MINGGU, 21 AGUSTUS 2016

SOLO --- Berkunjung ke Karanganyar, Jawa Tengah tidak lengkap rasanya kalau tidak mencicipi ikon kuliner khas dari lereng Gunung Lawu ini, apalagi kalau bukan Ayam Bledhek. Dari namanya saja sudah bisa ditebak  rasa pedas menjadi daya tariknya. Namun jangan salah, proses pembuatan Ayam Bledhek ini masih dilakukan secara tradsional, yakni menggunakan kayu bakar serta bumbu rempah pilihan.


Nasution selaku owner dari Ayam Bledhek menjelaskan, selain tidak menggunakan bahan pengawet, Ayam Bledhek di masak secara tradisional dengan  menggunakan bumbu rempah pilihan. Seperti serai, kunyit, daun salam dan garam. Karena tidak menggunakan bahan pengawet, dalam kondisi belum di goreng ayam ini hanya mempunyai kekuatan setengah jam.

Bahan baku ayam yang di gunakan pun juga berbeda dengan ayam goring pada umumnya. Yakni menggunakan ayam afkir, ayam petelur yang sudah tidak produktif lagi. Ayam harco atau ayam petelur ini dikenal mempunyai tekstur daging yang keras atau alot. Tapi kalau dimasak dengan teknik yang benar, rasanya tidak jauh beda dengan ayam Jawa. 

“Ketika sudah matang serat dan warna tekstur daging serta rasanya nyaris sama dengan ayam Jawa,” ungkap Nasution kepada Cendana News, Minggu pagi (21/8/16).

Dijelaskan lebih rinci, proses memasak Ayam Bledhek ini  dengan menggunakan cara tradisional ini menggunakan kayu bakar pilihan. Selain irit biaya, penggunaan kayu bakar pilihan dapat meberikan panas yang lebih stabil dan membuat ayam menjadi lunak hingga bumbu rempah masuk hingga ke tulang. 

“Ini karena ayam ini direndam bersama rempah bumbu kurang lebih selama 8 jam. Penggunaan kayu bakar memberikan kesan rasa yang berbeda dari pada memakai mesin presto daging. Sehingga ayam yang semula alot menjadi lunak dan bumbunya bisa merasuk hingga ke tulang,” terangnya.

Selain memakai ayam yang berbeda dari warung lainya, yang khas dari ayam bledhek adalah sambalnya. Sambal ayam bledhek adalah sambal mentah dengan memakai cabai pilihan. Sehingga pedasnya ayam bledhek ini memang special dan membikin ketagihan. Bisnis kuliner ini dirintis dari sebuah usaha distributor ayam merah atau ayam petelur. 

“Namun sejalan dengan waktu, saya kembangkan usaha dengan membuka kuliner ayam yang kemudian diberi nama ayam bledhek,” urainya .

Tingginya respon masyarkat dengan Ayam Bledhek  ini hingga mempunyai cabang di sejumlah Kecamatan di Kabupaten Karanganyar. Warung makan ayam bledhek di Karangpandan, tepatnya di jalan raya Solo- Tawangmangu merupakan cabang pertama yang dibuka. Menyusul kemudian beberapa Kecamatan lainya di wilayah Kabupaten Karanganyar.  

“Di Karanganyar sendiri ayam bledek sudah memiliki 3 cabang yang ada di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Karangpandan, Kecamatan Jumapolo dan Kecamatan Jumantono,” tambahnya.


Untuk satu ayam lengkap dengan nasinya dihargai cukup murah, yakni hanya Rp 17 ribu. Namun jika pembeli menginginkan ayam bledhek ingkung satu ekor dihargai Rp 65 ribu. Untuk pelanggan ayam bledhek ini ada yang lokal maupun luar kota. Untuk pelanggaran luar kota mayoritas berasal dari berbagai kota seperti dari Jogja, Solo, Semarang dan beberapa kota di Jawa Timur. 

“Umumnya mereka datang untuk berlibur ke Tawangmangu atau Kemuning kemudian mampir ke ayam bledek. Bahkan sekarang Ayam Bledhek sekarang ini sudah menjadi icon di Karanganyar,” tandasnya.
[Harun Alrosid]
Bagikan:

Cendana News

Berikan Komentar: