KAMIS, 11 AGUSTUS 2016

MAUMERE --- Warga masyarakat kecamatan Kangae yang terdiri atas 9 desa yakni Blatatatin, Habi, Kokowahor, Langir, Mekendetung, Tanaduen, Teka Iku, Watumilok dan Watuliwung mengumpulkan uang sesuai kemampuan untuk membangun sekolah.


Pembangunan SMA yang anntinya akan berstatus sekolah negeri ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2015 dengan membentuk panitia yang terdiri dari perwakilan semua unsur dari 9 desa yang ada di kecamatan Kangae. Demikian disampaikan camat Kangae Yohanis Yanto Kaliwon kepada Cendana News, Rabu (10/8/2016).

Semua masyarakat di kecamatan Kangae memberikan sumbangan secara sukarela dan uang yang terkumpul sudah dipakai untuk membayar cicilan tanah. Mahalnya harga tanah menyebabkan perjuangan warga sempat terkendala. Namun, salah satu pemilik tanah di desa Kokowahor bersedia melepas tanahnya dengan harga murah dan pembayarannya bisa dicicil.

“Pemiliknya juga sangat membantu dengan memberikan kemudahan-kemudahan sehingga persoalan tanah bisa diatasi,” ungkapnya.


Disebutkan, dipilihnya sekolah negeri bukan swasta dikarenakan bila membangun sekolah swasta tentu lebih mudah namun dengan menyandang status sekolah negeri diharapkan biaya pendidikannya bisa lebih murah.

Masyarakat kecamatan Kangae rata-rata berpenghasilan rendah dan praktis hanya mengandalkan hasil kebun. Murahnya biaya pendidikan bisa menekan angka putus sekolah di kecamatan ini yang tergolong tinggi.

Selain membangun SMA negeri,t masyarakat desa Watuliwung dan alumni SDK Wetakara sudah berinisiatif membangun SMPN Nubarak. Murid perdana tahun ajaran 2016 sebanyak 75 siswa. Jumlah ini sangat signifikan padahal awalnya sempat dikuatirkan apakah sekolah ini diminati.
[Ebed De Rosary]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: