RABU, 10 AGUSTUS 2016

BALI --- Upaya menuntaskan masalah narkoba di Indonesia bagai mengurai benang kusut. Heboh hukuman mati terhadap pengedar narkoba tidak lantas menyiutkan nyali pengedar lain yang masih berkeliaran di tengah masyarakat. Banyak kalangan menilai, lembaga-lembaga negara yang seharusnya jadi garda terdepan memberantas narkoba belum sepenuhnya tampil garang untuk memberantasnya. Yang terjadi, justru ada oknum aparat penegak hukum yang terlibat dalam mafia narkoba itu.

Ketua Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) Bali, Njoman Gede Suweta, berharap pemimpin Indonesia harus tampil garang melawan mafia narkoba, seperti yang ditunjukkan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte. 

"Duterte sangat tegas. Ia perintahkan tembak di tempat pengedar narkoba yang tidak mau menyerahkan diri. Akhirnya mereka takut. Banyak walikota, politisi dan pejabat negara lain di Filipina yang terlibat dalam mafia narkoba, dan ribuan pengedar lainnya dari masyarakat akhirnya menyerahkan diri. Indonesia butuh pemimpin seperti itu," tegas Suweta di Denpasar, Rabu (10/8/2016).

Mantan Wakil Kapolda Bali ini berharap pemimpin di Indonesia bisa menerapkan kebijakan Duterte tersebut. Jika penanganan narkoba masih seperti pola selama ini, ia pesimis mimpi besar negara ini untuk bebas dari pengedar akan sulit terwujud. 

"Kapan Indonesia bisa mengeluarkan kebijakan seperti ini (kebijakan Duterte) supaya tidak dijadikan pasar narkoba oleh negara lain atau terlibat sindikat narkoba. Jika ini tidak dilakukan, hancur masa depan generasi muda kita," ujar Suweta.

Sebagaimana ramai diberitakan, baru beberapa bulan menjabat presiden Filipina, Duterte langsung mengibarkan bendera perang terhadap pengedar narkoba. Ia tak memberi ampun. Pejabat pemerintah, politisi, penegak hukum sekalipun yang terlibat peredaran narkoba diperintahkannya untuk segera menyerahkan diri. Ia perintahkan aparat kepolisian setempat untuk tembak di tempat pengedar narkoba yang tidak menyerahkan diri. Ancamannya bukan gertak sambal. Sudah banyak pengedar narkoba yang tidak menyerahkan diri meregang nyawa di jalanan karena ditembak aparat kepolisian. Kini ribuan pengedar narkoba di sana berbondong-bondong menyerahkan diri ke kantor polisi setempat.

Terhadap kebijkan tersebut, Duterte tidak memundurkan langkah kendati mendapat kecaman dari PBB dan aktivis HAM internasional. Ia bahkan menantang mereka yang mengecamnya untuk memberi solusi lain yang terukur dan hasilnya pasti, jika memang menolak jalan yang dipilihnya.
[Bobby Andalan]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: