JUMAT, 26 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Proyek penebalan aspal pada ruas jalan lintas Sumatera (Jalinsum) di depan gardu induk PLN Kalianda hingga beberapa kilometer membuat lalu lintas di sekitar lokasi terhambat dari dua arah baik dari arah Bandar Lampung menuju Bakauheni dan sebaliknya. Puncak kemacetan (peak hour) bahkan terjadi setiap pagi dan sore hari saat aktifitas pekerja, pegawai, anak sekolah akan berangkat ke sekolah dan akan pulang sekolah. Kemacetan terjadi akibat alat-alat berat dan pekerja melakukan proses penebalan jalan dengan menggunakan aspal hotmix.


Jalan Lintas Sumatera tersebut merupakan penghubung antara berbagai wilayah di Pulau Sumatera dengan Pelabuhan Bakauheni atau jalur lintas tengah yang kerap dilalui oleh pengendara kendaraan. Hingga sore ini, sejumlah pekerja proyek mulai mengerjakan penebalan jalan di bagian Barat atau ruas jalan yang berada tepat di depan gardu induk PLN Kalianda.

Salah seorang pengendara yang melintas di lokasi tersebut, Andika(35) mengaku cukup kesulitan saat melintasi lokasi proyek tersebut karena harus menunggu cukup lama akibat kendaraan dari arah berlawanan cukup banyak. Sebab, lalu lintas semakin macet sehingga sistem buka tutup diberlakukan oleh petugas pengerjaan penebalan jalan lintas Sumatera yang merupakan jalan nasional tersebut. Terpaksa jalur yang digunakan hanya satu ruas, karena ruas satunya sedang dikerjakan sehingga pengendara harus bersabar untuk melintas.


“Sekitar pukul setengah tujuh pagi tadi jalan di sana macet bahkan ditambah ada kendaraan truk yang patah as di tengah jalan sejak kemarin di dekat SPBU Palas kemacetan semakin panjang. Lebar jalan yang terbatas membuat kendaraan tidak bisa leluasa bergerak” kata Andika saat ditemui media Cendana News, Jumat (26/8/2016).

Sebelumnya, konstruksi jalan itu hanya menggunakan aspal biasa dengan banyaknya lubang serta tambalan di beberapa bagian sehingga mengganggu para pengendara. Namun karena merupakan jalur lintas Sumatera dan menjadi jalan nasional yang terus dilalui kendaraan bermuatan berat, ruas jalan pun ditebalkan hingga 30 sentimeter menggunakan aspal hotmix berkekuatan tinggi.

Di sisi lain, sebagian titik di sepanjang ruas jalan tersebut juga terdapat kerusakan badan jalan. Terlihat beberapa lubang dan aspal yang telah mengelupas akibat terus-menerus diguyur hujan. Beberapa pekerja terpaksa menambal terlebih dahulu jalan berlubang meski belum ada rencana penebalan diantaranya di ruas Desa Kuripan Kecamatan Penengahan.


“Akhirnya, kendaraan yang melintas harus pelan-pelan. Sebab banyak jalan berlubang dan air menggenang kalau hujan dan saat malam membahayakan pengendara roda dua dengan banyaknya lampu jalan yang padam,” jelasnya.

Salah satu pengawas proyek dari Dinas Bina Marga yang mengawasi proyek penebalan jalan tersebut,Aan, menerangkan, meski saat ini tengah berlangsung proyek penebalan jalan di sekitar Jalinsum dimulai dari depan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Kalianda, pihaknya tetap memantau dan mengatur arus lalu lintas sehingga kemacetan pun tetap bisa diatasi. Sebelumnya proses pelebaran dan pembuatan talud pun dikerjakan dan telah selesai sehingga dilanjutkan proses penebalan menggunakan aspal.

“Petugas khusus kami senantiasa siaga mengatur lalu lintas di sana dan dari jauh telah dipasang rambu rambu jalan agar pengendara lebih berhati-hati karena dua arah jalan selalu macet” tegasnya.

Ia memastikan selama proses penebalan jalan nasional tersebut meski menimbulkan kemacetan tetapi semuanya masih dapat berjalan normal. Kepadatan kendaraan baru terjadi ketika aktifitas pekerja dengan alat berat berlangsung sementara jalan yang sudah ditebalkan langsung bisa dilalui.

“Proyek penebalan jalan sepanjang beberapa kilometer di sekitar Kalianda ini menggunakan aspal hotmix sehingga setelah beberapa menit sudah bisa dilalui kendaraan” tegasnya.


Ungkapnya, Kemacetan lebih banyak terjadi akibat antrian kendaraan yang berasal dari arah Pelabuhan Bakauheni dengan titik kemacetan terjadi di depan SPBU Kekiling akibat sebuah kendaraan truk mengalami patah as. Akibatnya ketika bongkar muatan kapal kendaraan harus terhambat dan kembali macet saat berada di jalur yang ditebalkan.

Proses pembuatan jalur Jalinsum menjadi empat jalur diantaranya dua jalur tengah untuk kendaraan roda empat dan dua jalur pinggir untuk kendaraan roda dua disambut positif oleh masyarakat. Selain lebih lebar penambahan jalur juga membuat pengguna kendaraan bisa menggunakan jalur yang lebih lebar dari sebelumnya.

Meski demikian sejumlah jalan berlubang yang ditambal masih dikeluhkan masyarakat akibat tidak ratanya proses penambalan sehingga berakibat jalan bergelombang pada beberapa titik diantaranya di Desa Pasuruan,Desa Kuripan, Desa Banjarmasin. Warga berharap penebalan dilakukan secara merata di semua lokasi.
(Henk Widi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: