SENIN, 29 AGUSTUS 2016

LARANTUKA --- Perusahaan tempat ketiga korban penyanderaan kelompok teroris Abu Sayaf asal Phlipina di perairan Lahad Datu Malaysia Sabtu (9/7/2016) belum menghubungi isteri maupun keluarga korban penyanderaan.

Rensiana Piter Boro istri Laurens Koten bersama anak bungsunya.
Perusahaan Highline Shipping Sdn Bhd pemilik kapal ikan tempat ketiga sandera yakni Laurens Lagadoni Koten, Theodorus Kopong Koten dan Emanuel Arakian Maran asal Desa Laton Liwo Kecamatan Tanjung Bunga kabupaten Flores Timur provinsi NTT seolah lepas tangan.

“Kami belum dihubungi pihak perusahaan terkait keadaan suami kami maupun memberikan bantuan dana buat kami” ujar Resiana Piter Boro.

Istri Laurens Koten nahkoda kapal yang disandera ini saat ditemui Cendana News di Larantuka Senin (29/8/2016) mengatakan, pihak perusahaan asal Malaysia ini seolah lepas tangan.

Padahal kata Resiana, penyandera pernah menghubungi perusahaan tersebut meminta uang tebusan. Sejak suaminya bersama dua anak buah kapalnya ditahan penyandera dirinya harus mencari uang buat menghidupi ketiga anaknya.

“Saya harus meminta biaya sekolah dan biaya hidup pada orang tua dan keluarga saya di Toraja dan Nunukan” ujarnya.


Kedua anaknya yang masih bersekolah kata Rensiana, sementara dititipkan di rumah orang tua dan keluarganya di Toraja. Dirinya bersama anak bungsunya Maria Gita Yosefina Koten berumur 6 tahun kembali ke kampung halaman suaminya di Laton Liwo.

“Kami berdua tanggal 16 Agustus dari Toraja ke Nunukan lalu ke Larantuka menumpang kapal Pelni” terangnya.

Sejak Senin (22/8/2016) Rensiana bersama Margaretha Hading Hurit istri Theodorus Kopong Koten serta Yasinta Pusaka Koten istri Emanuel Arakian Maran berada di Larantuka.

“Kami ingin mencari tahu informasi terkait keadaan suami kami bertiga yang masih disandera,” tegasnya.

Pihak Pemda  Flores Timur papar Rensiana, mengatakan masalah ini menjadi kewenangan pemerintah pusat. Pihaknya pun tidak mendapat informasi apapun terkait keadaan suami mereka.

“Saya berharap presiden Jokowi dan pemerintah pusat bisa segera membantu membebaskan suami kami bertiga yang sudah sebulan lebih disandera di Philipina” pungkasnya.
(Ebed de Rosary) 
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: