MINGGU, 7 AGUSTUS 2016

LAMPUNG --- Isi kegiatan libur akhir pekan, rumah baca (rubaca) Jalosi Sanak Negeri melakukan pelatihan seni berbasis kewirausahaan. Kegiatan bersifat rekreatif dilakukan dengan memberi pelatihan tekhnik pewarnaan pada kain dengan tekhnik tiedye atau dikenal dengan tekhnik ikat celup.


Penggagas Jalosi Sanak Negeri, Tamar Widadi (25) mengungkapkan, tekhnik pewarnaan pada kain dengan tekhnik tiedye merupakan sebuah kegiatan yang baru pertama kali dilakukan dan diajarkan bagi puluhan siswa yang belajar di Rubaca Jalosi Sanak Negeri. 

Ia mengungkapkan, kegiatan pelatihan pewarnaan tersebut dilakukan setelah pada pekan sebelumnya sebanyak ratusan anak di Desa Desa Tegal Sari 2, Air Kubang- Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

"Selama ini kita sudah banyak memberikan pemahaman kepada seluruh anak yang belajar di Rubaca Jalosi Sanak Negeri akan pentingnya membaca dan belajar, tapi sepekan sekali kita berikan pelatihan yeng bersifat keahlian untuk wirausaha sesuai dengan kondisi di wilayah ini,"ungkap Tamar Widadi saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (7/8/2016).

Aktifitas pelatihan seni pewarnaan pada kain terutama diberikan bagi anak binaan usia remaja yang duduk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang sebelumnya mengikuti workshop seni tiedye yang dilatih oleh sukarelawan dari komunitas Helau Tiedye. Setelah proses memberi gambaran tentang tekhnik pewarnaan pada kain yang menghasilkan karya seni, perpaduan warna, bahan bahan kimia pewarna dan bahan alami, serta tekhnik membentuk pola tersebut secara teoritis, seluruh anak binaan langsung melakukan praktek dengan mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh sebelumnya.

Tekhnik pewarnaan pada kain dengan cara ikat celup menurut Tamar bisa dilakukan oleh segala usia sehingga seluruh anak didiknya bisa melakukan tekhnik tersebut. Beberapa tekhnik yang diajarkan diantaranya pola spiral dasar yang dilakukan dengan mengikat kain warna putih dengan karet. Selain itu tekhnik lain dilakukan dengan ikat celup simpul yang membuat pola warna akan semakin menarik. Selain itu anak anak didik di rumah baca tersebut diajari teknik electrik bunching (pola tak beraturan), pola mawar,pola garis, serta berbagai tekhnik yang membuat hasil warna pada kain menjadi menarik.

"Selama proses pembuatan sebagian menggunakan pewarna kimia, namun pada kreasi selanjutnya kami menggunakan pewarna alami yang diambil dari alam diantaranya dari buah, kunyit, kubis, bunga jagung, kopi, serta daun daunan,"ungkap Tamar.


Setelah dilakukan uji coba terhadap kaos yang telah disiapkan, proses pembuatan karya seni yang bisa diaplikasikan dalam pakaian dan bisa dimanfaatkan tersebut mampu menghasilkan baju baju bernilai seni yang memiliki nilai jual. Selain bisa diaplikasikan pada baju kaos yang bisa digunakan sebagai pakaian, tekhnik pewarnaan dipraktekkan oleh sebagian anak didiknya pada kain lain yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan pembuatan benda kreatif lainnya berupa tas warna warni, sarung bantal warna warni, taplak meja warna warni serta benda seni lainnya yang selanjutnya akan dijual sebagai souvenir di lokasi wisata bendungan Batu Tegi. 

Hasil penjualan dari kreasi anak anak di rumah baca tersebut selanjutnya akan dipergunakan sebagai permodalan dan pengembangan usaha lain yang bisa digunakan untuk pemberdayaan pemuda dan warga di sekitar bendungan batu tegi.

"Selama ini wisatawan yang berkunjung ke bendungan Batu Tegi pulang hanya membawa oleh dokumen foto namun jika karya anak anak di rumah baca ini sudah siap dipasarkan maka pengunjung bisa membeli souvenir berbagai jenis yang merupakan kreasi hasil buatan tangan,"ungkap Tamar.

Upaya yang digagas oleh relawan rumah baca tersebut menurut Tamar, awalnya akan ditularkan kepada anak anak tingkat SMP, SMA serta pemuda pemuda yang berada di sekitar rumah baca tersebut. Kegiatan percobaan pembuatan karya seni tekhnik pewarnaan tersebut merupakan salah satu cara untuk memperoleh penghasilan dengan cara menjual barang barang seni tersebut sebagai cindera mata di tempat wisata bendungan Batu Tegi. Selain itu adanya bantuan alat pembuatan benda seni lain berupa gergaji khusus untuk pengolahan kayu kopi, batok kelapa untuk pembuatan gantungan kunci diharapkan akan semakin menambah banyak item benda benda souvenir yang akan dijual kepada pengunjung.

Ia mengungkapkan langkah pengembangan seni berbasis kewirausahaan tersebut sesuai dengan kearifan lokal masyarakat sekitar yang sehari hari bekerja di kebun sebagai petani kopi. Selain pembuatan benda benda seni, keberadaan pohon mengkudu yang melimpah di lokasi tersebut selanjutnya pemuda pemuda di wilayah tersebut akan melakukan proses pembuatan kopi mengkudu yang memiliki khasiat kesehatan. Selain itu pembuatan barang kerajinan dari batok kelapa sedang berjalan diantaranya pembuatan asbak serta benda seni lain dari limbah pohon kelapa.

"Kita juga tetap berharap ada perhatian dari pemerintah untuk bisa melakukan pendampingan kepada kami dan jika bisa memberi fasilitas untuk pengembangan wirausaha pedesaan bagi para anak anak dan pemuda di sini,"ungkap tamar.


Salah satu siswa SMP yang mengikuti pelatihan pembuatan karya seni tekhnik pewarnaan ikat celup, Andi, mengaku sangat senang bisa belajar membuat benda seni dengan tekhnik yang cukup sederhana. Ia mengaku akan membuat kaos serupa dengan tekhnik ikat celup yang akan dijadikan sebagai contoh bagi kawan kawan yang ada di sekolah. Selain itu ia akan mengajak kawan-kawan yang ada di kelasnya untuk mengembangkan pembuatan kaos dengan nilai seni tekhnik ikat celup sebagai karya siswa.
[Henk Widi]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: