SABTU, 27 AGUSTUS 2016

SOLO --- Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa, Jumat malam (26/8/2016) resmi menutup Konferensi Pekerjaan Sosial ASEAN ke 5 yang di gelar di Lor In Solo Hotel. Dalam Konferensi yang dihadiri perwakilan Negara-Negara se-ASEAN itu, Indonesia mendapat dua tugas, yakni radikalisme dan kesejahteraan pekerjaan sosial. 


“Ada PR (Pekerjaan Rumah) Indonesia dalam konferensi Ke 5 Pekerjaan Sosial tingkat ASEAN ini, yakni bagaimana kita memahami identitas radikalisme dan pendekatan kesejahteraan dalam kaitannya pekerjaan sosial. Dua tugas ini harus dipaparkan dalam pertemuan tahun depan yang akan digelar di Malaysia,” papar Khofifah kepada awak media di Solo, usai menutup konferensi tersebut. 

Dijelaskan, untuk bisa memberikan pemahaman tentang radikalisme dan kesejahteraan pekerja sosial ini, Kemensos telah menunjuk empat orang perwakilan Indonesia dalam konferensi itu untuk menyiapkan semaksimal mungkin. Adanya asosiasi pekerjaan sosial, profesi pekerja sosial dan pendidikan pekerja sosial diharapkan dapat memberikan pemahaman dua tugas pokok dalam konferensi tersebut. 

“Ada MoU antar Negara-Negara ASEAN dan dibagi pada fokus tugas masing-masing. Untuk Indonesia ada dua fokus itu, yang tahun depan akan dibawa ke Malaysia,” terangnya.

Setidaknya ada lima poin dalam konferensi pekerjaan sosial ASEAN ke 5 ini. Diantaranya, Perlindungan Sosial, Kapasitas Negara, dan Keamanan Manusia di ASEAN yang menjadi tugas Thailand, Teori dan Praktik Managemen Kasus yang menjadi tugas Malaysia dan Philiphines, Komunikasi Strategis bagi Pekerjaan Sosial untuk Indonesia dan Philiiphines, Memahami Identitas Radikalisme dan Pendekataan Kesejahteraan untuk Indonesia, serta Kebencanaan, Pengurangan Resiko dan Pendekatan Manageman Perubahan Iklim untuk Malaysia. 

“Konferensi Pekerjaan Sosial merupakan langkah dari diberlakukannnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA),” tandasnya, 

Selain dua tugas pokok dalam konferensi pekerjaan sosial tingkat ASEAN, Indonesia juga tengah berusaha melaksanakan keputusan PBB terkait 17 item ada alam The Sustainabe Devolepment Goal (SDGs). Diantaranya adalah bagaimana Indonesia dapat mengurangi kemiskinan dan menghilangkan kelaparan yang menjadi konsen Negara-Negara yang masuk dalam Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Keputusan Konferensi Pekerjaan Sosial ASEAN ke 5 sebagai tindak lanjut dari keputusan PBB untuk melaksanakan SDGs. Dari 17 item dalam SDGs itu ada yang terkait di Indonesia. Yakni bagaimana kita mengurangi kemiskinan dan tidak ada lagi kelaparan. Ini bagian dari penguatan-penguatan kesejahteraan bagi pekerjaan sosial, profesi pekerja sosial dan pendidikan pekerja sosial,” pungkasnya. 
(Harun Alrosid).
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: