell), atau karena berhasilnya rehabilitasi hutan mangrove disekitar daerah tersebut. Keberhasilan rehabilitasi mangrove membuat tanah endapan banyak muncul di lokasi sekitar mangrove tumbuh.

Berbagai studi dilakukan terhadap kawasan tersebut sekaligus menjadikan sebagai lokasi wisata yang cukup menyenangkan terutama bagi pecinta petualangan. Menyusuri sungai dan hutan mangrove yang ada di sisi kanan dan kiri sungai menggunakan perahu menjadi daya tarik yang ditawarkan.

Keberadaan tanah timbul menurut Idi Bantara berkaitan erat dengan adanya tumbuhan bakau baru yang diduga kuat menjadi sarana untuk meredam gelombang yang memungkinkan terendapkannya sedimen-sedimen melayang di dasar pantai. Selain itu dengan adanya kawasan hutan bakau baru, juga ada pengaruh mikro biologis yang menambah kestabilan pantai.

“Meski banyak tanaman mangrove yang tumbuh secara alami namun faktor penting dari berbagai pihak diantaranya penjaga kawasan ini dan juga mahasiswa pecinta lingkungan dan wisatawan semakin menambah jumlah hutan mangrove di kawasan ini,”ungkap Idi Bantara.


Keberadaan hutan mangrove yang tumbuh secara alami dan sebagian ditanam secara teratur berperan dalam penjeratan sedimen. Sedimen di wisata tanah timbul mangrove menjadi meningkat (tanah timbul), sehingga menurunkan kapasitasnya dan aliran sedimen dari darat menuju Laut Jawa.

Berdasarkan catatan pengelola kawasan tersebut setiap tahunnya di lokasi wisata tanah timbul mangrove terjadi penambahan daratan alami antara 20 hingga 100 hektar. Potensi fenomena inilah yang menjadi sasaran obyek keindahan menarik yaitu endapan lumpur baru yang sangat luas, materi lumpur sangat lembut, sangat menarik bagi pecinta wisata petualangan yang ingin mencoba sensasi sulitnya berjalan di lumpur pantai atau menggunakan papan seluncur layaknya bermain salju dan bebas menikmati lumpur yang bebas dari limbah kotoran dari darat (murni lumpur).

“Proses alami mengakibatkan terjadinya pemisahan endapan lumpur kotor dan juga yang memiliki sampah dengan endapan yang bersih dan ini daya tarik tersendiri untuk wisata petualangan dan edukasi,”ungkap Idi Bantara.

Dalam kegiatan wisata edukasi, petualangan yang banyak diminati oleh para pelajar, wisatawan, pegiat lingkungan pengunjung juga diminta ikut menanam mangrove guna mendukung kelestarian alam mangrove dan sebagai tanda pengingat wisata tanah timbul.

Keindahan lain yang ditawarkan di lokasi wisata tanah timbul mangrove yaitu pengunjung juga dapat melakukan aktifitas memancing berbagai jenis ikan payau seperti ikan sembilang, ikan belanak, ikan baung atau mencari kerang dalam lumpur, serta menikmati satwa liar seperti burung bangao, elang, kepiting, yang paling menonjol fauna lumpur adalah ikan katak.

Sebagai sarana pendukung untuk memberi kenyamanan pengunjung, kawasan tersebut juga menyediakan sarana lain antara lain perahu kecil terbuat dari fiber dan kayu yang cukup banyak, dengan berkapasitas antara 5 – 8 orang/perahu, pemandu yang sangat ramah, warung kopi disekitar pendaratan, juga kamar mandi dan ganti baju yang disiapkan oleh penduduk setempat.

Salah satu konsep yang ditawarkan oleh pengelola menurut Idi Bantara dengan adanya lokasi pembibitan mangrove di lokasi tersebut yang bisa langsung dipraktekkan oleh setiap pengunjung. Teknik pembibitan diantaranya menggunakan bahan bahan limbah botol air kemasan yang menggantikan polybag.

“Pelajar dan mahasiswa serta pengunjung yang ingin merasakan cara menanam mangrove bisa mengambil bibit dari lokasi ini yang selanjutnya ditanam di kawasan tanah timbul,”ungkapnya.

Pengelola kawasan wisata tanah timbul mangrove bahkan menyarankan agar datang pagi hari sebab pengunjung masih dapat menikmati daratan lumpur yang sangat luas karena air akan pasang dan menutupi daratan lumpur pada siang hari.

Salah satu mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Lampung, Soni mengaku, potensi wisata yang dipadukan dengan konsep edukasi sangat menarik dikembangkan di lokasi tersebut. Pengunjung yang sebelumnya tidak mengetahui cara pembudidayaan tanaman mangrove bisa mengetahui cara menanam mangrove.

“Saat ini pengembangan kawasan hutan mangrove memang harus terus didukung karena selain menjadi cara untuk konservasi juga memberi nilai tambah bagi masyarakat di sekitar wilayah ini,”ungkapnya.


Beberapa warga di kawasan wisata tanah timbul bahkan telah merasakan berkembangnya minat berkunjung ke lokasi tersebut dengan menyediakan home stay yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk bermalam. Sebagian warga juga tengah melakukan upaya pembuatan kerajinan dari batang mangrove dan sebagian menyiapkan bibit mangrove yang disemai dalam gelas bekas air kemasan.
[Henk Widi]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: