SABTU, 27 AGUSTUS 2016

PONOROGO --- Bulan Agustus seharusnya sudah memasuki akhir musim kemarau namun faktanya di kawasan Ponorogo masih terjadi hujan. Salah satunya di Desa Kunti Kecamatan Bungkal Kabupaten Ponorogo banyak petani mengeluhkan musim yang tak menentu menjadi salah satu pemicu tidak tumbuh dengan baiknya tanaman jagung miliknya.

kondisi lahan jagung milik Sri Widodo
Salah satunya Sri Widodo (55 tahun) menjelaskan seharusnya jagung ditanam diujung musim kemarau tapi perkiraannya meleset jauh.

"Akibat hujan 3 hari berturut-turut, jagung saya tidak bisa tumbuh. Banyak yang mati akibat lahan yang terlalu basah," ujarnya saat ditemui Cendana News di lokasi, Sabtu (27/8/2016).

Meski benih jagung berasal dari kelompok tani, Sri Widodo mengaku rugi karena selama proses mengolah lahan hingga penanaman memperkerjakan orang.

"Sebenarnya rugi, tapi mau gimana lagi kondisinya tidak mendukung," cakapnya.

Lahan yang terlalu becek menyebabkan pertumbuhan jagung diawal musim tanam bergerak lambat. Seharusnya lahan jagung harus kering dengan sistem pengairan 2 minggu satu kali.

"Ini lahan saya basah padahal saya tidak melakukan pengairan, jagung tidak tumbuh-tumbuh sekaligus banyak yang tumbang," tandasnya.

Saat ini di pengepul harga biji jagung hanya dihargai Rp 1500 per kilogram mengingat banyaknya petani yang sedang melakukan panen raya mengakibatkan harga jagung merosot tajam.

"Biasanya Rp 4-5 ribu sekarang hanya tinggal Rp 1500, bagaimana nasib kami nanti?," pungkasnya. (Charolin Pebrianti).
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: