KAMIS, 4 AGUSTUS 2016

YOGYAKARTA --- Lebih dari 100 negara di dunia dengan 600 bidang kerja atau jabatan yang dibutuhkan, masih terbuka luas bagi para tenaga kerja asal Indonesia (TKI). Sayangnya, kesempatan kerja di luar negeri tersebut belum semua bisa dimanfaatkan, karena minimnya calon TKI yang memiliki kompetensi dan persyaratan kerja yang diharuskan.


Dengan besarnya kesempatan kerja di luar negeri dan minimnya kompetensi yang dimiliki oleh Calon TKI, Badan Nasional Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) melakukan berbagai upaya peningkatan kemampuan (upgrading skill) bagi para calon TKI yang akan bekerja ke luar negeri. Salah satunya peningkatan kemampuan kepada 20 calon TKI di bidang perikanan atau Anak Buah Kapal (ABK) dan nelayan guna memenuhi permintaan tenaga ABK di Negara Korea.

Bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, BNP2TKI menggelar pendidikan khusus bahasa Korea bagi para calon TKI ABK dari beragam latar belakang pendidikan, Kamis (4/8/2016). Pendidikan khusus Bahasa Korea tersebut akan berlangsung selama 2 bulan, dengan standar nilai kelulusan minimum 80 dari skala nilai 200.

Deputi Penempatan BNP2TKI, Agusdin Subiantoro, menjelaskan, program pendidikan khusus Bahasa Korea bagi 20 Calon TKI ABK merupakan upaya meningkatkan kompetensi bidang bahasa asing bagi calon TKI yang dalam waktu dekat akan dikirim ke Korea. Agus mengakui, begitu banyak kemampuan Calon TKI masih harus ditingkatkan. Di bidang bahasa, katanya, penguasaan bahasa asing seperti Inggris, Mandarin, Arab dan sebagainya yang dimiliki oleh calon TKI juga masih sangat rendah. Belum lagi, kemampuan lain seperti keterampilan yang sesuai dengan bidangnya. Karenanya, Agus berharap program upgrading juga akan dilakukan di bidang keterampilan, sehingga tidak hanya dari aspek bahasa.

Terlebih di bidang keterampilan kerja bidang perikanan atau ABK dan nelayan, peningkatan keterampilan sangat perlu segera dilakukan karena besarnya permintaan. Dikatakan Agus, selama ini banyak negara asing membutuhkan tenaga ABK dan nelayan dari Indonesia karena kualitas kerjanya yang memuaskan. 


"Negara Taiwan bahkan membutuhkan ribuan tenaga ABK dan nelayan, sedangkan negara pemasok tenaga kerja ABK dan nelayan hanya Indonesia dan Vietnam. Itu pun mereka masih lebih menyukai tenaga kerja asal Indonesia", ujarnya.

Tenaga kerja asal Indonesia, kata Agus, banyak disukai karena dikenal tekun bekerja sesuai aturan, norma dan perjanjian kerja dan tidak pernah melanggar aturan serta norma. Karenanya, kemampuan para Calon TKI khususnya ABK dan nelayan harus terus ditingkatkan, selain tenaga kerja bidang lain seperti perawat dan lainnya.

Sementara itu, para calon TKI ABK yang hendak diberangkatkan ke Korea kali ini tak hanya dibekali dengan kemampuan bahasa. Namun, juga diberikan pembekalan dan pengenalan adat istiadat, norma, resiko kerja yang mungkin bisa dialami di negara tujuan, yang akan diberikan selama satu minggu sebelum diberangkatkan. 

"Setelah semua lulus dari pembekalan, kita akan kirim berkas dan dokumen calon TKI kepada calon perusahaan yang akan menggunakan TKI. Jadi, calon perusahaan sendiri yang akan menentukan seorang calon TKI itu akan diterima bekerja atau tidak" pungkasnya. (koko)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: