JUMAT, 12 AGUSTUS 2016

SOLO --- Keperawatan Indonesia saat ini masih jauh tertinggal jika disandingkan dengan qualifikasi keperawatan Internasional. Minimnya penguasaaan bahasa menjadi kendala utama dari perawat Indonesia untuk bisa go Internasional.


Hal ini yang diungkapkan dalam Seminar Internasional Keperawatan bertema “Emergency Nursing Care And Nursing International Licensure Test”  yang diselenggarakan Akper 17 di Hotel Aston Solo, Jumat (11/8/16).  Dalam seminar  untuk  menjalin kerjasama Internasional dan meningkatkan qualifikasi tenaga medis Indonesia ini menghadirkan Corporate Director Toprank Review Academy dari Filipina.

“Tenaga medis atau perawat di Indonesia harus terus ditingkatkan kemampuannya agar sesuai dengan standard keperawatan yang dibutuhkan dunia global. Melalui seminar internasional ini diharapkan dapat menjawab tantangan Indonesia menghadapi tantangan dunia medis di era mutakhir yang semakin besar dan kompetitif ini. Namun lagi-lagi penguasaaan bahasa asing masih menjadi kendala bagi tenaga medis Indonesia untuk bisa kerja di dunia internasional, terlebih di Eropa,” ujar Direktur Akper 17 Karanganyar, Betty Sunaryanti  kepada Cendana News.

Dijelaskan lebih lanjut, alasan mendatangkan para pakar dari Toprang Filipina, karena selama ini Filipina sudah diakui dunia internasional. Tenaga medis Filipina sudah digunakan diberbagai Negara maju, seperti timur tengah, dan eropa. Sementara tenaga medis Indonesia selama ini baru mampu menembus di asia mapun timur tengah.


“Melalui seminar ini kita akan tingkatkan kerjasama dengan Filiphina, karena di Indonesia yang sudah melakukan kerjasama dengan Dauber Filipina terkait tenaga medis dan perawat dari Persatuan Perawai Indonesia (PPI) Jawa Tengah,”  urainya.

Selain kompetensi di bidang keperawatan, hal yang tak kalah pentingnya adalah keberadaan Lisensi Internasional, sebagai pintu gerbang menuju  dunia kesehatan global. Sebab, jika tidak ada lisensi Indonesia akan semakin jauh tertinggal kaerna tantang dari masa ke masa akan semakin sulit. 

“Sehingga apa saja yang perlu dipersiapan untuk menghadapi tantangan international.  Termasuk menyiapkan dari segi pendidikan, lisensi, dan prakteknya. Apalagi, standard internasional dapat tercermin dari sebaran lulusan di berbagai daerah di Indonesia,” imbuhnya.

Mr. Roland Villegas RN. MAN yang merupakan Corporate Director Toprank Review Academy menyebutkan, Top Rank merupakan partner sempurna untuk menjadikan tenaga medis Indonesia layak bersaing di tingkat global. Hal ini dikarenakan Top Rank  sudah diakui dunia. 

“Indonesia  harus mengetahui bagaimana qualifikasi tenaga medis diberbagai Negara seperti  Timur Tengah, Asia, hingga Eropa. Jika qualifikasi Indonesia terpenuhi  maka pintu dunia global terbuka, mereka bisa masuk karena sesuai dengan standard internasional,”  tandasnya.

Sementara itu, Assistant Kemenristek-Dikti, Dr. Yektiningtyastuti, menegaskan pihaknya akan berusaha agara kurikulum keperawatan di Indonesia akan disesuaikan dengan standar Internasional. Sehingga tenaga medis dan perawat hasil lulusan sudah siap menghadapi tantangan di era global dan dapat bersaing dengan negara maju lainnya.

“Kami berharap perawat Indonesia dapat mewarnai dunia global dengan pelayanan yang professional dan sesuai dengan standar internasional. Oleh karena itu, perawat Indonesia harus mampu menguasai bahasa internasional dengan baik selain keahlian dibidang keperawatan,” pungkasnya. (Harun Alrosid)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: