JUMAT, 19 AGUSTUS 2016

MAUMERE --- Pada tahun 70 hingga 80-an Maumere sudah terkenal sebagai salah satu destinasi selam di Indonesia bahkan lebih dulu terkenal daripada Bunaken

Perairan sekitar pulau Babi yang merupakan salah satu spot terbaik lomba foto.
Adanya gempa dan tsunami yang mengguncang Maumere dan Flores tahun 1992 menyebabkan terumbu karang dan alam bawah laut teluk Maumere mengalami kerusakan.

“Belakangan ini mulai sehat kembali dan bisa menarik minat para penikmat wisata bawah laut,” ujar Fahrian Rambe 

Salah satu pantia penyelenggara lomba foto bawah laut teluk Maumere yang ditemui Cendana News, Jumat (19/8/2016) ini mengatakan, lomba foto diadakan untuk memberitahukan dan memperkenalkan kepada masyarakat dunia bahwa alam bawah laut teluk Maumers sudah kembali indah.

Fahrial Rambe panitia penyelenggara lomba foto bawah laut
Selain karangnya yang sudah tumbuh, sebut Fahrial, dampak tsunami menyebabkan patahan-patahan yang menarik. Ada tebing dengan jarak panjang yang jauh serta Sipen dan Spons yang berukuran besar 

Mengenai lomba foto bawah laut, kepala bidang selam ini menyebutkan, lomba diadakan dalam 2 kelas ada 2 kelas yakni kelas DLSR dan pocket kamera.

“Masing-masing kelas ada dua kategori yakni white dan makro dimana white memotret panorama bawah laut sementara makro memotret sesuatu yang kecil-kecil dan unik,” terangnya.

Dalam sehari tambah Fahrian, idealnya 2 kali dive maka sehingga dengan waktu 3 hari dibutuhkan 6 spot dimana kategori spot white ada 4 dan berada di sekitar Pulau Babi sementara duanya makro. Pulau Babi ada 3 lokasi yakni Pulau Babi uatara, barat dan selatan serta sisanya di Tanjung Darat, Wairmitak dan Likot.

“Spot ini dipilih karena tidak terlalu jauh mengingat waktu lomba yang singkat. Memang masih banyak spot yang menarik seperti di Pulau Besar, Pemana, Pangabatang dan Apel namun jarakanya sangat jauh,” tuturnya.

Peserta lomba foto bawah laut sedang bersiap melakukan lomba
Fahrial menjelaskan lebih lanjut,  peserta lomba foto sangat antusias, banyak yang mendaftar tapi panitia membatasi hanya 30 orang. Peserta disaring dengan memilih fotografer yang berpengalaman serta pernah menjadi juara di ajang-ajang sebelumnya. Fotografer yang sudah cukup senior terkait foto bawah laut.

“Dengan adanya lomba ini kita harapkan mereka bisa menjual potensi wisata bahari di Sikka agar kembali dikunjungi wisatawan,” ungkapnya.

Ahli selam ini berharap agar lomba seperti ini jangan hanya diadakan sekali saja tapi minimal 5 tahun dan dilakukan setiap tahun agar obyek wisata bawah laut bisa terkenal.

Raja Ampat pun kata Fahrial, setelah pihaknya lima kali melakukan lomba foto bawah laut baru bisa dikenal di dunia. Ajang Festival Teluk Maumere dan lomba foto bawah laut merupakan satu cara meningkatkan pariwisata di daerah ini.

“Peran pemerintah daerah sudah cukup bagus dimana dengan mengadakan festival ini pemda peduli dengan pariwisata di daerah tersebut,” pungkasnya. (Ebed de Rosary)
Bagikan:

Andhitya Maulana

Berikan Komentar: