SENIN, 15 AGUSTUS 2016

MALANG --- Keris merupakan warisan budaya dari Indonesia yang telah diakui oleh United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Namun begitu, ternyata untuk membuat sebuah keris bukanlah perkara yang mudah. Dibutuhkan keahlian, waktu yang tepat dan ritual tertentu untuk dapat menghasilkan keris seperti yang diharapkan.


Rafiq Kamarogan (42) salah satu pembuat keris mengatakan bahwa untuk membuat sebuah keris tidak sama dengan pembuatan pisau, parang maupun clurit. Minimal dibutuhkan tiga macam logam yang nantinya akan dijadikan satu menjadi sebuah keris.

"Tiga macam logam tersebut diantaranya Nikel, Baja dan Besi. Terkadang ada juga biasanya yang di tambah dengan meteor. Jadi tidak hanya dari satu macam logam saja," jelasnya kepada Cendana News saat berada di acara pameran Tosan Aji, Senin (15/8/2016).

Disamping itu, dalam pengerjaan pembuatan keris tidak bisa dilakukan secara sembarangan, harus mencari waktu dan saat yang tepat. Menurutnya, dalam membuat keris harus disesuaikan dengan waktu kelahiran yang memesan sehingga ia juga bisa menyesuaikan keris apa yang cocok untuk si pemesan. Selain itu dibutuhkan pula ritual-ritual khusus sebelum membuat keris. Akan tetapi perlakuan dan ritual khusus tersebut hanya berlaku pada jenis keris Tayuhan dan Pusaka saja.

"Keris sendiri dibedakan menjadi empat macam yaitu keris sovenir, keris Ageman, keris Tayuhan dan keris Pusaka. Untuk jenis keris sovenir dan Ageman tidak diperlukan ritual khusus untuk membuatnya karena kedua keris tersebut yang ditonjolkan hanya keindahannya saja," laki-laki asli Sumenep yang kini tinggal di Blitar.

Ia juga mengatakan bahwa untuk harga keris bisa bermacam-macam tergantung kualitasnya. Mulai dari lima puluh ribu Rupiah, ratusan Ribu, jutaan, puluhan juta, ratusan juta bahkan ada yang mencapai milyaran Rupiah. Sedangkan untuk perawatannya, karena keris mudah berkarat sehingga di perlukan pemberian minyak agar keris tidak mudah berkarat.

Lebih lanjut Rafiq juga mengatakan bahwa selama ini banyak masyarakat yang salah kaprah atau salah pengertian mengenai keris. Sebagian masyarakat menganggap bahwa di dalam keris terdapat Khodam atau jin pembantu yang dapat membuat si pemilik keris bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan atau bahkan ada juga yang membuatnya sebagai jimat.

"Kalau khodam di dalam keris itu tidak ada, sebenarnya yang ada hanya Angsar yaitu aura yang terkandung disetiap logam yang digunakan sebagai bahan pembuatan keris, seperti aura panas, sejuk dan aura dingin. Makanya itu ada ritual-ritual khusus untuk menetralkan aura-aura tersebut," ungkapnya.

Keris juga seharusnya bukan digunakan untuk jimat tetapi hanya sebagai pendorong atau pemberi motivasi saja kepada pemilik keris.

"Misalnya seseorang punya keris pamor hujan emas, bukan berarti orang tersebut akan di hujani emas atau dimudahkan rejekinya, bukan seperti itu maksudnya. Sebenarnya dengan adanya keris tersebut, seseorang diminta untuk lebih semangat dalam mencari rejeki sampai mendapatkan rejeki seperti hujan emas, itu filosofi sebenarnya. Tapi selama ini justru banyak orang yang salah mengartikan, bahkan ada yang bilang gara-gara keris bisa jadi syirik," tandasnya.

Disebutkan bahwa dengan belajar mengenai keris, bisa dibilang seseorang secara tidak langsung juga belajar adat istiadat atau tatakrama. Contohnya saja, bagamaina cara menyerahkan keris kepada yang lebih tua maupun yang lebih muda, bagaimana cara mengambil keris, maupun cara membukanya, semua itu ada tatacaranya.

Sementara itu, Rafiq juga mengatakan bahwa ia bangga karena kampung halamannya (Sumenep) menjadi pusatnya keris di Indonesia karena hampir disemua desa di Sumenep terdapat pembuat Keris.

"Bisa dibilang kalau di Malang ini adalah cabangnya, sedangkan pusat kerisnya ada di Sumenep sehingga Sumenep dinobatkan sebagai kota keris,"pungkasnya.
[Agus Nurchaliq]
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar: