RABU, 24 AGUSTUS 2016

MATARAM --- Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans), Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Wildan mengatakan, sampai saat ini masih banyak di antara masyarakat angkatan kerja NTB yang tingkat pendidikannya masih rendah, mulai dari Sekolah Dasar (SD) ke bawah.


"Data Disnakertrans NTB sampai Februari 2016, ada sekitar 51 persen angkatan kerja di NTB dengan tingkat pendidikan SD ke bawah dari 2,3 juta angkatan kerja" kata Wildan di Mataram, Rabu (24/8/2016)

Tingkat pendidikan yang masih rendah tersebut mengakibatkan sebagian masyarakat hanya bisa bekerja di sektor non formal, seperti buruh perkebunan kelapa sawit dan perkebunan saat menjadi TKI

Dikatakan, tingkat pendidikan yang masih rendah tersebut secara langsung juga berpengaruh terhadap jumlah upah yang diterima masyarakat NTB yang bekerja sebagai TKI juga rendah

"Masalah keterampilan yang minim juga menjadi persoalan, karena itulah keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK) dan lembaga pendidikan keterampilan terkait terus dimaksimalkan untuk memberikan bekal kepada masyarakat, terutama yang hendak menjadi TKI ke luar negeri" pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur NTB, Muhammad Amin mengatakan, untuk menekan jumlah TKI tidak kembali lagi menjadi TKI, selain membantu TKI dalam hal pengelolaan remitasni, juga harus didorong menjalankan usaha ekonomi produktif, supaya bisa lebih mandiri
(Turmuzi)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: